Ilmu Tidak Cuma Dalam Kelas

0
280
Renungan malam. f-Kobar untuk tanjungpinang pos

Komunitas Belajar (Kobar) Tanjungpinang

ADA sekolompok pemuda yang merasa pembelajaran dalam kelas itu cukup. Ada sekelompok pemuda yang merasa pelajaran sesungguhnya adalah di alam bebas. Ada sekelompok pemuda yang menggabungkan pembelajaran dalam kelas dan alam bebas sebagai modal berkehidupan.

Sekiranya menggunakan kualifikasi di atas, maka anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Belajar (Kobar) Tanjungpinang ada di kelompok terakhir: perpaduan pengalaman belajar dalam kelas dan di alam bebas adalah sebaik-baiknya bekal menuju pengalaman berkehidupan yang lebih panjang.

Mereka meyakini transfer ilmu atau berbagi pengalaman tidak melulu harus tersekat dinding sebuah ruang. Justru, belajar dan berbagi adalah keharusan selama masih memijakkan kaki di atas bumi dan bernapas di bawah kolong langit ini.

“Itulah mengapa kami tidak membatasi warna almamater sebagai sesuatu yang membedakan. Di sini, semua mahasiswa dari macam-macam kampus ada,” kata Rully Permana sebagai Ketua Kobar Tanjungpinang.

Rully sendiri berasal dari Fakultas Hukum UMRAH Tanjungpinang. Lalu 30 teman lainnya dalam tubuh Kobar ada yang dari STAI, Stisipol Raja Haji, hingga STIE Pembangunan. Warna jaket almamater mereka niscaya berbeda, tapi tujuan mereka selalu sama: menggelorakan semangat belajar pemuda. Utamanya dalam menekuni segala sesuatu yang tidak pernah diajarkan maupun didapatkan dari dalam kelas belaka.

“Di Kobar, kami saling berbagi dan belajar banyak hal yang memang akan susah didapatkan di kelas. Itu yang membuat teman-teman antusias,” ujar Rully.

Agendanya bermacam-macam. Mulai dari diskusi rutin mingguan, sampai kelas-kelas belajar bersama pakar. Ada kelas menulis, kelas bahasa Inggris, dan bahkan kelas sosial. Malah ada pula kegiatan keagamaan untuk memperteguh keimanan seperti pembacaan QS Yasin rutin tiap malam Jumat. Yang tidak kalah memikat dan selalu ditunggu-tunggu, Kobar juga seringkali memfasilitasi pembelajaran kewirausahaan agar pemuda siap menatap persaingan ekonomi global.

Kegiatan seperti menonton film bersama bahkan bukan sekadar hiburan. Melainkan ada suatu pembelajaran yang disajikan. Misalnya, akhir pekan lalu mereka menggelar acara nonton bareng film Istirahatlah Kata-kata yang berkisah seputar aktivis cum penyair Wiji Thukul. Dari diskusi film ini, anak-anak muda jadi bisa mengetahui lebih banyak soal represi Orde Baru. Suatu masa ketika mungkin sebagian besar dari mereka masih berusia bocah atau malah belum dilahirkan.

Mengetahui tentang segala, berbuat apa yang bisa, menjadi pelecut semangat bagi pemuda yang tergabung di Kobar Tanjungpinang. Pelajaran-pelajaran dalam kelas diaplikasikan jadi pengalaman dalam kehidupan dan lantas dibagi-bagikan. Rully mengatakan, bersama sejumlah tokoh pemuda di Tanjungpinang, kegiatan positif yang dari waktu ke waktu dilaksanakan semakin menyenangkan.

Salah seorang tokoh pemuda yang ikut menginisiasi Kobar adalah Arie Sunandar. Menurutnya, minat anak-anak muda untuk terus mau dan mau belajar itu mesti disokong. Pelajaran dalam kelas, kata dia, tidak pernah cukup untuk modal kehidupan ke depan. “Maka perlu ditunjang dengan belajar banyak hal di luar kelas,” ucapnya.

Selama ini, sambung Arie, minat semacam itu yang masih terasa kurang di lingkup pemuda Tanjungpinang. Maka melalui keberadaan Kobar, ia berharap semangat belajar itu bisa menular.

“Sungguh rugi menjadi pemuda yang waktunya habis buat main saja dan tidak pernah menyisakannya buat belajar sebagai bekal kehidupan,” pungkasnya. (fatih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here