Ingin Posyandu Remaja Menyebar Luas

0
226
BIDAN Eva (kiri) foto bersama dengan Menkes RI Nila M usai menerima penghargaan nakes teladan nasional di Jakarta. f-istimewa

Impian Kemistia Eva SST, Bidan Teladan Nasional dari Kepri

Berkat inovasi dan kegigihannya membentuk posyandu remaja, Kemistia Eva, SST menerima penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan tingkat nasional dari Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek di Jakarta, 15 Agustus 2018 lalu.

TANJUNGPINANG – DARI Kepri, ada lima orang yang terpilih menjadi tenaga kesehatan (nakes) teladan nasional yakni dari profesi dokter diwakili dr Shresta Dewi (Karimun), apoteker diwakili Erwin Sutejo S.Farm.Apt (Batam).

Dari kesehatan masyarakat diwakili Maratun Salis (Bintan) dan bidan diwakili Kemistia Eva SST (Tanjungpinang) dan perawat diwakili Marini S kep Ners (Kota Tanjungpinang).

Dari awal, bidan yang bekerja di Puskesmas Batu 10 Tanjungpinang ini tak menyangka apa yang menjadi inovasinya ini bisa membawanya menjadi tenaga kesehatan teladan nasional.

Yang ada dibenaknya adalah bagaimana bisa bekerja dan melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab dan tugasnya di puskesmas secara optimal.

Namun, pimpinannya, Kepala Puskesmas Batu 10 Tanjungpinang drg Sy.Dafiany Sp.Pros memberikan dukungan atas inovasi yang ia bentuk ini dan mengusulkan dirinya sebagai salah satu staf yang diajukan mengikuti seleksi tenaga kesehatan teladan tingkat kota saat itu.

Karena amanah dan kepercayaan itu, Eva berusaha mempersiapkan segala sesuatu terkait seleksi tersebut dengan seoptimal mungkin. Saat itu ada enam orang bidan dari Tanjungpinang yang mengikuti seleksi dan alhamdulillah dirinya yang terpilih dan lolos mewakili Tanjungpinang untuk profesi bidan.

Kemudian di tingkat provinsi, ada kurang lebih 20 orang yang mengikuti seleksi dari berbagai profesi kesehatan dimana seleksi yang dilakukan meliputi ujian tertulis presentasi makalah inovasi dan tanya jawab dengan para juri/tim penilai.

Kemudian terpilihlah 5 orang mewakili Provinsi Kepri untuk dikirim ke tingkat nasional. Dan alhamdulilah, salah satu diantara 5 orang tersebut adalah Eva.

Kemistia Eva SST terpilih mewakili profesi bidan dari Kepri. Mereka secara nasional ada 168 orang yang menerima penghargaan dari menteri. Jumlah ini turun dari tahun 2017 sebanyak 200-an orang.

Penghargaan ini pun dedikasikannya kepada keluarga khususnya putra specialnya serta masyarakat, pimpinan dan kerabat-kerabatnya serta terutama kepada anak-anak remaja yang ada di bawah binaannya.

Sebenarnya, menerima penghargaan nasional bukanlah tujuan utamanya sejak awal berpikir untuk membentuk posyandu tersebut. Namun, istri dari dr Triyanto SpA ini punya harapan agar anak-anak remaja termasuk anaknya tidak terjerumus ke perbuatan negatif dalam menjalani masa mudanya dan berharap mereka justru bisa mengisi masa mudanya dengan melakukan hal yang positif dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Ide awalnya membentuk posyandu remaja ini adalah untuk mendekatkan dan memperluas jangkauan pelayanan puskesmasnya dengan anak-anak remaja dan meningkatkan capaian pelayanan program PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) yang dia emban.

Harapannya, pelayanan pada remaja di puskesmasnya yang awalnya hanya di dalam gedung dan sekolah-sekolah, kini juga didapati di masyarakat. Dia berharap posyandu remaja itu menjadi tempat berkegiatan rutin bagi remaja.

Dikisahkannya, Posyandu Perumahan Bukit Raya RW 11 Kelurahan Pinang Kencana, Tanjungpinang Timur tersebut merupakan posyandu remaja pertama di wilayah kerja puskesmasnya Puskesmas Batu 10 dan ternyata juga adalah posyandu remaja pertama di Kota Tanjungpinang serta Provinsi Kepri.

Di puskesmas, Eva dipercaya memegang program PKPR (Pelayananan Kesehatan Peduli Remaja) dimana kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan remaja menjadi tanggung jawabnya.

Ide membentuk posyandu remaja ini juga dia lakukan sebagai upaya menjembatani kecilnya kunjungan remaja ke puskesmas dikarenakan pada pagi hari umumnya mereka sedang di sekolah.

