Impor Diperketat, Gubernur Pasti Paham Keluhan Pengusaha

0
464
JARING BILIS: Nelayan tradisional Bintan menjaring ikan bilis, di perairan Bintan. f-yendi/tanjungpinang pos

KIJANG – Sejak impor barang diperketat, sejumlah tauke ikan di Bintan tak mau rugi, dalam menjual ikan berkualitas ekspor tangkapan nelayan tradisional. Justru itu, pengusaha mengurangi jadwal pembelian ikan ke Tambelan, maupun Anambas dan Natuna.

Seorang pengusaha perikanan Berakit yang enggan ditulis namanya menjelaskan, hampir seluruh pengusaha menjemput ikan ke Tambelan, Natuna atau Anambas dalam kurun waktu yang lama. Karena, barang yang dibawa dari Bintan maupun dari Tanjungpinang ke Kecamatan Tambelan, Natuna maupun Anambas jumlahnya sedikit.

”Kami ke Tambelan atau Anambas maupun ke Natuna, tidak hanya untuk membeli ikan kualitas ekspor nelayan. Kami juga bawa barang ke daerah itu. Kalau hanya untuk beli ikan, ya kami tentu rugi. Tidak bisa menutupi ongkos. Gubernur Kepri pasti paham ini,” kata sumber, kemarin.

Sementara, barang yang mau dibawa ke Tambelan, Natuna dan Anambas sangat sedikit. Bahkan tidak ada barang yang ingin dibawa. Karena, barang yang biasa dibawa ke daerah-daerah pulau itu, merupakan barang impor dari Singapura dan Malaysia. Jika barang sembako yang dibawa ke pulau berasal dari Jawa, harganya jauh lebih mahal. Sementara, warga Kepri yang berada di daerah pulau itu, sangat mengharapkan pasokan barang dari Tanjungpinang dan Bintan.

Sebelum ada larangan impor, menurutnya, para pengusaha lancar membawa barang ke Natuna dan Anambas, maupun ke Tambelan. Saat kembali ke Bintan, pengusaha bawa ikan nelayan daerah pulau untuk diekspor. Sejak impor diperketat, pasokan dan ekspor ikan pun macet. ”Kalau mau lancar, ya pemerintah yang harus buat kebijakan khusus untuk Kepri ini. Buka keran impor dan ekspor yang tidak menyulitkan pengusaha. Kami tak mau tekor saat membeli ikan ke pulau, tanpa membawa barang impor,” jelasnya.

”Pak Gubernur H Nurdin Basirun kan orang pelaut, pasti tahu seperti apa bisnis barang di Kepri ini, dan paham keluhan pengusaha. Kepri sangat bergantung dengan barang impor. Mudahkan juga ekspor ikan di Kepri ini,” sambungnya.

Sebelumnya, Ketua HNSI Bintan Baini mengatakan, sejak impor barang diperketat, pasokan garam untuk nelayan tak lancar. Sehingga harga naik lebih dari 100 persen. Kondisi itu menyulitkan bagi HNSI produksi es dan nelayan tangkapan bilis. (fre)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here