Isdianto Hentikan Amdal Sawit

0
35
H Alias Wello

Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Isdianto memerintahkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, dan Kehutanan Provinsi (LHK) Kepri Yerri Suparna menghentikan proses pembahasan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) perkebunan kelapa sawit PT Citra Sugi Aditya (CSA) di wilayah Kabupaten Lingga.

LINGGA – Perintah penghentian pembahasan Amdal perkebunan kelapa sawit PT CSA itu, disampaikan orang nomor 2 di Kepri tersebut usai menerima surat keberatan dan penolakan dari Bupati Lingga H Alias Wello dan Ketua DPRD Lingga, Riono, Selasa (4/12).

”Wabup Kepri sudah perintahkan Kepala Dinas LHK Kepri, untuk menghentikan pembahasan Amdal PT CSA itu. Beliau tidak setuju ada investasi perkebunan kelapa sawit di Lingga,” kata Bupati Lingga, H Alias Wello dalam rilis yang diterima koran ini.

Menurut Wagub, kata Alias Wello, Kabupaten Lingga adalah daerah kepulauan yang harus dijaga ekosistem lingkungannya.

Kepada PT CSA diperintahkan tidak melakukan manuver yang dapat memecah belah persatuan dan kerukunan masyarakat di wilayah Kabupaten Lingga. Sebab, perusahaan tersebut mengiming-iming investasi.

”Instruksi Presiden Nomor : 8 Tahun 2018 tentang moratorium perizinan perkebunan kelapa sawit kepada Gubernur dan Bupati sudah jelas dan tegas,” kata pria yang akrab disapa Awe ini.

Bupati Lingga Lingga juga menyampaikan, telah melakukan protes keras atas pelaksanaan kegiatan konsultasi publik dan sosialisasi AMDAL atas rencana perkebunan dan pembangunan pabrik kelapa sawit yang dilaksanakan oleh PT CSA di Hotel Winner, Pancur, Lingga Utara, Jumat (30/11).

”Cerita soal perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Lingga sudah tamat, pasca terbitnya Instruksi Presiden tentang Moratorium Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit,” tegasnya.

Menurut Awe, izin lokasi dan izin usaha perkebunan kelapa sawit seluas 10.759 hektar di Lingga Utara dan Lingga Timur sudah pernah diberikan kepada PT CSA melalui Keputusan Bupati Lingga Nomor : 160/KPTS/IV/2010, tanggal 26 April 2010.

Diterangkan Awe, baik Isdianto dan ia tidak alergi dengan investasi. Karena mereka meyakini, bahwa keberadaan investasi yang pro lingkungan di suatu daerah dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

”Peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak harus dijawab, dengan investasi perkebunan kelapa sawit. Ada banyak pilihan-pilihan investasi, selain perkebunan kelapa sawit yang jauh lebih ramah terhadap ekosistem lingkungan. Dapat dibayangkan, dalam satu hari satu batang pohon kelapa sawit bisa menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah,” imbuhnya. (TENGKU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here