Indonesia Pasar Besar Narkoba

0
401
GUBERNUR Kepri H Nurdin Basirun, Kapolri Jendral Tito Karnavian, Menkeu Sri Mulyani dan pejabat lainnya saat menyampaikan keterangan tentang penangkapan sabu 1,6 ton di Pelabuhan Sekupang, Jumat (23/2). f-martua/tanjungpinang pos

Kapolri: Membahayakan, Penyelundup Tembak di Tempat

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi dan penduduknya yang padat menjadi target pasar para mafia narkoba untuk memasok barang haram tersebut ke negara ini.

BATAM – PARA mafia menjadikan Indonesia pasar besar narkoba. Sehingga, sabu yang dikirim ke Indonesia berton-ton. Sekali tangkap, nilainya sangat besar. Hal ini juga yang membuat Kapolri Jendral Tito Karnavian marah dengan ulah para pelaku.

Penangkapan sabu seberat 1,622 ton oleh Satgas Mabes Polri dan Bea Cukai dari sindikat narkotika internasional beberapa waktu lalu membuat Kapolri, Jenderal Tito Karnavian marah terhadap pelaku.

Diperintahkan, jika dalam penindakan pelaku penyelundup sabu dinilai ada perlawanan yang membahayakan, aparat diperintahkan untuk melakukan tembak di tempat. Penegasan itu disampaikan Tito Kanavian di Batam, Jumat (23/2). Saat itu, Tito didampingi Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Gubernur Kepri, H Nurdin Basirun bersama FKPD Kepri dan Batam.

”Saya perintahkan, kalau membahayakan, tembak di tempat,” tegas Tito terkait aktivitas penyelundup sabu di perairan Indonesia.

Dijelaskan Tito, aktivitas penyelundup barang narkotika dari jaringan internasional, cukup sering. Hal itu diakui tidak lepas dari posisi Batam yang terletak di dekat jalur pelayaran internasional dan dekat dengan negara tetangga.

”Karena memang letak yang dekat negara tetangga. Yang kecil sering. Yang besar, selain ini ditangkap kemarin, ada juga sebelumnya ditangkap TNI AL dan BNN. Ini jumlah cukup besar,” bebernya.

Dengan hasil tangkapan itu, diakui disatu sisi, menunjukkan, penetrasi dalam pengungkapan jaringan narkoba internasional, semakin tinggi. Tapi disisi lain, Indonesia diakui menjadi market pasar sabu yang besar. ”Kita selalu bekerjasama dalam mengungkap jaringan besar dengan Singapura, Malaysia, Cina dan lainnya. Yang sekarang, itu sindikat internasional, dari Myanmar, Cina,” bebernya.

Menurut Tito, barang haram itu diproduksi di darat dan bukan di laut. ”Di dekat perairan internasional dekat dengan Myanmar, ada pulau tak bertuan dan disitu mereka membuat barang ini. Ada dibawa ke Thailand, Filippina dan Indonesia melalui Selat Malaka. Ada yang melalui Samudera Hindia. Ada juga yang kita deteksi dari satu jaringan dengan jaringan lain, terkoneksi,” beber Tito lagi.

Dijelaskannya, sabu yang diamankan di perairan Indonesia dan dibawa ke Batam, diselundupkan ke perairan Indonesia dan disamarkan dengan kapal nelayan. Polri dan Bea Cukai disebut sudah mengintai sejak Desember dan kemudian tim BC dan Polri bisa menangkap. Sehingga kapal berhasil dihentikan dengan bendera Singapura dan Cina.

”Kemudian setelah empat ditangkap dan diperiksa. Ditemukan di dalam barang cukup besar. Saya sebagai Kapolri, mengucapkan banyak terimakasih ke Kemenkeu dan BC, karena selama ini kerja sama mengungkap,” bebernya.

Di tempat sama, Menkeu Sri Mulyani mengaku sedih dengan peredaran narkoba selama ini. Terlebih, tangkapan dalam dua bulan ini sangat besar. ”Kita sedih melihat besarnya jumlah penyeludunpan sabu ke Indonesia. 342 kasus penyelundupan, 2,312 ton tahun 2017. Tahun 2018 yang belum genap 2 bulan, sudah 52 kasus, 2,93 ton sudah diamankan. Ini menunjukkan besarnya setiap minggu-bulan meningkat,” bebernya.

Karena itu, diharapkan, kerja sama yang luar biasa dengan Polri, BNN dan lainnya. ”Terima kasih ke Pak Tito, Panglima TNI, TNI AL dan juga masyarakat. Sering masyarakat mendukung. Kita akan terus melakukan perbaikan kinerja mengingat ancaman. Termasuk untuk Batam yang cukup rawan dalam penyelundupan barang dari luar negeri,” bebernya.

Menurut Sri, melihat dari modusnya, paling banyak lewat jalur perairan dan termasuk pelabuhan tikus. Pelabuhan di Batam ini cukup banyak, sehingga rawan masuk narkoba.

”Kemampuan anggaran untuk mendeteksi terbatas. Kita memanfaatkan kapal yang tersedia. Untuk kapal yang kita hadapi, terkait speed. Karena di wilayah perairan akan mencoba melarikan diri ke perairan internasional, agar tidak bisa ditangkap. Makanya penting kapal dengan speed lebih tinggi,” harap Sri Mulyani.(MARTUA BUTAR-BUTAR)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here