Imunisasi MR Kepri Terendah Indonesia

0
146
SISWI Tanjungpinang saat disuntik vaksin MR, belum lama ini. f-andri/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Imunisasi vaksin Measle Rubella (MS) di Provinsi Kepri terendah di Indonesia. Hingga saat ini baru tercapai 41 persen dari 608 ribu anak di Kepri yang akan disuntuk vaksin MR.

Adapun persentase pemberian vaksin MR di tujuh kabupaten/kota di Kepri, yakni, Tanjungpinang 64,53 persen, Batam 39,1 persen, Karimun 36,70 persen Bintan 45,85 , Lingga 40,77 persen, Anambas 60,11. Yang terendah Kabupaten Natuna 9,4 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri, Tjetjep Yudiana mengatakan, Pemprov Kepri melakukan Dinkes meminta pemerintah pusat menunda waktu sebulan ke depan untuk mengejar target pelaksanaan MR imunisasi di Kepri.

Saat ini masing-masing kabupaten/kota masih terus melakukan sosialisasi sampai dengan pemberian vaksin.

Tjetjep mengatakan, bahwa penerapan pemberian vaksin MR di wilayah Kepri masih rendah dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia. Untuk itu, kata dia, Kepri masih diberikan kesempatan untuk mengejar target tersebut. ”Besar harapan kita, persentasi Kepri tidak terendah dibandingkan dengan provinsi lain dengan adanya tambahan waktu nanti,” ujarnya, kemarin.

Berbagai problem yang dihadapi petugas di lapangan. Baik itu terkait isu tidak boleh dilakukan vaksin karena fatwa MUI. Bahkan petugas diminta tidak menyentuh anak mereka karena menolak untuk divaksin.

Tjetjep menjelaskan, virus rubella ini sangat berbahaya bagi karena penularannya melalui udara. Dampaknya bisa menyebabkan si anak tumbuh tidak normal.

Bahkan, jika virus tersebut diidap ibu hamil akan berdampak tidak sehatnya janin hingga terjadi keguguran. ”Kita harus mengerti dampaknya bagi kesehatan. Makanya, vaksinasi itu penting dilakukan,” katanya.

Ia menerangkan, selama tiga tahun terakhir tercatat 270 orang positif rubella dan 400 terkena campak. Hal ini tentu saja menjadi kekhawatiran pemerintah, supaya penyebaran virus ini tidak terus meningkat.

”Di Tanjungpinang saja 12 orang terkena rubella. Dan itu sepanjang 2018 saja,” ungkapnya.

Nah, untuk mengatasi hal itu, Tjetjep mengatakan, betapa pentingnya mencegah penularan virus tersebut dengan memberikan vaksin MR bagi masyarakat.

Namun, pemberian vaksin tersebut di berbagai wilayah mengalami hambatan. Termasuk wilayah Kepri. Dimana, masih banyak masyarakat yang menolak divaksin akibat masih memikirkan status haram vaksin MR itu.

Akibatnya, pemberian vaksin di Kepri masih tergolong rendah. Yakni pada angka 41 persen. Padahal, ditargetkan hingga akhir September ini pemberian vaksin di tujuh kabupaten/kota hingga 95 persen.

”Padahal penyakit virus rubella ini tidak ada obatnya. Kita hanya bisa mencegah. Saya harap semua mendukung. Yang tidak dukung, semoga keluarganya tidak terkena dampak campak dan rubella ini,” terang Tjetjep.

Tjetjep menambahkan, untuk mengatasi persoalan dan tidak menambah korban akibat virus rubella dan campak ini, pihak Dinkes akan menambahkan waktu untuk pemberian vaksin hingga akhir Oktober mendatang.

Dirinya pun mengimbau warga agar dapat membawa anak-anaknya untuk diberikan vaksin di posyandu atau puskemas terdekat. ”Kita akan layani. Karena, kita juga tidak mau korban akibat virus ini bertambah,” harapnya. (ais)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here