Independensi Partai Politik Ala Mahasiswa

0
265
Yeni Suseno

Oleh: Yeni Suseno
Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UMRAH Tanjungpinang

Partai politik (parpol) erat kaitannya dengan mahasiswa. Dalam sejarahnya, sejak partai politik mulai menjamur di awal kemerdekaan Indonesia, sejak saat itu pula ada beragam organisasi ‘politik’ mahasiswa yang muncul dan disokong oleh parpol.

Sebut saja Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang dulu punya hubungan khusus dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Ada banyak motif dari keberadaan organisasi ‘politik’ mahasiswa ini. Mulai dari lahan pengkaderan untuk regenerasi demi keberlangsungan partai. Atau hanya sekadar untuk meraup suara kala pemilihan umum.

Ada pula yang pendiriannya terpisah, namun mengusung idelogi yang sama atau mirip sehingga punya hubungan secara tidak langsung. Misalnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengaku berdiri sendiri dan tak punya organisasi sayap, namun sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa yang aktif berkontribusi di organisasi berbasis Islam seperti Kelompok Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) atau Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI).

Secara strukturalnya pun tak sama. Ada organisasi mahasiswa yang terang-terangan dibawahi partai politik seperti Liga Mahasiswa NasDem dari Partai NasDem.

Namun kebanyakan tidak punya hubungan secara secara struktural dan hanya punya garis koordinasi seperti Satuan Mahasiswa (Satma) Taruna Merah Putih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Satma Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

Sesungguhnya keberadaan mahasiswa sebagai kloni-kloni dari parpol adalah posisi yang dilematis. Idealnya, mahasiswa punya posisi yang netral dalam tataran perpolitikan suatu negara. Ibaratnya, suara mahasiswa adalah suara “Tuhan”, dalam artian suci dan tidak memihak. Mahasiswa adalah motor penggerak yang menjadi penyampai aspirasi rakyat kepada pemerintah.

Namun terjun langsung dalam dunia perpolitikan adalah hak setiap orang termasuk mahasiswa yang tak bisa dikebiri oleh siapa pun. Memang, mayoritas mahasiswa yang bergabung dengan organisasi ‘politik’ mahasiswa punya niat belajar berpolitik, meskipun setelah itu tak jarang dari mereka yang benar-benar ambil bagian dalam parpol.

Secara harfiah, independensi berarti mandiri dan tidak memihak. Sementara politik adalah alat atau cara untuk mencapai tujuan. Seperti yang kita ketahui, keberadaan parpol adalah untuk mengusahakan berbagai macam cara bagi partai dan perwakilannya agar dapat memegang kuasa.

Setiap akan diadakannya pemilihan para pemimpin misalnya, ada kampanye yang gencar dilakukan. Mulai dari pasang baliho, bagi-bagi kaos, acara amal dan sebagainya. Lalu, jika parpol tersebut kalah atau menjadi oposisi, kerap ada aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa untuk mengkritisi kebijakan pemerintah namun sesungguhnya adalah ‘suruhan’ parpol.

Namun kembali lagi, independensi sesungguhnya bukanlah dilihat dari terlibat atau tidaknya seseorang dengan parpol. Independensi sesungguhnya adalah dari segi pemikiran. Mahasiswa boleh saja belajar berpolitik melalui organisasi ‘politik’ mahasiswa maupun parpol yang ada, namun harus mengingat jati dirinya sebagai perpanjangan tangan bagi aspirasi masyarakat.

Misalnya melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak memberi keuntungan bagi masyarakat, bukan hanya sekadar kepentingan partai. Mahasiswa juga bisa jadi media pemantau karena punya posisi tawar untuk mengkritisi kebijakan parpol apabila tak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu juga dapat memberi masukan dan saran untuk setiap kebijakan baru yang dibuat oleh parpol. Apa pun itu, yang penting harus menyuarakan kepentingan masyarakat banyak.

Namun, dalam praktiknya, mahasiswa dengan independensi ideal macam di atas masih sulit ditemukan. Alih-alih menyuarakan kepentingan masyarakat banyak, mereka ikut-ikutan berjuang untuk memperoleh kekuasaan kelompoknya.

Tak usah lihat contoh besar. Tengok saja saat pemilihan gubernur di fakultas, yang terpenting itu bukan lagi mencari pemimpin ideal bagi mahasiswa, melainkan bagaimana caranya agar kelompok yang mereka usung bisa memegang kuasa. Dari wilayah yang kecil saja independensi mahasiswa sudah mulai kabur, apalagi kalau kita lihat secara perpolitikan negara.

Semoga saja, di antara mahasiswa yang ingin belajar berpolitik masih ada yang punya pemikiran untuk menjunjung hak masyarakat. Lalu pemikiran itu bisa ia tularkan pada kawan sekelompoknya, kemudian perlahan-lahan peran mahasiswa sesungguhnya bisa kuat kembali.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here