Jadi Pilihan Saat Bright Gas Beri Kenyamanan dan Kemudahan

0
3974
Pedagang usaha mikro dipinggir jalan di Batam Centre, menggunakan Bright gas.
Pertumbuhen ekonomi Kepri sempat turun menukik dari 7 persen hingga 1 sampai 2 persen, tahun 2016. Namun secara perlahan, ekonomi Kepri merangkak hingga diangka sekitar 4,76 persen di tahun 2019. Inflasi yang melonjak juga mulai stabil. Stabilitas ekonomi dan inflasi tidak lepas dari biaya konsumsi dan usaha mikro atau UMKM yang juga stabilitas. Dipergerakan ekonomi itu, gas menjadi salah satu elemen penting. Baik dalam komponen pendukung di konsumsi dan UMKM. Termaksud kehadiran Bright Gas Pink 5,5 kg, sebagai alternatif bagi rumah tangga. Dengan daya tarik yang ditawarkan, secara perlahan pelaku usaha mikro atau UMKM di Batamsecara perlahan beralih ke gas non subsidi bertabung warna pink itu. Warga dan pelaku usaha juga kini memiliki alternatif dalam memenuhi kebutuhan memasak. Selain berada diluar permainan harga, ketersediaan lebih terjamin. Khusus mini market modern yang tersebar di Batam, seperti Alfamart dan Indomaret, khususnya yang buka 24 jam, selalu tersedia. Ketersediaan yang terjaga dan jauh dari kalimat langka, pengamanan dobule juga mendorong masyarakat dan pelaku usaha memilih Bright gas.

Laporan, Martua P Butarbutar, Batam

Tanti, satu diantara tiga orang pelayan mini market, Indomaret, di Ruko, Tanjungpiayu, yang bertugas sore itu. Tati terlihat membuka pintu kaca ruko itu dan menuju teras. Kemudian dia menghampiri seorang pria yang hendak membeli Liquefied Petroleum Gas (LPG), Anto.

Di teras itu, ada dua kerangkeng besi yang penutup atasnya terbuka. Satu kerangkeng besi itu, diisi galon-galon berisi air mineral. Tepat disamping kerangkeng galon air mineral itu, ada kerangkeng berisi berisi tabung, warna pink dengan dua varian ukuran. Walau sama-sama tabung pink, namun ada berukuran 5,5 kg dan 12 kg.

Sore itu, Tanti yang menggunakan baju seragam Indomaret, terlihat mengangkat tabung pink berisi gas 5,5 kg dan menyerahkan ke pria bernama Anto. Kemudian, Tati memasukkan tabung kosong dari tangan Anto dan memasukkan ke kerangkeng besi.

Selanjutnya pria yang membeli Bright gas, bernama Anto, menuju kasir mini market Indomaret untuk membayar. “Rp,69 ribu pak. Ada kartu Indomaretnya?,” kata petugas kasir Indomaret, teman Tanti.

Setelah selesai membayar, Anto bergegas menuju motornya, sebelum kemudian berbincang dengan Tanjungpinang Pos. Sambil menempatkan gas LPG merk Bright itu ke motornya, Anto sempat melayani Tanjungpinang Pos. Anto dan keluarganya, mengaku sudah lebih satu tahun menggunakan Bright Gas.

Mereka memilih jenis tabung gas itu, karena pengamanannya yang double dan selalu tersedia. Selama berlangganan gas pink ini, mereka belum pernah mengalami kelangkaan gas. Berbeda dengan gas subsidi, yang kerap langka, terutama saat ada hari raya. Sehingga pria yang bekerja di perusahaan industri elektronik Mukakuning, Sei Beduk ini, memilih gas yang lebih mudah diperoleh.

Terlebih, di minimarket tidak jauh dari kediamannya, selalu buka 24 jam setiap harinya. Sehingga, jam berapapun gas dirumahnya habis, dia dengan mudah mendapatkannya dari minimarket itu.

