Institut Teknologi Batam Tambah Tiga Program Studi

0
447
Rektor ITEBA Dr Ing Moch Sukrisno Mardiyanto dan Dekan SBM ITB Prof Dr Sudarso Kaderi Wiryono menyerahkan berkas kerjasama disaksikan CEO Yayasan Vitka Alvidyan Virgarazman dan Pembina Yayasan VITKA Asman Abnur, Senin (11/11/2019).

BATAM – Institut Teknologi Batam (Iteba) yang sudah memiliki dua fakultas dengan enam program studi akan menambah tiga program studi lagi dalam melengkapi matra pendidikan.

Menurut Pengurus Yayasan Vitka, Asrizal sebagai pengelola Iteba, penambahan program studi ini juga sebagai upaya mengoptimalkan sinergi antar program studi dan meningkatkan hasil dari program pendidikan yang dilaksanakan untuk mendukung pertumbuhan Ekonomi Indonesia.

Iteba akan berupaya mengembangkan sekolah bisnis, manajemen dan hukum dengan program studi. Ada tiga program studi yang sedang dipersiapkan, yakni program studi sarjana Kewirausahaan dengan kekhususan kewirausahaan digital dan kewirausahaan kreatif.

”Selain itu akan ada program studi Sarjana Manajemen dengan kekhususan Bisnis Internasional serta Program Studi Sarjana Hukum Bisnis,” terang Asrizal Bobo di sela-sela penandatanganan dokumen kerjasama antara ITB dengan Iteba di Kampus Iteba kemarin.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor Iteba Dr Ing Moch Sukrisno Mardiyanto dan Dekan SBM ITB Prof Dr Sudarso Kaderi Wiryono dengan disaksikan CEO Yayasan Vitka, Alvidyan Virgarazman dan Pembina Yayasan VITKA Asman Abnur.

Dekan SBM ITB Prof Dr Sudarso Kaderi Wiryono menyebutkan, untuk memajukan program-program yang ada di Iteba ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) akan ikut berperan. Ini sebagai bentuk dan upaya pihak ITB mengembangkan dunia pendidikan di Indonesia untuk menciptakan Sumber Daya Manusia Indonesia yang unggul.

”Jadi, sekolah bisnis dan manajemen ITB akan berperan serta mendampingi ITEBA mengembangkan ketiga program studi baru di ITEBA ini,” jelas Prof Dr Sudarso Kaderi Wiryono. Sementara pihak Iteba melalui rektornya, Dr Ing Moch Sukrisno Mardiyanto menyebutkan, pendirian ketiga program studi ini didasari oleh kondisi dunia bisnis yang sedang berada pada era Volatile, Uncertain, Complex dan Ambigous (VUCA).

Volatile merupakan dinamika perubahan yang sangat cepat hingga Iteba dituntut untuk menghasilkan alumni yang bisa mengikuti perubahan cepat tersebut. Sedangkan Uncertain merupakan situasi yang penuh dengan ketidakpastian yang membuat dunia bisnis kurang mampu memprediksi situasi hingga perlu kecermatan untuk menganalisasnya. Sementara Complexity merupakan suatu situasi yang rumit, sulit untuk memahami penyebabnya dan faktor migitasi yang terlibat di dalamnya hingga memerlukan sarjana-sarjana yang andal.

Selain itu, Ambiguity yang didifinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengonseptualisasikan ancaman dan kesempatan secara akurat sehingga menjadi semu dan sulit dipahami.

”Masalah-masalah itu menuntut sekolah bisnis harus bisa mempersiapkan mahasiswanya untuk menghadapi landscape bisnis VUCA,” Rektor Iteba.
CEO Yayasan Vitka Alvidyan Virgarazman menambahkan, program studi Sarjana Kewirausahaan ini ada kekhususan Kewirausahaan kreatif dan Kewirausahaan Digital dan didirikan untuk mendukung perkembangan industri kreatif Indonesia dan perkembangan Ekonomi Digital yang menjadi peluang sekaligus tantangan utama dunia bisnis.

Sebagai konsekwensi dari perkembangan ekonomi digital, sambungnya, persaingan bisnis yang tidak mengenal batas regional ini, menuntut dunia bisnis untuk dapat berkembang secara global.

”Program studi Sarjana Manajemen dengan kekhususan bisnis internasional juga didirikan untuk menjawab tantangan tersebut,” imbuh Alvidyan. Saat disinggung tentang jurusan Hukum Bisnis, Alvidyan merincikan, salah satu yang mendasarinya adalah, karena karakter dan industri kreatif dan ekonomi digital yang berbasis kekayaan intelektual memerlukan kepastian hukum yang secara spesifik terkait dengan Hak Karya Intelektual, Hukum Teknologi dan hukum internasional.

”Hal inilah yang menjadi latar belakang pendidirian program Hukum Bisnis,” jawabnya.

Diterangkan Alvidyan lebih jauh, dalam mengembangkan ketiga program studi baru ini, sangat dibutuhkan pendekatan outcome-based learning yang berfokus pada penciptaan kompetensi lulusan untuk menjawab kebutuhan pasar uang yang akan diterapkan.

Sementara, untuk metode pembelajaran, akan didesain dengan menggunakan pola experiential learning sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung optimal. ”Lulusan dari ketiga program studi baru ini, diharapkan akan menjadi Sumber Daya Manusia Indonesia unggul yang dapat membawa dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” terangnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here