Investasi Gampang Masuk di KEK

0
466
H Nurdin Basirun

Investasi lebih gampang masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus dan banyak insentif yang diperoleh penanam modal.

TANJUNGPINANG – Kemudian, pemerintah pusat telah menjanjikan bahwa KEK jalan yang lebih baik untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Batam. Investasi besar pun akan lebih mudah masuk.

Inilah beberapa argumen Gubernur Kepri H Nurdin Basirun hingga mengusulkan Free Trade Zone (FTZ) Batam agar bertransformasi ke KEK. Padahal, banyak yang menentang usulan di Batam. Namun, gubernur optimis KEK bisa mempercepat pemulihan ekonomi Kepri khususnya Batam.

Nurdin yakin, bahwa pemberlakuan KEK di Batam akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan bisnis ke depannya. Kepada wartawan, mantan Bupati Kabupaten Karimun dua periode tersebut menegaskan, dirinya tidak akan menentang apapun langkah yang ditimbulkan terkait permasalahan KEK dan FTZ saat ini.

Nurdin hanya beranggapan, ketika nanti pemberlakukan KEK, maka investasi jauh lebih mudah masuk dan besar dari pada saat ini. ”Terserah saja mana yang baik, sebenarnya begini, kita sudah ada konsep dari pemerintah pusat, mana yang lebih baik ke depannya,” kata Nurdin.

Bagi dirinya, apapun pendapat di luar terkait kebijakannya itu, Nurdin tak mau ambil pusing terhadap sekelompok orang yang ingin membentuk suatu organisasi, dirinya tak menolak apalagi sampai menentang.

”Bagi saya yang penting investasi masuk, tidak ada kepentingan-kepentingan,” tegasnya.

”Kepada saya, pemerintah pusat menawarkan, bahwa KEK itu yang terbaik,” timpal Nurdin.

Sambil menyebutkan, kondisi pertumbuhan bisnis investasi di Kota Batam menurutnya saat ini sudah tak teratur. ”Batam tak tentu lagi, mana kawasan industri mana kawasan perhubungan,” terang Nurdin.

Yang Nurdin harapkan, ke depan supaya Wali Kota Batam ex officio Badan Pengusahaan (BP) Batam dan rencana pemerintah pusat akan segera dibentuk. Sehingga ke depan ada penguasa tunggal di Batam. Tidak ada lagi satu daerah dengan dua pimpinan.

”Niat kita kan memperkecilkan, birokrasi. Ada KEK ada BP Batam, nanti justru memberatkan pengusaha. Kita hanya berharap supaya kalau pun ada bayaran, mungkin pajak saja. Tapi bagi saya, mana pendapat masyarakat yang lebih baik silahkan, misalnya KEK bagus silahkan, kebijakan FTZ plus-plus kalau bagus silahkan,” terangnya.

Sebelumnya, sebanyak 20 Asosiasi Pengusaha se-kota Batam menolak pemberlakuan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam. Sebagai langkah awal, mereka membentuk Tim Free Trade Zone (FTZ) Plus-Plus yang diketuai oleh Soerya Respationo. ”Yang dibutuhkan Batam adalah FTZ bukan KEK. FTZ ditambah insentif lagi tapi dapatnya secara otomatis bukan memohon lagi. Nanti jadi FTZ Plus-Plus,” kata Soerya di Hotel Aston Batam, Selasa kemarin.

FTZ memang belum menimbulkan dampak signifikan bagi perekonomian Batam. Pada awalnya memang sempat membuat perekonomian Batam tumbuh di atas perekonomian nasional, namun ketika krisis global melanda, pertumbuhan ekonomi Batam ambruk hingga 1,6 persen.

Soerya mengatakan meskipun seperti itu, FTZ masih memiliki jangka waktu berlaku hingga 70 tahun. Sehingga jangan dipaksakan berubah menjadi yang lain karena akan menimbulkan ketidakpastian hukum nantinya.  ”Kalau FTZ ya tetap FTZ. Tinggal tambahkan insentif dari KEK,” tegas Soerya.(SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here