“Terutama saat istri masak jam 4.30 atau jam 5 pagi, tiba-tiba habis gas. Kalau pakai gas 3 kg, bisa berangkat kerja tak sarapan. Karena saya harus berangkat jam 6 pagi ke Batuampar kerja,” ceritanya.

Baca Juga :  Menhub Cabut Izin 9 Perusahaan Lego Jangkar

Sebelum kehadiran Brigt gas, mereka selalu mewanti-wanti gas dengan stok yang wajib tersedia, dengan tabung cadangan. Mini market seperti Indomaret, tidak menjual gas subsidi. Disana hanya tersedia non subsidi. Selain gas bright 5,5 kg, tersedia juga gas dengan tabung 12 kg. Hanya saja, disana tidak tersedia tabung yang bisa dibeli. Sehingga, Anto dan keluarga kerap kesulitan.

“Di Indomaret, cuma bisa beli isi, mengganti tabung kosong dengan tabung berisi. Tidak ada juga gas subsidi. Tapi stok gas selalu tersedia disana. Jadi sudah pilihan ibu (istri) rumah tangga sekarang. Kita dukung saja, penting mereka nyaman memasak,” bebernya.

Pengalaman kehabisan gas saat subuh dan belum ada agen atau warung buka, hingga terkendala memasak, mereka memilih beralih ke gas pink. Setelah mengetahui keunggulan keamanannya, keluarga yang tinggal di Perumahan Piayu Asri ini, memilih menikmati gas pink.

“Sebelum itu, kami beli gas subsidi di barisan kios-kios depan rusun itu. Tapi itu belum buka jam 5 pagi. Belum lagi harganya disana tinggi. Harga isi gas 3kg, antara Rp26 ribu. Kalau gas langka, biasanya lebih mahal lagi. Jadi lebih nyaman dan aman pakai yang pink ini,” sambung Anto.

‎Bright Gas ini merupakan varian produk non subsidi, sebagai inovasi terbaru dengan keunggulan lebih di sisi keamanan, dan kemasan yang lebih menarik. Tabung ini memiliki katup pengaman ganda, sehingga lebih aman dua kali. Fitur keamanan diperkuat dengan adanya tambahan segel resmihologram dan optical colour switch.

Kini dengan menggunakan gas dia merasa lebih nyaman. Terutama saat istrinya memasak pada pagi hari, untuk sarapan sebelum berangkat kerja dan anaknya sekolah. Jika tiba-tiba gas habis, dia tidak perlu keliling, menghabiskan waktu untuk mencari gas. Dia sudah tahu tempat yang buka saat dia membutuhkan gas dini hari.

“Kalau pagi istri jam 4.30 WIB, istri sudah masak. Waktu pakai gas subsidi, kalau pagi habis, bisa jadi masalah. Kita kesulita mencari gas. Sekarang, kita lebih nyaman karena mudah cari stok. Jadi tidak khawatir kalau pagi habis gas,” jelasnya.

Saat ini, Indomaret bersama Alfamaret, merupakan mini market yang populer di Batam dalam dua tahun belakang ini. Biasanya, jarak antara Indomaret dan Alfamaret, tidak jauh dalam satu lokasi.

Pantauan Tanjungpinang Pos, tidak semua Indomaret dan Alfamart yang menjual gas 5,5 kg. Untuk daerah Mangsang itu, ada beberapa Indomaret dan Alfamart yang menjual. Salah satu yang menjual Bright Gas, tempat Tanti bekerja.

Mini market ini melayani pembeli selama 24 jam perhari. Sehingga, warga yang membutuhkan dapat terlayani hingga pagi. Menurut Tati yang bertugas siang sampai malam, Indomaret ini hanya menjual isi tabung gas Bright.

“Kami hanya menjual isinya. Kalau tabung, kami tidak menjual,” sambung Tanti saat ditanya soal harga tabung Bright gas.

Diakui, selama ini diakui, LPG 5,5 kg itu cukup laku di daerah sekitar Mangsang, Tanjungpiayu, Sei Beduk, Batam. Sementara untuk stok, mereka tidak pernah kekurangan, walau diakui penjualan lumayan per minggu.

