Jahil Ndeso, Qurro’uha

0
999

(Setelah Beasiswa Hafiz Qur’an itu…)

Oleh: Ramon Damora

TERLALU banyak keprihatinan yang menghantam dada kita akhir-akhir ini. Tapi, bagi saya, tak ada yang lebih menyedihkan selain berita penerima beasiswa mahasiswa kedokteran yang hafal Qur’an itu ternyata anak Sekda sendiri.  Lemah lutut saya. Sejak bangun tidur tadi hati lunglai, segar, lunglai. Otak saja yang masih fresh didera pertanyaan: apa yang membuat seorang Tengku Said Arif Fadillah, pamong dengan kasta paling tinggi di Dompak, berpenghasilan di atas rata-rata, orang pengajian, rajin ke Tanah Suci, happy sebagai orang tua saat ini?

Baru bulan lalu saya pula yang setengah meloncat kegirangan, di bilik redaksi. Bahagia karena hampir semua media menurunkan berita ‘Sekda: Ayo Wujudkan Dokter Hafiz’ (di antaranya: http://tanjungpinangpos.id/sekda-ayo-wujudkan-dokter-hafiz/). Mohon Anda baca link ini, rasakan sensasinya. ”Awal perubahan masa depan Kepri,” kata beliau ni. Subhanallah. Pejamkan mata. Seketika kalbu berdoa…”Ya Allah mulianya pemerintah kami ini. Ditinggikannya kedudukan anak-anak kami yang mencintai Al-quran.”

Gagah bijak bestari Tengku dalam berita itu. Redaksi pilihkan fotonya yang hangat tersenyum memandang salah seorang siswi yang ikut seleksi beasiswa. Seakan doa dan energinya mengalir ke semua peserta ujian. Statemen pilihan esoknya kami sajikan. Bacalah link itu, lagi, Sodara-sodara. Baca berulang-ulang. Pandangi wajah cerahnya, semangat indahnya, Pak Sekda kita ini. Sudah?

Sekarang, setelah tahu apa hasil seleksi itu, nak hantukkan kepala rasanya. Dihantuk kemana, tak tau. Mau teriak ujaran kebencian, hati-hati, cari lokasi sunyi dulu. Jangan dengar orang. Jangan posting aneh-aneh. Masuk lubang fitnah, terjerat UU ITE. Gawat. Ampun pemerintah! Apa yang membuat Tengku bahagia hari ini? Adakah Tengku terkejut, bahwa yang lulus ternyata anak sendiri? Ngalirkah airmata itu tiba-tiba? Sesenggukan memuji kebesaran Tuhan? Adakah deras darah dipompa jantung berdegup kencang?

Terbitkah effort? Hayat an-nafs? H2C? Atau biasa-biasa saja? Datar-datar saja? No surprise? Resahkah batin itu akan muncul fitnah dari situasi ini? Pernahkah terlintas pemikiran, minda suci ananda tercinta yang selama ini berisi hafalan ayat-ayat Qur’an, akhirnya mesti ternodai debu riuh rendah pergunjingan?

Bagaimana rasanya, Tengku, duduk di kursi itu? Merancang anggaran sendiri, teken sendiri, cairkan sendiri, untuk anak sendiri? Sunyikah? Ramaikah? Adakah dengus nafas kami, rakyat jelata ini, menggasing-gasing remuk redam di mejamu?

Baca Juga :  Mertua Syahrul Berpulang

Kita merasakan perihnya hati orang tua yang banting tulang siang malam, menjemur sajadahnya yang selalu basah oleh airmata darah di halaman-halaman sukmanya yang paling rahasia. Adagium vox populi vox dei itu agung benar maknanya: suara Tuhan suara rakyat. Titik. Sesakral itu. Jangan main-main. Mereka yang merasa dizalimi dalam perjuangan membela Qur’an, maqbul do’anya. Lillah.

