Investor Mulai Lirik Budidaya Teripang

0
202
BUPATI Lingga H Alias Wello (tengah) foto bersama calon investor asal Tiongkok di Pulau Benan ketika meninjau potensi perairan untuk budidaya Teripang. f-istimewa
Pengusaha asal negeri Tiongkok tertarik untuk berinvestasi Teripang di perairan Kabupaten Lingga. Direktur China Fisheries Association, Pang Debin begitu antusias setelah melihat langsung kondisi laut di Kabupaten Lingga.

LINGGA – Pang Debin tertarik, setelah dua hari diajak berkeliling oleh Bupati Lingga H Alias Wello melihat perairan Lingga.

”Selama dua hari di Lingga, para pengusaha tersebut saya ajak berkeliling untuk mengunjungi perairan Kecamatan Singkep Barat, Senayang dan Katang Bidare. Alhamdulillah, mereka sangat antusias ketika melihat potensi alam yang dimiliki Kabupaten Lingga. Lantas berniat akan berinvestasi Teripang di Lingga,” kata Awe, sapaan akrab Alias Wello, kemarin.

Ia menjelaskan, tidak hanya memberi janji para investor dan Pemkab Lingga sudah melakukan kerjasama yang dimulai tahun ini. Ivestasi yang masuk ini, diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat Lingga.

”Kita tak pernah menutup mata. Namun, kita juga harus maklum, bahwa anggaran pemerintah sangat terbatas. Karena itu, harapan terbesar kita bagaimana mengajak investasi swasta berkontribusi di sektor ini,” katanya.

Pemkab Lingga bertekad, akan membantu penuh agar investasi dibidang perikanan ini dapat terealisasi. Kewenangan di bidang kelautan, sudah beralih dari kabupaten/kota ke Pemerintah Provinsi pasca terbitnya Undang-undang Nomor : 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah tidak menjadi hambatan para investor untuk berinvestasi.

”Tadi, saya sudah dapat gambarannya. Para pengusaha Tiongkok, sangat tertarik mengembangkan budidaya Teripang Pasir dan udang Vannamei. Apalagi, Teripang yang kaya protein dan kolagen ini pasarnya cukup besar di luar negeri,” imbuhnya.

Sebelumnya, Awe juga menegaskan dirinya menilak adanya investasi kelapa sawit. Ia beralasan, perkebunanan sawit sangat rakus terhadap ketersedian air di dalam tanah.

Sehingga, alasan itu yang menjadi penolakannya terhadap investasi sawit. Menurutnya, jika air dalam tanah terkuras habis akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Bukan malah menguntungkan, tapi nantinya bisa menyebabkan masyarakat semakin kesulitan.

”Kawasan hutan yang merupakan penyangga air, dan resapan air harus dijaga. Ini semua untuk hajat hidup masyarakat, sehingga stok air kita tetap tersedia,” kata Awe, kemarin.

Dikatakan, selain itu keluarnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor : 8 Tahun 2018 tentang Penundaan , dan Evaluasi Perizinan Serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo sudah jelas dan menjadi dasar hukum terhadap penolakan investasi sawit.

”Presiden sudah bicara panjang lebar, mengenai komoditas kelapa sawit yang dipertentangkan di pasar Eropa. Belum lagi, sudah ada Inpres yang melarang adanya penerbitan izin baru pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit,” terang Awe, bulan lalu.

Kabupaten Lingga merupakan daerah, yang sangat membutuhkan masuknya investasi.

Meski begitu, investasi yang masuk harus mengutamakan aspek kesimbangan lingkungan. (TENGKU IRWANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here