“Lumayan laku pak. Tapi tidak tahu pastinya, kami yang jaga disini kan ada tiga sift. Tapi stok selalu ada,” beber Tanti.

Tersedia di mini market, khususnya seperti Indomaret yang buka 24 jam setiap hari

Berlahan Usaha Mikro Mulai Beralih ke Non Subsidi

Selain warga yang beralih ke gas Bright, namun kini pelaku usaha UMKM di Batam juga. Kegiatan usaha mikro, yang menggunakan Bright Gas, banyak ditemukan di UMKM hingga warung di Batam. Diantaranya pelaku UMKM makanan yang membuka lapak di dekat pasar Mitra Raya Batam Centre dan pasar Botania, Batam Centre.

Baca Juga :  Sepakat, Tanjungsauh Jadi KEK

Sampai saat ini, pemerintah sendiri masih memberikan keringanan untuk dukungan bagi pelaku mikro, menggunakan gas subsidi. Sehingga, pertumbuhan usaha mikro atau UMKM lebih baik, dalam membangun ekonomi masyarakat. Hingga bisa mendorong pertumbuhan dunia usaha mikro.

Bagi pelaku usaha mikro sendiri, berbagai alasan mereka untuk menggunakan Bright gas. “Kami mau simpel aja. Kami merasa lebih nyaman juga dengan gas pin ini dan lebih aman,” ujar Irwansyah, pelaku usaha UMKM di Batam Centre,  

Penerimaan masyarakat dan dunia usaha di Batam terhadap Bright gas 5,5 kg ini juga diakui Humas Pertamina MOR 1, Roby. Dibeberkan besaran konsumsi gas non subsidi, baik 5,5 kg dan 12 kg. Dimana, konsumsi Bright gas 5,5 kg sejak Januari sampai Juli 2019, sekitar 200 ribu tabung. Jumlah itu hampir dua kali lebih besar dari jumlah gas berdasarkan jumlah tabung 12 kg.

“Untuk Bright Gas 12 kg sebanyak lebih dari 92 ribu tabung,” beber Roby.

Kehadiran Bright gas di Batam sendiri, baru mulai Mei 2017 lalu. Batam sendiri menjadi daerah pertama di Sumatera, kedatangan gas dengan tabung berwana pink itu. Saat peluncurannya, Bright gas pink di Batam, memberikan kemudahan dan keringanan dalam mencari calon pengguna.

Pertamina menawarkan gas non subsidi itu, selain membeli tabung, bisa juga dengan menukar tabung gas LPG 3 kg. Dengan dua tabung gas LPG 3kg, bisa mendapat secara gratis satu unit tabung gas ukuran 5,5 kg. Jika satu tabung gas ukuran 3 kg, maka warga bisa mendapat dengan menambah biaya. Jika satu tabung gas melon yang ditukar, maka harus menambah uang Rp115 ribu untuk dapat gas Bright berikut tabungnya.

Tawaran yang berlaku dalam waktu terbatas, untuk menjadi daya tarik bagi warga yang ingin beralih. Selanjutnya, pengguna bisa mendapatkan gas LPG 5,5 kg dengan harga sesuai ketentuan Pertamina.

Demikian, bukan berarti peminat berkurang, namun terus bertambah. Setidaknya, di daerah Mangsang, Sei Beduk, pengguna meningkat. Hal ini dirasakan petugas Indomaret yang menerima permintaan meningkat.

Awalnya warga tidak terlalu antusias menyambut gas non subsidi itu, kini sebagian masyarakat Batam mulai menjadikannya sebagai pilihan utama. Gas pink itu lebih aman dari kebocoran, dengan sistem keamanan ganda.

“Soal harga, memang beda, tapi tidak beda jauh. Tapi kita lebih nyaman karena stok tidak langka dan lebih aman,” ujar Derma, seorang ibu rumah tangga pengguna gas pink di Mangsang.