Di awal ide pembentukan posyandu remaja, Eva minta izin kepada pimpinannya untuk mencoba bentuk posyandu remaja tersebut di masyarakat atau di sekolah dan pimpinannya Dafiany setuju serta meminta Eva segera menyiapkannya.

”Ide itu saya sampaikan ke pimpinan Januari 2017 lalu. Alhamdulillah, pimpinan langsung menyetujui,” katanya kepada Tanjungpinang Pos, akhir pekan lalu.

Setelah mendapat izin itu, Eva bekerja cepat. Ia langsung pergi ke Perumahan Bukit Raya. Di sana ia bertemu Eyang ketua lansia dan Mas Adi Saputra salah satu tokoh pemuda di Perumahan Bukit Raya.

Ia juga menemui tokoh masyarakat setempat serta RT-RW maupun muda-mudi yang ada serta meminta data jumlah anak remaja di sana. Pertemuan diadakan, kemudian dibentuk kepengurusan posyandu remaja yang didukung penuh Ketua RW 11 Bapak Almifitri alias Pak Ogas serta Lurah Pinang Kencana Syamsul. Syamsul pun didaulat menjadi penasehat bersama perangkat RT-RW dan tokoh masyarakat lainnya.

Eva sendiri posisinya adalah sebagai pembina dari Puskesmas Batu 10 yang dalam berkegiatan sehari-harinya dibantu oleh timnya terdiri dari dr Vicky Desmiyanti, bidan Jafitri Haryanti Harahap bidan Aulia Novita dan juga bidan Intan Pramitha.

Mereka semua adalah tim yang bertanggung jawab di Kelurahan Pinang Kencana. ”Ketua posyandu remaja dipilih dari anak-anak remaja itu sendiri,” katanya.

Saat ini, untuk berkegiatan mereka masih bergabung di gedung serbaguna yang ada di Perumahan Bukit Raya tersebut. Karena gedung posyandu yang ada di perumahan itu adalah gedung serbaguna, maka jadwal penggunaannya pun harus diatur. Bergantian.

Gedung itu juga sebagai posyandu masyarakat umum, yang berkegiatan di sana ada posyandu remaja, posyandu balita dan posyandu lansia serta menjadi tempat rapat masyarakat.

”Kami dapat jadwal di Jumat minggu keempat akhir bulan. Tapi kalau ada kegiatan mendesak, gedung itu tetap bisa kita pakai,” tambahnya.

Meski sudah terbentuk kepengurusannya, posyandu remaja ini belum mendapat anggaran rutin sebagaimana posyandu balita maupun posyandu lansia.

Karena posyandu remaja ini masih merupakan kegiatan atau hal yang baru yang bersifat inovasi. Sehingga belum ada anggran khusus dari pemerintah.

Tahun lalu peresmian posyandu remaja tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pencanangan kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang digelar di halaman gedung serba guna Perumahan Bukit Raya tanggal 15 Agustus 2017.

Saat itu mantan Wali Kota Tanjungpinang H Lis Darmansyah dan Syahrul meresmikan posyandu remaja tersebut serta posyandu lainnya.

Tanggal 15 Agustus 2018 kemarin merupakan ulang tahun pertama posyandu tersebut. Namun, Eva dan tokoh masyarakat yang ada di Perumahan Bukit Raya belum mempunyai anggaran yang cukup untuk menyelenggarakannya.

Dirinya dan tokoh masyarakat di sana masih mencari donatur untuk membantunya terselenggaranya acara HUT Pertama Posyandu Remaja mereka yang mereka namai Posyandu Remaja FRESH (Forum Remaja Sehat) tersebut.

Sejak posyandu remaja ini dibuka, sudah banyak kegiatan yang digelar di sana. Sosialisasi dilakukan dengan mendatangkan berbagai narasumber. Anak-anak remaja di sana pun antusias mengikutinya.

Mereka sudah mendatangkan beberapa pihak dari lintas sektor diantaranya adalah petugas dari Badan Narkota Nasional (BNN) Tanjungpinang, pihak kepolisian dari Polsek Tanjungpinang Timur, pihak BPJS, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia daerah (KPAID), Pihak Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang dan dari TP-PKK, baik kota maupun PKK Provinsi.

”Alhamdulillah, setiap narasumber yang memberi penyuluhan kepada anak-anak remaja ini, mereka ikhlas. Tidak keberatan tidak kita bayar. Malah mereka antusias dan surprise bahwa di kota ini ada posyandu remaja. Hal yang baru mereka dengar,” katanya dengan senang hati.

Terakhir mereka dikunjungi dari TP-PKK Karimun yang ingin melihat langsung anak remajanya berkegiatan.

Eva bersyukur sekali karena sangat banyak pihak yang mendukung kegiatan posyandu remaja yang dibentuknya tersebut.

Kabar berdirinya posyandu remaja ini makin melebar luas. Sehingga, banyak yang ingin mengajak kerja sama seperti melakukan gotong-royong maupun penghijauan dan lainnya.

