Isra Mikraj, Kita dan Palestina

0
914
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Sekretaris Wilayah Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Chapter Kepri dan Aktivis PAHAM (Pusat Advokasi Hukum dan HAM) Kepulauan Riau

Peristiwa aksi penembakan oleh tentara Israel yang menewaskan 16 orang dan 1500 orang terluka yang berjalan dan melakukan mudik akbar ke tanah kelahirannya, Palestina adalah kabar buruk menjelang hari bersejarah bagi umat Islam. Isra Mi’raj yang akan kita peringati pada 28 Rajab 1938 Hijriah atau 14 Apri 2019 Masehi. Padahal, belum terasa lama, ratusan negara menolak dukungan atau pernyataan Donald Trump bahwa Yerussalem adalah ibukota Israel.

Berdasarkan data dari Land Research Center (LRC) pada Rabu (14/3) yang dikutip www.knrp.org mengungkapkan, Israel telah menghancurkan sekitar 5.000 rumah di Yerusalem sejak 1967. Lembaga Palestina tersebut menyatakan, sebanyak 70 ribu warga Palestina di Yerusalem harus mengungsi saat Perang Enam Hari pada tahun itu dan dicegah untuk kembali ke kota. Laporan itu menambahkan, sekitar 198 ribu penduduk Palestina di Yerusalem juga diusir oleh pasukan Israel pada 1948. Sebanyak 6.000 ribu di antaranya telah meninggalkan wilayah itu sebelum perang Arab-Israel 1948.

Barangkali, hingga Palestina merdeka seutuhnya dan Israel bubar mungkin baru kita akan berhenti mendengarkan kisah juang rakyat Palestina dalam merebut hak kemerdekaannya. Mengutip akun resmi Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) mengunggah mengenai peristiwa langka mengenai Indonesia yang ada di Palestina.

Ribuan peserta pawai mudik akbar pulang kampung dari kamp pengungsian ke tanah kelahiran yang dijajah zionis Israel dihabisi sembari membawa bendera Merah Putih Indonesia. Tentu dari sisi apapun kita mengutuk keras perbuatan ini karena Indonesia, negeri yang kita cintai ini memiliki cita-cita luhur untuk menolak segala bentuk penjajahan di atas muka bumi. Ini membuktikan bahwa Palestina dan kita sudah lama menyatu. Sehingga peristiwa apapun yang bertalian dengan pendudukan Palestina selalu menyentuh hati kita.

Baca Juga :  Jangan Sampai Kehormatan Guru Terkikis Zaman

Peristiwa Isra Mi’raj
Dalam Alquran, “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS al-Isra [17]: 1).

Meminjam tulisan Imam Nur Suharno, “Palestina Negeri Isra Mikroj,” di Republika Onlie (04/05/2016) ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dalam kaitannya antara Isra Mi’raj dan Palestina. Pertama, perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi SAW dimulai dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsha (di Palestina), dilanjutkan menuju Shidratul Muntaha. Peristiwa ini memberikan isyarat kepada umat Islam di setiap tempat dan waktu, wajib menjaga dan melindungi Rumah Suci (Baitul Maqdis) dari keserakahan musuh-musuh Islam.

Kedua, dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, Nabi SAW dipertemukan dengan nabi-nabi sebelumnya. Hal ini menjadi bukti adanya ikatan yang kokoh antara Nabi SAW dengan nabi-nabi terdahulu. Ikatan itu ibarat suatu bangunan yang kokoh dan saling menopang satu sama lain.

Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan aku dengan nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah bangunan, lalu ia memperindah dan mempercantik bangunan itu, kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Ketika orang-orang mengitarinya, mereka terkagum-kagum seraya berkata, “Amboi indahnya jika batu bata ini diletakkan?” Akulah batu bata itu, dan aku adalah penutup para nabi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Baca Juga :  Konsep Keseimbangan Pekerjaan dan Kehidupan (Work-Life Balance) Pada PNS

Ketiga, dalam perjalanan Isra dan Mikraj, Nabi SAW didaulat untuk mengimami para nabi dan rasul terdahulu dalam shalat berjamaah dua rakaat di Masjidil Aqsha. Peristiwa ini menunjukkan adanya pengakuan bahwa Islam adalah agama terakhir yang diamanatkan kepada manusia agung sebagai pemimpin umat manusia. Agama yang mencapai kesempurnaannya di tangan nabi akhir zaman, yaitu Nabi SAW.

Keempat, dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, Nabi SAW membawa oleh-oleh khas yang dipersembahkan untuk umatnya, yaitu perintah shalat lima waktu sehari semalam. Hal ini menunjukkan tentang pentingnya peranan shalat bagi kehidupan umat Islam.

Shalat sebagai penegas kedudukan seseorang dalam agama. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya yang menegaskan syirik dan kafirnya seseorang itu adalah ketika ia meninggalkan shalat.” (HR Muslim).

Kita Bersama Palestina
Sejak Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataaan dukungan sepihak AS bahwa Yerussalem merupakan ibukota Israel, dunia bergejolak dan menentang keras pernyataan tersebut. Demo menolak pernyataan tersebut mengalir di beragam belahan dunia dan puncaknya terjadi pada sidang darurat Majelis Umum pada Kamis (21/12), 128 negara memilih untuk mendukung PBB membatalkan dan menolak pernyataan Donald Trump atau AS itu. Resolusi ini dengan tegas menolak keputusan kontroversial yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember lalu.

Baca Juga :  Kurangi Mercuri, Pilih Tuna Kecil untuk Dikonsumsi

Ini tentu kabar gembira, kita harus menyadari bahwa isu Palestina bukan lagi persoalan agama atau kelompok tertentu saja, ini adalah persoalan dunia, persoalan HAM dan persoalan kita semua yang secara naluriah memiliki nilai kemanusiaan yang selalu dijunjung tinggi. Upaya zionis Israel untuk menguasai tanah bermarwah milik rakyat Palestina tidak boleh dibiarkan karena sudah melanggar jauh prinsip kemanusiaan dan HAM.

Dari 172 negara yang 128 penulis sebutkan, 35 diantaranya memilih abstain dan 9 diantaranya menolak, 9 negara itu pun berwilayah kecil dan tidak begitu terkenal baik secara ekonomi maupun politiknya. Secara demokratis, dari data dukungan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara di dunia menolak AS atas sikapnya yang sangat pro Israel.

Nah, ternyata Israel yang dilindungi dibawah ketiak Amerika tidak sadar dan perlu disadarkan bahwa Palestina adalah milik umat Islam. 100 persen wilayah adalah milik rakyatnya dan sudah saatnya dikembalikan tanpa tapi.

Semoga dengan tulisan ini dan momentum Isra Mikraj nanti mampu menyemangati dan menyadarkan kita membela Palestina adalah bagian dari akidah dan kewajiban kita semua yang sangat anti penjajahan sekaligus, ini juga momentum bagi umat Islam untuk dimanapun negara di belahan dunia dalam membela Palestina untuk sesegera mungkin mendapatkan kedaulatan negaranya yang sudah lama sirna. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here