LPG Bright gas sendiri menjadi alternatif bagi pengguna non subsidi, selain LPG 10 kg. Dimana, LPG berukuran 3kg awalnya merupakan gas subsidi untuk transisi konversi dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas. Kemudian, penyediaan gas subsidi itu diperuntukan untuk masyarakat kurang mampu dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Baca Juga :  Oknum Polisi Digerebek Warga, Diduga Gunakan Narkoba

Saat peluncurannya General Manager Pertamina Marketing Operation (MOR) I Sumatera Bagian Utara saat itu, Eldi Hendry menyampaikan alasan kehadiran bright gas itu. Gas pink dimaksud untuk menjamin penyediaan dan pengadaan bahan bakar dalam negeri.

“Sekaligus untuk mengurangi subsidi, guna meringankan beban keuangan negara,” katanya saat itu.

Keberadaan gas non subsidi Bright ini juga menjadi alternatif dalam mengatasi keterbatasan non subsidi, yang hampir tiap tahun muncul problem kelangkaan. Mulai penjualan gas subsidi yang dilakukan bebas dan dengan harga yang diatas HET, sesuai temuan Disperindag Batam. Seperti ditemukan di kios-kios pinggir jalan, seperti depan Rusun Tanjungpiayu.

Sementara sesuai dengan diharapkan Pertamina dan diaminkan Wali Kota Batam, HM Rudi, pengguaan gas 5,5 kg perlu untuk mengurangi subsidi juga. Walau tetap, gas elpiji 3 kg yang disubsidi pemerintah, tetap jalan. Namun diminta juga agar Pertamina membantu dan mendukung pembangunan Batam melalui CSR.

“Kalau gas non subsidi banyak dimanfaatkan, Pertamina harus mendukung pembangunan lewat CSR. Karena kalau gas tak disubsidi, berarti untung Pertaminan ada,” beber Rudi.

Disisi lain, sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, pada Maret 2018 sampai Maret 2019, warga Kepri yang terdata miskin atau kurang mampu, sekitar 128.462 orang . Sementara data yang disampaikan Sales Eksekutif LPG PT Pertamina (Persero) Wilayah Kepri Andri Setiyawan, Januari 2019, gas subsidi ke Batam saja, tidak ada penurunan.

“Sementara Pertamina menyaluran sekitar 940.000 tabung gas subsidi, 3 kg per bulan atau 38.000 tabung setiap hari,” cetusnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Batam, Gustian Riau mengharapkan, kedepan secara sendirinya masyarakat akan beralih dari gas subsidi menuju non subsidi. “Keberadaan gas non subsidi dengan keunggulan produk, kemasan hingga ketersediaannyan diharapkan bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat. Sehingga dengan sendirinya beralih dan tidak terlalu bergantung kepada gas bersubsidi,” harap Gustian.

Aparatur Sipil Nasional (ASN) dilingkungan Pemko Batam diminta menjadi contoh ditengah masyarakat, untuk tidak menggunakan LPG subsidi. Sehingga, beban subsidi dari pemerintah tidak besar. “Sekaligus memberikan hak yang seharusnya diterima warga kurang mampu,” himbau Gustian.

Diingatkan, LPG harus disadari, menjadi bagian transisi dari BBM atau minyak tanah ke gas. Setelah itu, selanjutnya yang harus yang berhak atas gas 3 kg, penerima bantuan untuk warga miskin. Dengan keberadaan LPG Bright, seharusnya tidak ada lagi kelangkaan gas, jika masyarakat menyadari, ekonominya, yang tidak seharusnya menggunakan subsidi energi bahan bakar berupag LPG.

Bagi Batam sendiri, kehadiran gas pink ini menambah variasi sebagai alternatif bagi masyarakat. Dimana, sebelumnya selain Bright gas, di Batam sudah ada gas dengan tabung biru dari Pertamina, berukuran 12 kg dan 50 kg. Sehingga, ketersediaan alternatif gas tabung itu, dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan atas gas.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here