Jadi Catatan Sejarah Kesusastraan Indonesia

0
61
Gubernur Kepri H Nurdin basirun foto bersama dengan para peserta FSIGB pada malam pembukaan di Bintan, Kamis (29/11) malam. f-istimewa/panitia fsigb

Semarak Malam Pembukaan FSIGB 2018

Dari panggung megah di Kompleks Purna MTQ Bintan, Kamis (29/11) malam, telah disumbangkan kepada kesusastraan Indonesia, satu buku antologi puisi tebal tentang Hang Tuah. Gubernur Nurdin jadi saksinya.

TANJUNGPINANG – Pembacaan puisi oleh Gubernur Kepri H Nurdin Basirun menjadi gong penutup kemeriahan malam pembukaan Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018 (FSIGB). Dengan jerit melengking, orang nomor satu di Provinsi Kepulauan Riau ini menutup malam pembukaan yang sukar dilupakan dari ingatan sesiapa yang datang.

Karena ingin mendengar keseruan yang terlewat itu, Gubernur Nurdin mengajak seluruh penyair dari dalam dan luar negeri yang ada di lokasi untuk ngopi bersama di bilangan Batu Sembilan.

Ada banyak hal yang dilewatkan Gubernur Nurdin dari acara yang berlangsung sejak pukul delapan malam. Paling pertama, adalah prosesi Anugerah Jembia Emas.

Pada tahun ini, untuk kali pertama anugerah kebudayaan yang rutin diberikan Yayasan Jembia Emas itu dilaksanakan di luar Kota Tanjungpinang. Karena itu kemeriahan yang disajikan berbeda.

Koreografer Ruki Daryudi bersama 15 penari dari PLS Sanggam menyuguhkan tarian dalam tajuk Asmaradana sebelum kemudian mengantar trofi dan tanjak kepada Abdul Malik, budayawan Melayu yang menerima Anugerah Jembia Emas tahun ini.

Di atas panggung nan luas dan bersimbah cahaya, aksi 15 penari ini memantik niat para peserta mengarahkan kamera ponselnya ke atas panggung.

Lalu sang bintang malam itu, Abdul Malik menyampaikan sambutannya di atas panggung. Singkat saja, namun bernas untuk dicatat. Sebagaimana tulisan-tulisannya yang tersiar di buku-buku dan media massa, Abdul Malik mengingatkan akan pentingnya kehalusan Melayu dalam segala aspek kehidupan.

”Dan sebuah kehormatan buat saya untuk menerima Anugerah Jembia Emas tahun ini,” ujar Abdul Malik yang juga Dekan FKIP UMRAH Tanjungpinang ini.

Tidak sampai di sini, bersama kelompok musik Samudra Ensemble yang membawakan nomor-nomor andalannya membawa semarak semakin terasa di atas panggung. Lagi dan lagi, para peserta kembali mengarahkan kamera ponselnya merekam aksi musisi-musisi muda andalan Kepri ini di atas panggung.

Rasa-rasanya semarak menolak habis. Parade pembacaan puisi oleh para penyair dari dalam dan luar negeri susul-menyusul menambah semarak.

Sebelum itu, dimulai dulu peluncuran buku antologi puisi tentang Hang Tuah oleh Ketua Dewan Kesenian Kepri Husnizar Hood bersama dewan kurator yang diwakili Hasan Aspahani.

Di sini, Hasan menyatakan dirinya tak menyangka kerja mengkurasi lebih dari 1.000 puisi yang masuk bukan sebagai pekerjaan yang mudah. Kendati begitu, ia senang. ”Karena puisi-puisi yang masuk bagus-bagus kualitasnya,” ucap Hasan.

Bagi Hasan, buku antologi puisi Jazirah ini akan dicatat oleh sejarah kesusastraan Indonesia sebagai satu buku puisi tebal yang secara khusus membahas Hang Tuah sebagai tema utamanya.

”Hang Tuah memang bukan hal baru untuk ditulis dalam puisi. Amir Hamzah pernah menuliskannya dengan sangat bagus. Dan puisi-puisi yang hadir dalam buku Jazirah ini menawarkan perspektif lain dalam melihat Hang Tuah dalam puisi,” ucap Hasan.(FATIH MUFTIH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here