Sementara menjadi pemimpin itu ladang fitnah. Jangankan melakukan yang haram, kata Umar bin Khattab, mendekati syubhat pun dipantangkan oleh syari’at Islam sebagai pemimpin. Maka kau yang menyebarkan meme “Said Farhan Khalid, kamu layak berada di situ”, ketahuilah, kau ndeso! Anak itu terlampau mulia untuk terjerumus ke dalam pusaran kabut hawa nafsu ini.

Tak ada urusan dengan Said Farhan Khalid Hafidzahullah. Semoga Allah senantiasa memuliakannya. Dia murid Ustad Yusuf Mansur. Dia bahkan sangat layak untuk lulus. Atau berprediket lulusan dengan nilai terbaik sekalipun. Allah SWT sudah menjanjikan posisi tertinggi bagi sukma-sukma Shahib al-Qur’an. Laa raiba fiihi. No debate!

Yang jadi soal, ayahnya pejabat publik. Ayahnya mengelola uang rakyat untuk disalurkan kepada generasi penghafal Qur’an di provinsi ini. Ayahnya sudah terikat sumpah jabatan untuk bekerja hanya atas nama rakyat Kepri. Bukan pribadi atau golongan. Please, dont be ndeso!

Lho kan semua WNI punya hak yang sama? Iya. Tapi kan hak dan kewajiban harus paralel. Diselenggarakan dengan haqq, benar, tepat guna. Hak rakyat berkompetisi merebut beasiswa, sudah disalurkan dengan benar. Nah, pemerintah sudah menjalani kewajiban mendistribusikannya dengan pas, belum?

Banyak lho itu Rp650 juta bagi yang lolos di Kedokteran. Pecah telur dunia pendidikan kita. Paten kali Bang Den awak ni. Sejuk nian motivasi Tengku mengajak pemuda-pemuda Melayu jadi dokter yang hafiz. Hafiz yang doktet. Gagah awalnya. Tapi goncang rusuk menghadapi kenyataan. Berapa orang lulus? Tujuh. Nyebar-nyebar. Ada yang di Farmasi, ada di Kesehatan Masyarakat.

Eh. Katanya ada beasiswa Kedokteran? Iya. Cuma satu orang saja yang lulus. Ditanggung kuliahnya sampai selesai. Pagu anggaran Rp650 juta. Dari pajak kita. Wuih. Beruntunglah orang tuanya. Bisa tenang. Damai. Semua senang. Allah Maha Adil. Dari rakyat untuk rakyat. Berhasil program Gubernur kita. Tapi, anak siapa yang lulus tu? Anak Sekda…

Baca Juga :  POHONKAN MAAF ITU...(REFLEKSI HARI MARWAH)

Haa?

****

SAYA tak mau bilang ini satu-satunya kebijakan paling ndeso yang pernah dihasilkan pemerintahan Gubernur Nurdin Basirun. Tapi, ‘ala kulli haal, inilah rasanya yang paling jahil. Jahil itu bukan bodoh, seperti yang kita pahami dari kamus Bahasa Indonesia. Jahil itu menyimpang secara teologis, moral, etik. Telah Allah turunkan Muhammad SAW demi memupus segala bentuk kejahiliahan. Lewat Islam, Qur’an al-Furqan, Sunnah, Hadits. Bila kau masih munkar juga, kau menyimpang namanya. Jahil.

Dalam surat al-Furqan ayat 63, Allah menyebut kelompok ‘ibad ar-rahman dan al-jaahiluun. Yang pertama, artinya orang-orang rendah hati. Sedangkan al-jahiluun, kaum jahil, ditafsir sebaliknya. Pembuat onar. Sejatinya al-Qur’an membuat para pemimpin dan masyarakatnya rendah hati. Sebab ia obat jiwa terbaik. Jika pengumuman beasiswa penghafal Qur’an di Kepri menyisakan onar dan kegaduhan sana-sini, agaknya memang terbersit proses yang jahil. Na’udzubilah. Wallahu a’lam.

