Islam dan Sejarah Peradaban Eropa

0
2540
Burhan Latif

Oleh: Burhan Latif
Anggota KAMII Komisariat G12 Mahasiswa Akuntansi UMRAH, Tanjungpinang

Kehidupan umat bangsa terdahulu adalah rentetan peristiwa yang kemudian rentetan peristiwa itu menjadi rekam jejak sejarah. Bahkan dikatakan siapa yang tidak kenal sejarah, ia akan kehilangan cermin untuk merancang masa depan. Siapa yang alpa terhadap sejarah, maka ia akan kehilangan teladan.

Karenanya, bagi mereka yang mempunyai agenda melemahkan umat Islam, mereka berpegang pada adagium “Jika ingin melumpuhkan suatu bangsa, jauhkan mereka dari ingatan sejarahnya” (Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, 2015).

Eropa pada waktu itu hidup dalam masa-masa kebodohan dan keterbelakangan yang luar biasa, yang biasa disebut dengan masa kegelapan (dark age). Kezhaliman adalah sistem yang berlaku di sana.

Para penguasa menguasai harta dan kekayaan negeri, sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang parah. Para penguasa menguasai istana dan benteng, sementara rakyat kebanyakan bahkan tidak mempunyai tempat berteduh dan rumah yang layak.

Mereka benar-benar berada dalam kemiskinan yang luar biasa. Moral benar-benar mengalami degradasi. Mereka, sebagaimana dituturkan oleh para pengembara muslim yang datang ke negeri tersebut ketika itu, tidak mandi kecuali sekali atau dua kali dalam setahun.

Baca Juga :  Kebhinnekaan: Aset dan Pemersatu Bangsa Indonesia

Bahkan mereka menganggap bahwa semua kotoran yang menumpuk di tubuh mereka akan menyehatkan tubuh; karena menjadi berkah dan kebaikan untuk mereka.

Ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran di daerah semenanjung Arab, bangsa-bangsa Eropa justru mulai bangkit dari tidurnya yang panjang, yang kemudian banyak dikenal dengan Renaissance.

Kebangkitan tersebut bukan saja dalam bidang politik, dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Harus diakui, bahwa justru dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan negara-negara baru Eropa. kemajuan Eropa tidak dapat dipisahkan dari peran Islam saat menguasai Spanyol.

Dari Spanyol Islam itulah Eropa banyak menimba ilmu pengetahuan. Ketika Islam mencapai masa keemasannya, Kota Cordoba dan Granada di Spanyol merupakan pusat-pusat peradaban Islam yang sangat penting saat itu dan dianggap menyaingi Baghdad di Timur.

Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen, Katolik maupun Yahudi dari berbagai wilayah dan negara banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana.

Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa di sini pula mereka dapat hidup dengan aman penuh dengan kedamaian dan toleransi yang tinggi, kebebasan untuk berimajinasi dan adanya ruang yang luas untuk mengekspresikan jiwa-jiwa seni dan sastra.

Baca Juga :  Ahok Jadi Icon Baru

Penduduk keturunan Spanyol dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: Pertama, kelompok yang telah memeluk Islam.
Kedua, kelompok yang tetap pada keyakinannya tetapi meniru adat dan kebiasaan bangsa Arab, baik dalam bertingkah laku maupun bertutur kata; mereka kemudian dikenal dengan sebutan Musta’ribah.
Ketiga, kelompok yang tetap berpegang teguh pada agamanya semula dan warisan budaya nenek moyangnya. Tidak sedikit dari mereka yang non muslim menjadi pejabat pejabat sipil maupun militer di dalam kekuasan Islam Spanyol.

Mereka pun mendapat keleluasaan dalam menjalankan ibadah mereka tanpa diganggu atau mendapat rintangan dari penguasa muslim saat itu, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya saat penguasa Kristen memerintah Spanyol.

Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik.

Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia dan perang salib, tetapi saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.

Baca Juga :  Taat Pajak Itu Menguntungkan

Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial maupun perekonomian, dan peradaban antarnegara.

Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik.

Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sudah sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M.

Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Latin.

Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa.

Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali budaya Yunani klasik (renaissance) pada abad ke- 14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here