Investasi di Kepri Kurang Nendang

0
165
KAPAL hasil produksi shipyard di Batam saat baru diluncurkan. Industri galangan kapal masih penopang penting ekonomi Batam. f-suhardi/tanjungpinang pos

Bikin Pertumbuhan Ekonomi Rendah

Pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir ini terutama tahun 2017 lalu. Salah satu penyebabnya adalah investasi di Kepri yang dinilai belum berdampak positif alias kurang nendang.

BINTAN – MENTERI Koordinator Perekonomian RI, Darmin Nasution mengatakan, selama ini, investasi di Kepri masih seputar itu-itu saja. Sehingga dia menganggap bahwa investasi di Kepri tidak memberikan dampak positif atau kurang nendang.

”Memang, kalau diharapkan apa yang ada selama ini, maka tidak akan pernah nendang. Dia akan nendang, kalau ada investasi-investasi baru, misalnya ada KEK (Kawasan Ekonomi Khusus),” tegas Darmin kepada Tanjungpinang Pos, kemarin.

Darmin menuturkan, sebenarnya di Kepri itu pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi dibandingkan nasional, karena letaknya yang sangat strategis. Namun, dia menilai kalau investasi yang digarap hanya itu-itu saja, maka siap-siap Kepri akan begini sepanjang sejarah.

”Kepri itu pertumbuhannya, harus lebih tinggi bahkan jauh lebih tinggi dari nasional, kalau bisa memanfaatkannya dengan baik,” sebut Darmin.

Di kesempatan berbeda, anggota Komisi II DPRD Kepri bidang Perekonomian dan Keuangan, Rudi Chua mengakui bahwa sebagian pengusaha luar negeri maupun dalam negeri yang mau berinvestasi di Kepri harus mikir dua kali.

Rudi menilai bahwa pejabat tinggi di Kepri saat ini masih bermimpi hidup dalam kejayaan masa lalu. Padahal tidak.

Dia menilai, justru saat ini internasional tidak lagi memfokuskan Kepri untuk melakukan pembangunan investasi, malah saat ini internasional melirik Indonesia timur dan juga di Kendal.

”Artinya ini apa, saya masih melihat bahwa kita saat ini masih bermimpi menjadi incaran banyak orang untuk berinvestasi. Tapi nyatanya tidak. Kita sudah ditinggal orang,” tegas politikus Hanura Kepri Dapil Kota Tanjungpinang tersebut.

Rudi menambahkan, kalau dulu memang negara tetangga yang saat ini menjadi sorotan investasi dunia. Singapura menjadikan Kepri pasar investasi yang menjanjikan.

”Investasi terbesar Singapura beberapa tahun berturut-turut saat ini, justru bukan di Kepri, melainkan sebagian besar justru di Indonesia timur dan di Kendal. Mereka sudah tidak tertarik dengan Kepri. Tetapi kita saat ini berbicara, seakan-akan menjadi incaran, menjadi incaran investasi, sebenarnya itu bisa saya pastikan sudah tidak,” cerita Rudi.

Rudi membeberkan, salah satu permasalahan sosial yang menggangu tingkat investasi dan menurunnya pertumbuhan ekonomi Kepri saat ini, salah satunya demo pekerja yang tidak ada henti, UMK yang tinggi, permasalahan Batam dan BP Batam itu yang menjadi faktor utama.

Jadi tiga permasalahan utama ini, berbeda dengan provinsi lainnya. Seperti di Kendal, malah Singapura kabarnya mau buka pabrik daerah industri terbesar yang ada di Kendal.

”Malah Bupati Kendal saat ini sudah mempromosikan investasi terbesarnya di Hang Nadim, Batam. Dengan upaya mengajak, berinvestasi di Kendal. Artinya apa kita tidak hanya bersaing dengan internasional, justru dalam negeri sangat genjar mempromosikan itu,” jelas Rudi demikian.

Seperti diketahui, sejak 2016 angka pertumbuhan ekonomi Kepri hanya 5,03 persen atau lebih rendah dibanding 2015 yang mencapai 6,01 persen.

2017 naik 5,07 persen, namun belum memberikan dampak positif, sedangkan pada 2018 di Triwulan III pertumbuhan itu tumbuh 4,51 persen sebelumnya 4,47 persen. Pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 5,27 persen.(SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here