Jaga Kesehatan Lingkungan

0
64
GUBERNUR Kepri H Nurdin Basirun saat pencanangan vaksin Measles Rubella (MR), beberapa waktu lalu. f-istimewa

MBS. apakah kota kita wajar dapat gelar “layak Anak” kalau di kepri angka penderita virus rumbela masih tinggi. pemerintah dan pihak sekolah harus bisa meyakinkan orangyua murid bahwa vansin rubela itu penting untuk kesehatan anak dan lingkunganya.
085834668313

Wujudkan Generasi Sehat
MBS Suatu kebanggaan untuk kepulauan Riau jika daerah ini maju dan jauh dari penyakit atau kesehatan warga terjamin. Apa upaya pemerintah menjaga kesehatan anak cucu kita jika virus rumbela masih meraja lela. Semoga sosialisasi pemebrian vaksin bissa lebih gencar.
081364221356

TANGGAPAN:
Virus Campak dan Rubella mrmang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga Kepri lantaran progres imunisasi MR yang dilakukan pemerintah rendah. Dari 608 ribu anak di Kepri, hanya 55 persen atau 335 ribu yang diimunisasi MR. Hingga Selasa (23/10), anak-anak yang berusia 9 bulan hingga 15 tahun baru 55 persen (335 ribu) yang imunisasi. Sekitar 265 ribu lagi tidak diimunisasi karena mendapat penolakan dari orangtua dan pihak sekolah.

Padahal, pemerintah sudah menargetkan bahwa Kepri harus bebas dari campak dan rubella tahun 2020 nanti setelah dicanangkannya imunisasi Measles Rubella (MR) secara nasional Agustus lalu.

Targetnya , 95 persen anak-anak di Kepri yang berusia 9 bulan hingga 15 tahun sudah terimunisasi vaksin MR ini hingga akhir September lalu.

Namun, karena persoalan kehalalan vaksin yang digunakan, banyak warga yang menolaknya. Kemudian, pemerintah memperpanjang imunisasi ini hingga akhir Oktober ini.

Diperkirakan, hingga akhir Oktober ini, capaian hanya 60 persen dari 608 ribu anak-anak di Kepri atau sekitar 360 ribu, sisanya sekitar 248 ribu belum divaksin.

Setelah Oktober berakhir, tidak ada lagi perpanjangan imunisasi MR. Yang jelas kita sudah berusaha. Petugas di lapangan sudah capek dan terus sosialisasi. Malah ada yang diusir. Semoga campak dan rubella tidak berkembang di Kepri. Kita tak menginginkannya.

Saat ini, banyak sekolah swasta yang menolak imunisasi ini. Bahkan kepala sekolahnya ikut menolak program nasional tersebut. Sekolah negeri lainnya, pihak sekolah mengizinkan, namun orangtua yang melarang anaknya divaksin.

Banyaknya orangtua yang menolak imunisasi MR ini karena vaksinnya dinyatakan mengandung enzim hewan haram. Sehingga tidak diperkenankan orangtua disuntik ke dalam tubuh anaknya sekalipun itu untuk menjaga tubuh anak dari penyakit campak dan rubella.

Fatwa Majelis Ulama Islam (MUI) juga menyatakan bahwa vaksin tersebut mengandung hewan yang diharamkan dalam Islam. Namun, karena sifatnya darurat dan belum ada vaksin penggantinya, maka imunisasi MR ini diperbolehkan oleh MUI.

Fatwa MUI tersebut ternyata tidak menggugah hati masyarakat untuk mengizinkan anaknya diimunisasi. Ia mengatakan, vaksin yang sisa nanti akan dikirim ke pusat atau ke provinsi lain yang membutuhkan.

Kita tidak menyimpannya. Masih ada daerah lain yang membutuhkan. Dan sampai saat ini, belum ada arahan perpanjangan waktu imunisasi,” tambahnya.

Tanjungpinang dan Anambas tergolong bagus karena sudah mencapai 70 persen. Artinya, tidak banyak lagi anak-anak di dua daerah ini yang belum diimunisasi. Batam yang saat ini banyak penolakan dari pihak sekolah.

Imunisasi nasional ini dimulai per 1 Agustus lalu untuk anak-anak sekolah. Dilanjutkan September untuk anak-anak berusia 9 bulan. Karena progresnya rendah, akhirnya pekan imunisasi MR diperpanjang hingga Oktober.

MUI telah mengeluarkan Fatwa No.33 tahun 2018 pada 21 Agustus 2018 lalu yang menyatakan bahwa para ulama bersepakat untuk membolehkan (mubah) penggunaan vaksin Measles Rubella (MR) yang merupakan produk dari Serum Institute of India (SII) untuk program imunisasi.

Keputusan ini didasarkan pada tiga hal, yakni kondisi darurat syar’iyyah, keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya menyatakan bahwa terdapat bahaya yang bisa timbul bila tidak diimunisasi, dan belum ditemukan adanya vaksin MR yang halal dan suci hingga saat ini.

Fatwa MUI memberi kejelasan bagi masyarakat, sehingga tidak ada keraguan lagi di masyarakat untuk bisa memanfaatkan vaksin MR dalam program imunisasi yang sedang dilakukan saat ini sebagai ikhtiar untuk menghindarkan buah hati dari risiko terinfeksi penyakit Campak dan Rubella yang bisa berdampak pada kecacatan dan kematian.

Bertepatan dengan keluarnya Fatwa MUI tersebut, Menteri Dalam Negeri RI, Tjahjo Kumolo juga telah menerbitkan surat dukungan pelaksanaan imunisasi MR fase II kepada seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota di 28 Provinsi di Luar Pulau Jawa.

Di samping itu, Kementerian Kesehatan juga terus mendukung dan mendorong para akademisi, peneliti dan ilmuwan untuk terus mencari dan menggali teknologi kesehatan dengan tetap menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan.

Berdasarkan data yang dipublikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia.

Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus Campak dan Rubella yang ada di Indonesia sangat banyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Adapun jumlah total kasus suspek Campak-Rubella yang dilaporkan antara tahun 2014 sampai Juli 2018 tercatat sebanyak 57.056 kasus (8.964 positif Campak dan 5.737 positif Rubella).

Tahun 2014 tercatat 12.943 kasus suspek Campak-Rubella (2.241 positif Campak dan 906 positif Rubella); Tahun 2015 tercatat 13.890 kasus suspek Campak-Rubella (1.194 positif Campak dan 1.474 positif Rubella); Tahun 2016 tercatat 12.730 kasus suspek Campak-Rubella (2.949 positif Campak dan 1.341 positif Rubella).

Tahun 2017 tercatat 15.104 kasus suspek Campak-Rubella (2.197 positf Campak dan 1.284 positif Rubella) dan sampai Juli 2018 tercatat 2.389 kasus suspek Campak-Rubella (383 positif Campak dan 732 positif Rubella).

Lebih dari tiga per empat dari total kasus yang dilaporkan, baik Campak (89%) maupun Rubella (77%) diderita oleh anak usia di bawah 15 tahun.(mas)

Tjetjep Yudiana
Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here