Imunisasi MR Rendah, Padahal Darurat

0
130
IMUNISASI MR di posyandu PerumBintan Permai. f-martunas/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Imunisasi vaksin Rubella (Vaksin MR) di Provinsi Kepri masih rendah. Laporan terakhir dari 7 kabupaten/kota di Kepri dan 53 puskesmas, imunisasi MR di Kepri sekitar 39,1183 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri, Tjetjep Yudiana MKes mengatakan, rendahnya imunisasi ini di Kepri salah satunya karena daerah sempat menghentikan imunisasi tersebut akibat belum keluarnya fatwa halal dari Majelis Ulama Islam (MUI).

Namun, setelah MUI mengeluarkan fatwa halal dan membolehkan penggunaan vaksin tersebut, progres imunisasi tetap melambat di Kepri. Bahkan, Kepri salah satu provinsi di Indonesia yang lambat pergerakannya.

Padahal, pemerintah sudah menyiapkan 3.389 orang tenaga medis untuk menyuntik vaksin ini kepada 605.493 sasaran anak di Kepri yang berusia 9 bulan hingga 15 tahun.

Tjetjep mengatakan, sejauh ini banyak kepala daerah yang mendukung program nasional tersebut. Namun ada juga kepala daerah yang acuh. Padahal, imunisasi ini sangat penting untuk kesehatan dan keselamatan warganya ke depan.

”Kasihan masyarakat nanti. Padahal, kita ingin menuntaskan agar campak dan rubella ini bebas di Kepri. Sehingga ke depan, tidak ada lagi anak-anak kita yang dungu, rusak pendengaran dan lainnya,” ujar Tjetjep, kemarin.

Petugas kesehatan yang disiapkan pemerintah pun mengalami banyak kendala di lapangan. Berdasarkan laporan yang masuk ke Tjetjep, kadang orangtua siswa bahkan tokoh masyarakat yang menghentikan imunisasi ini di satu sekolah.

”Banyak tantangan petugas kita di lapangan. Mereka datang ke sekolah, saat mau imunisasi, tiba-tiba dilarang sama orangtua siswa. Kadang tokoh masyarakat yang datang. Padahal, ini untuk kebaikan anak-anak kita,” keluhnya.

Soal enzim hewan haram yang ada di vaksin tersebut, kata dia, sampai saat ini belum ada vaksin lain untuk menggantikannya. Sehingga, MUI pun mengeluarkan fatwa bahwa vaksin tersebut bisa digunakan dengan alasan darurat. Ia berharap, kepala daerah maupun tokoh masyarakat makin gencar melakukan sosialisasi pentingnya imunisasi tersebut. Apalagi, saat ini belum ada obak campak dan rubella tersebut.

Dijelaskannya, ketika tim medis turun ke lapangan, mereka terlebih dahulu memaparkan apa manfaat imunisasi ini. Mereka juga menyampaikan pencegahan DBD sehingga bisa jadi bekal masyarakat.

Imunisasi MR ini dimulai 1 Agustus dan sesuai perjanjian dengan WHO dan Unicef, imunisasi ini harusnya berakhir 30 September ini dengan target capaian 95 persen.

Namun, dengan progres belum sampai 40 persen dan waktu pelaksanaan dua minggu lagi, maka target itu sulit tercapai. Ketika ditanya apakah imunisasi ini diperpanjang waktunya, Tjetjep mengatakan, saat ini sedang dibahas pemerintah.

”Karena ini juga dipantau WHO melalui Unicef, maka harus dibahas lagi. Pemerintah sudah berusaha, namun masih banyak warga yang belum bisa menerimanya. Perlu dukungan bersama untuk menyukseskan imunisasi ini,” harapnya. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here