Ilusi Negara Bebas Narkoba

0
652
Rikson Pandapotan Tampubolon

Oleh: Rikson Pandapotan Tampubolon
Ketua Cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Batam

Penangkapan barang bukti berton-ton narkoba belakangan ini laksana pedang bermata dua. Di satu sisi kita bahagia mengapresiasi aparat penegak hukum kita yang sigap menangkap para bandar/penyalur narkoba tersebut. Di sisi lain, ada perasaan getir memandang kengerian negara kita sebagai surga bagi tujuan dan jalur barang haram tersebut.

Ceritanya—Tidak berselang lama—, penangkapan 1,6 ton sabu-sabu di perairan Anambas muncul setelah penangkapan 1 ton narkoba di perairan Batam. Sebelumnya juga kita mendengar, di Jakarta terjadi penangkapan berton-ton ganja dan narkoba. Belum termasuk pengungkapan/penangkapan kasus-kasus dalam ukuran “kecil” yang terungkap. Sungguh pemandangan yang mencemaskan.

Sepertinya barang haram tersebut, bisa dengan mudahnya masuk dan berkeliaran bebas memenuhi negeri ini. Tak khayal, bagi para bandar dan penggunanya Indonesia diibaratkan sorga bagi penikmat barang haram ini.

Akibatnya sudah bisa dibayangkan, masa depan bangsa ini yang akan menjadi pertaruhannya. Anak-anak negeri ini, khususnya para pewaris masa depan bangsa ini akan diperhadapkan dengan lingkungan yang tidak mendukung bagi keberlangsungan negeri ini. Kita tentu tidak menginginkan pemuda-pemudi kita terbelit oleh persoalan barang haram ini, yang menambah runyam menyambut masa keemasan kita kedepan.

Darurat Narkoba
Menurut laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), setiap narkoba yang berhasil diamankan oleh petugas, 80 persennya dianggap sudah beredar di masyarakat. Artinya, penangkapan yang terjadi belakangan ini, mengindikasikan 80 persennya telah beredar luas di masyarakat. Berton-ton yang terungkap belakangan ini, kalau memakai pendekatan ini tentu kita membayangkan puluhan tentu sudah beredar luas dimasyarakat. Dan kita adalah korbannya.

Inilah gambaran kenapa dunia melalui lembaganya UNODC mengatakan Indonesia sebagai salah satu surga obat-obat terlarang tersebut. Menurut World Drugs Report 2015 yang diterbitkan UNODC, diperkirakan 246 juta orang atau 5,2 persen populasi penduduk dunia, satu dari 20 orang yang berusia 15-64 tahun pernah menyalahgunakan narkoba. Begitu juga di Indonesia.

Menarik untuk mengamati pernyataan Troel Vester (Kordinator Indonesia untuk UNODC) yang mengatakan, “Indonesia sekarang telah menjadi salah satu jalur utama dalam perdagangan obat bius. Banyak obat bius diperdagangkan dan diselundupkan oleh sindikat internasional yang terorganisasi, terutama karena ada permintaan cukup tinggi dan Indonesia punya populasi muda yang besar dan menjadi pasar narkoba yang besar juga.”

Indonesia akan memasuki era yang namanya Bonus Demografi. Dimana akan terjadi berlimpahnya jumlah angkatan kerja produktif, yang puncaknya terjadi diantara tahun 2020-2030. Bonus yang jarang terjadi ini apabila tidak dipersiapkan secara baik, tentu bisa menjadi malapetaka bagi negeri ini. Tentu kita tidak mengingini putra-putri bangsa ini—yang diharapkan menjadi pendorong roda pembangunan—terbelit oleh persoalan ketidakseriusan dari masa lalu kita.

Ironisnya, sejak tahun 1971Indonesia sudah dinyatakan darurat narkoba. Ketika itu, Presiden RI ke-2 Soeharto yang menyatakan Indonesia sedang dalam kondisi darurat narkoba. Namun kenyataannya, pertumbuhan dalam pemberantasan narkoba ini belum menemui titik kejelasan. Tidak ada peta jalan (road map) dalam upaya pemberantasan narkoba ini, membuat penangkapan narkoba yang ada seperti pemadam kebakaran. Terkesan sporadis dan sarat kesan pencitraan/dijadikan ajang promosi jabatan.