Sayang sekali. Ikhtiar Bang Den membela Qur’an di negerinya dengan menggairahkan segempita mungkin program tahfiz anak-anak dan generasi muda Kepri, sesungguhnya hampir sempurna menjadi track-record amaliyah, ubudiyah, uluhiyah. Sangat pantas diingat rakyat. Tapi, yeah, itulah.

Lagi-lagi para pemimpin kita tidak peka. Sense of crisis-nya nihil. Dia berkarya, suka-suka. Kita gaya, penuh luka. Renungkan petuah Rasulullah ini: “derajat sebuah kaum diangkat oleh Qur’an, dan al-Qur’an juga yang akan menurunkan derajat itu ke tempat terendah.”
Betapa tinggi derajat seorang ayah yang memiliki anak bergelar shahib al-Qur’an. Sahabatnya kalam Allah. Ubun-ubun, tulang, darahnya, dipenuhi ayat-ayat suci. Di dunia, hafiz dan hafizah jaminan kemaslahatan umat. Di surga, Allah langsung penjaminnya.

Suatu hari di sebuah majelis, Rasul berteka-teki. “Pohon apakah yang buahnya tak jatuh, kokoh seperti umatku?” Abu Bakar, Ali, Umar, dan sahabat lain menyebut nama-nama pohon di negeri yang jauh. Salah semua. Hanya Abdullah bin Umar yang tahu jawabannya. Namun dia diam.

Baca Juga :  Mertua Syahrul Berpulang

Setelah halaqah bubar, Abdullah cerita bahwa ia tahu jawabannya adalah pohon kurma, persis seperti yang disampaikan Nabi. Umar sedikit kesal. “Mengapa tadi tak kau ucapkan di sana, Nak? Ayah tak suka itu. Lain kali harus kau sampaikan…” Begitu bangganya seorang ayah andai prestasi anaknya bisa terdengar orang banyak.

Sepeninggal Rasulullah, tiba pulalah giliran Umar bin Khattab menjadi amirul mu’minin, pemimpin pemerintahan Islam. Khalifah yang dianugerahi banyak kegemilangan. Pemimpin sejati. Kabinetnya bereksperimen dengan model struktur organisasi yang punya tupoksi keumatan lebih detail.

Ia juga Imam pertama yang mengumpulkan jama’ah salat tarawih di satu masjid. Memulai langkah penyusunan mushaf serta kodifikasi hukum Islam. ‘Majelis Umar’ jadi sebutan kebanggaan para pecinta ilmu. Mengorganisir sistem baitul maal kerakyatan pertama kali dalam sejarah muamalah.

Namun kita semua sangat mencintainya karena satu alasan. Kehidupannya teramat sangat sederhana. Cenderung miskin. Ia membenci syubhat fasilitas istana. Kisah Umar selalu terlambat salat Jum’at karena menunggu kering bajunya yang hanya berjumlah dua helai itu, legenda blusukannya setiap malam, bertemu ibu miskin menanak batu, dll, tentu tak perlu diulang.

Tauladan molek yang diwariskannya adalah betapa tegas sesungguhnya batas antara tanggung jawab umara dengan memanfaatkan fasilitas negara yang diamanahkan publik. Umar sadar benar, di dalam darahnya dan keluarga, tak boleh mengalir setetespun airmata masyarakat. Konon pula fasilitas negara. Lihatlah apa yang ia tinggalkan. Abdullah bin Umar. Anaknya itu. Ulama besar dan hafiz masyhur terakhir dari era Rasulullah yang meninggal.

TS Arif Fadillah bukan Umar bin Khattab. Tahu. Tapi anak-anak kita, generasi Rabbani di Tanah Melayu ini, masih punya sejuta kesempatan menjadi Abdullah bin Umar. Jangan jahil. Ndak usah ndeso. Rasulullah bersabda:

”Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan Al Qur’an dengan niat yang jelek).”
Ngeri, ah. Main cantik ajalah. Mau makan, makan yang lain. Qur’an, jangan. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here