Jadikan Wisata Berbasis Budaya

0
451
Pawai parade kapal hias meriah di Sungai Carang, tahun lalu. f-suhardi/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Ketua Umum Saudagar Rumpun Melayu (SRM) Kepri yang juga pengusaha media massa, Rida K Liamsi menuturkan, Tanjungpinang sudah selayakanya dijadikan sebagai kota wisata berbasis budaya.

Hal ini dikatakan Rida dalam forum diskusi yang disejalankan dengan bincang kopi pagi yang ditaja Bappelitbang Tanjungpinang, Senin (6/8) di Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Senggarang.

Menghadirkan dua narasumber nasional yaitu peneliti UGM, DR Murti Lestari yang kini membantu membuat rancangan RPJMD sesuai dengan visi dan misi wali kota dan wakil wali kota terpilih periode 2018-2019.

Serta pembicara utama, Dahlan Iskan yang merupakan mantan Menteri BUMN dan Dirut PLN serta mantan CEO Jawa Pos Grup.

Menurut Rida, idealnya Tanjungpinang meniru pembangunan Kota Melaka, Malaysia, karena kota ini mempunyai jejak sejarah yang sama dan mempunyai karakter demografis yang cenderung mirip, berupa masyarakat yang heterogen dan merupakan masyarakat maritim.

“Tanjungpinang itu dibangun mirip Malaka oleh Belanda sehingga cara mengembangkan dan membangun masa depannya sebaiknya seperti cara kota Melaka. Menjaga warisan sejarah dan budaya sebagai wisatanya. Tapi juga bisa dikembangkan sebagai destinasi yang moderen,” kata Rida.

Keberadaan pulau Penyengat, Sungai Carang dan kampung-kampung yang ada di pinggir sungainya itu, kata Rida menyebut tamsil, diyakini memiliki sejarah yang bertalian erat dan bisa dikemas sebagai destinasi wisata sejarah. Mulai dari Kota Piring, Kampung Melayu, Tanjungunggat, Kampung Bugis, hingga ke Senggarang.

Explore-lah Sungai Carang agar menjadi tujuan wisata sejarah dan budaya yang andal seperti sungai Malaka yang kini menjadi objek wisata yang dikunjungi turis dari seluruh dunia,” tambahnya.

Dahlan Iskan yang menjadi pembicara utama dalam forum itu juga setuju dengan pendapat Rida, yaitu membangun kawasan wisata itu harus fokus.

“Membangun itu harus ada tauhidnya agar sukses dan terwujud. Tauhid yang dikatakan Pak Rida itu adalah sikap dan cara membangun agar kerja tidak sia-sia,” ucapnya.

Bila pemerintah tidak mau membangun, maka wisata sejarah itu akan hilang. Ia mengakui tidak semua wisatawan peduli dengan sejarah maka pemerintah juga bisa membuat wisata umum seperti di kawasan Tepilaut.

“Itu untuk mengkaver wisatawan yang tak peduli budaya atau sejarah. Ada juga pasar wisatawan hedonis semacam ini. Tapi banyak juga orang yang suka dengan wisata sejarah dan budaya yang dimiliki masing-masing daerah perlu dikembangkan,” timpal Dahlan. (dlp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here