Jadi Buah Tangan Idola

0
285
Pedagang bilis dan sotong kering, di Pasar Pelantar II Tanjungpinang, kemarin. Bilis nasi jadi buah tangan idola wisatawan. F-raymon/tanjungpinang pos

Daya Pikat Bilis Nasi Tanjungpinang

MEMBAWA pulang bilis nasi sebagai buah tangan sebenarnya bukan harga yang murah. Tiap satu kilogram ikan yang punya rasa khas asin tanpa perlu digarami itu dibanderol sepaling murahnya Rp 95 ribu. Namun ketika permintaan tinggi biasanya mencapai Rp 100-120 ribu.

Tentu harga ini sebanding dengan satu kilogram daging sapi. Tapi ikan bilis nasi tetap menjadi pilihan utama bagi para pelancong untuk buah tangan ke teman-teman. “Rasa-rasanya hampir selalu kalau main ke Tanjungpinang beli bilis nasi ini,” kata Zahara, wisatawan asal Malaysia, akhir pekan lalu.

Bentuk bilis nasi lebih kecil ketimbang bilis jenis lain. Warnanya cenderung putih. Jikalau semakin putih, artinya semakin bersih pengolahannya. Dan biasanya, juga akan berimbas pada harganya.

Bilis jenis ini, diakui Zahara, bisa dengan senang diolah menjadi resep masakan apa saja. Ia sendiri dan keluarganya, mengaku senang mencampurkannya di nasi goreng. “Asinnya itu yang bikin sedap,” ujarnya.

Yanti, salah seorang pedagang ikan bilis di Pasar Tanjungpinang, mengungkapkan, pada musim liburan, banyak pelancong yang memborong bilis. Rata-rata, sambung dia, bilis nasi memang jadi favorit pembeli. Meski tidak sesekali juga yang ikut membeli beragam jenis ikan asin. Akan tetapi, Yanti mengungkapkan, bilis nasi khas Tanjungpinang memang punya keenakan tersendiri dibandingkan dengan bilis yang ada di perairan Kota Batam.

“Itu kata pembeli dari Malaysia. Kalau ke Batam mereka tidak beli bilis. Karena bilis yang enak asal Tanjungpinang,” ujarnya.

Pemandangan wisawatan asing asal Malaysia maupun Singapura berbelanja bilis nasi biasanya dapat dilihat pada tiap pengujung pekan. Pada waktu semacam itu, Yanti juga tak memungkiri jumlah bilis yang terjual bisa dua kali lipat dari hasil biasanya. “Untung saja bilis nasi seperti ini tidak ada habisnya di Tanjungpinang,” pungkas Yanti. (fatih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here