Eva berharap, posyandu remaja ini bisa muncul dimana-mana. Sehingga ada tempat remaja berkumpul dan mendapat kegiatan positif serta penyuluhan mengenai bahaya narkoba, seks bebas, dan lainnya.

”Anak remaja di Kepri harus kita selamatkan semua. Ini tanggung jawab kita semua,” pesannya berharap banyak pihak bisa bersinergi dengan kegiatannya.

Saat ini, ada sekitar 180 orang yang terdaftar menjadi anggota posyandu itu. Jumlah ini bertambah setelah bergabungnya remaja di Perumahan Alam Tirta Lestari (ATL), dekat perumahan itu.

Eva mengakui, saat mengikuti seleksi Tenaga Kesehatan Teladan tersebut dia tidak mempunyai target yang muluk harus menang dan sebagainya.

Yang dia impikan adalah kegiatan yang menjadi inovasinya bisa berjalan dengan baik terlepas terpilih atau tidaknya dia sebagai bidan teladan.

Karena dia menyadari teman sejawat bidan yang lebih pintar dari dirinya juga cukup banyak di Kepri ini. Namun mungkin tim penilai memberi poin plus kepadanya karena inovasi yang dibuatnya itu memberi manfaat baik bagi remaja hingga ke depan yakni menjaga masa depan anak-anak remaja. Akhirnya, Eva melaju hingga tingkat nasional.

Ibu dari M Pradityo, Rivanya Ayuningtyas, Dimas Giovanni dan Andra Hanan Bagasditya ini mengatakan, dirinya mampu melakukan itu karena berlatar belakang dari didikan orangtua yang cukup disiplin, mandiri, pekerja keras dan dididik untuk bekerja dengan tanggung jawab sedari kecil terutama oleh almarhumah ibunya bidan Hj Salmiah.

Sejak kecil ia sudah diajari ibunya tuk mandiri, ulet, tekun dan berusahalah bekerja yang memberi manfaat bagi orang lain.

Meski harus mengurus empat anaknya di tengah-tengah kesibukannya sebagai bidan di puskesmas yang padat pasiennya, namun Eva selalu menyempatkan diri untuk bertemu anak-anak remaja yang dibinanya.

Meski terkadang untuk kegiatan-kegiatan yang mereka gelar dia dan timnya serta kader dan pak RW saling bahu membahu mengulurkan dana seikhlasnya tuk sekedar menyediakan snack dan air minum maupun hadiah kecil-kecilan agar remaja-remaja tersebut lebih bersemangat.

Bagi Eva, semua harus dimulai dengan niat baik. ”Insya Allah, kelak niat baik itu akan diterima dengan baik pula,” katanya.

Dia percaya semua hal yang dimulai dengan niat baik akan didengar Allah. Baginya apa yang dia lakukan di posyandu itu menjadi ladang amal untuk berbuat baik kepada anak-anak tersebut.

Kini, anak-anak remaja ini selalu merindukan kehadirannya. Mereka begitu antusias bila Eva dan tim hadir di tengah-tengah mereka. Anak-anak ini telah dibentuk menjadi satu komunitas yang anti narkoba, anti seks bebas dan selalu dipenuhi kegiatan-kegiatan positif.

Sehingga, wajar seluruh orangtua mendukung ide brilian Eva tersebut. Eva sendiri sempat meneteskan air mata ketika mengingat perjuangan ibunya yang seorang diri berjuang menyekolahkan dirinya dan ke 4 saudara-nya hingga mereka kuliah.

Ibunya single parent sejak Eva Kelas V SD. Mereka lima bersaudara dan semuanya perempuan. Kini, Eva bersaudara, hidupnya sudah jauh lebih baik.

”Itu semua berkat perjuangan almarhum ibu saya. Hanya ibu yang berjuang untuk kami. Usia ibu saya 33 tahun saat single parent. Harusnya ia masih bisa menikah lagi tapi itu tidak beliau lakukan. Beliau fokus membesarkan kami. Ia banting tulang menyekolahkan kami berlima,” kata Eva berlinang air mata.

Karena itu, hingga saat ini apa yang diajarkan ibunya dulu diturunkan juga pada anak-anaknya. Saat masih menjadi bidan PTT Bidan Desa, disitulah dirinya menemukan tambatan hatinya yang dulunya adalah pimpinan puskesmasnya dan kini jadi suaminya.

”Saya hanya menginginkan posyandu remaja menyebar luas dan minimal tiap RW di Kota Tanjungpinang bahkan di Kepri mempunyai satu posyandu remaja,” harapannya.

Untuk kegiatan rutin posyandu, saat ini dari puskesmas. Kegiatan posyandu remajanya didanai dari Dana Kegiatan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Namun belum ada anggaran khusus sebagaimana posyandu balita.(MARTUNAS SITUMEANG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here