Fenomena gunung es penyalagunaan narkoba ini semakin lama, semakin merusak generasi masa depan bangsa dan negara ini. Semua lapisan umur sudah dijangkitinya, mulai dari anak-anak, pemuda, sampai orang tua menjadi mangsa barang haram tersebut. Tidak hanya orang kaya atau para pesohor negeri ini, orang miskin juga sudah dijangkiti bahaya narkoba. Sekarang semuanya merata. Masih membekas diingatakan kasus Pil PCC yang memakan korban anak-anak belum lama ini.

Demikian masifnya penyalagunaan narkoba ini telah merasuki jiwa-jiwa anak-anak bangsa ini. Semakin lama keseriusan penanganannya akan membuat semakin banyak jiwa yang berjatuhan dan menambah suram wajah masa depan ibu pertiwi. Dibutuhkan upaya keseriusan yang nyata, dalam membongkar jaringan-jaringan narkoba yang sudah terungkap selama ini. Jangan hanya berhenti pada oknum-oknum penyalur atau pemakai barang haram tersebut.

Perang terhadap Narkoba
Kita tentu mengapresiasi upaya pengungkapan dan penangkapan barang tersebut belakangan ini. Kita melihat adanya upaya kerjasama sama lintas sektor aparat penegak hukum kita dalam memberantas peyalagunaan narkoba.

Badan Narkotika Nasional dibawah komando Komisaris Jendral Budi Waseso telah mengangkat bendera perlawanan terhadap para bandar-bandar narkoba. Cuma dibutuhkan kepemimpinan yang efektif menggerakkan sumber daya yang ada, terutama aparat penegak hukum kita untuk bahu-membahu dalam memberantas narkoba ini.

Perang terhadap pemberantasan narkoba harus menjadi perhatian pemimpin tertinggi di republik ini. Hukuman tembak mati ternyata tidak memberikan dampak yang cukup signifikan dalam pemberantasan narkoba.

Kepemimpinan Duterte, presiden Filipina dalam memimpin pemberantasan narkoba boleh kita contoh semangatnya. Keseriusan yang ditunjukkan dalam menumpas gembong-gembong narkoba di negara telah memberikan angin segar bagi pemberantasan narkoba di Filipina. Terlepas dari pro dan kontra, isu pelanggaran HAM dalam upaya penanganan tersebut. Semangat revolusioner pemberantasan itu boleh dituangkan dalam roadmap yang terukur dan terencana.

Presiden kita harus ikut memimpin upaya pemberantasan narkoba yang sudah merajalela di negara ini. Political will yang kuat harus ditunjukkan pemimpin kita dinegeri ini agar memberikan kesadaran kolektif bangsa ini memerangi narkoba. Budaya permisif terhadap pemberantasan narkoba ini harus direvitalisasi oleh kesadaran baru yang terukur dan terencana.

Aparat penegak hukum sebagai garda terdepan dalam pemberantasan narkoba. Semakin meningkatkan performanya dalam pemberantasan tindak kejahatan yang satu ini. Dimulai dari bersih-bersih dalam tubuh penegak hukum itu sendiri. Kita tentu tidak boleh menutup mata dengan adanya anggapan masyarakat, oknum penegak hukum ada yang turut bermain dalam kasus ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemimpin yang baik, akan menciptakan prajurit yang baik.

Berangkat dari kasus penangkapan yang ada. Pintu-pintu perbatasan kita masih menjadi kendala yang cukup berarti dalam mengontrol peredaran barang haram tersebut. Menjaga pintu-pintu masuk negara kita adalah sebuah keniscayaan dalam mengontrol peredaran barang haram tersebut. Segenap instansi yang berkepentingan menjaga keluar masuk pintu gerbang resmi, maupun pintu-pintu “tikus” harus diantisipasi sebaik mungkin.

Tidak kalah penting, memberikan edukasi dan membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya penyalagunaan narkoba harus menjadi program prioritas dalam upaya menyelamatkan masa depan bangsa dan negara ini kedepan. Bangsa ini perlu lingkungan yang sehat bebas dari narkoba dalam menyambut cita-cita negara bangsa yang besar ini menyambut satu abad kejayaan bangsa ini. Generasi ini perlu diselamatkan agar ilusi negara bebas narkoba tidak menjadi kebenaran yang menyakitkan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here