Jajal Kutub Utara, Buktikan Disabilitas Bisa

0
238
M Syarif Abdullah, peserta IBM 2018 yang merupakan disabilitas saat berlari di lintasan 21 Kilometer, Minggu (9/9). f-jendaras/tanjungpinang pos

Inspirasi m syarif abdullah, pelari ibm 2018 bintan

Iven olahraga lari International Bintan Marathon (IBM) 2018 yang perdana digelar sudah usai. Namun masih menyisakan banyak kisah unik. Termasuk pelari penyandang disabilitas.

BINTAN – Salah satunya adalah kisah Muhammad Syarif Abdullah (50), disabilitas yang ikut beradu cepat dan kuat dalam berlari di iven tersebut.

Sekilas, tidak ada yang beda dengan Syarif. Namun setelah diamati saat ia berdiri, kaki kirinya merupakan alat bantu yang terbuat dari logam. Syarif merupakan warga Singapura yang mengalami disabilitas sejak lahir. Ia terlahir tanpa kaki kirinya.

Namun, keterbatasan fisik bukanlah halangan baginya. Sejak kecil Syarif hidup normal seperti biasa dan menamatkan pendidikannya, bahkan ia menekuni profesi sebagai penjaga keamanan khusus (bodyguard) untuk pihak swasta. Kemudian di usia 23 tahun ia menikah.

Kehidupannya mulai berubah drastis sejak usianya 39 tahun. Pada usia tersebut ia mulai meminati menjadi pelari dan berlatih fisik secara rutin.

Mulai iven lari mulai diikutinya yang ada di negeri Singa Laut tersebut. Perlahan demi perlahan, ia juga terus berlatih hingga mengikuti kompetisi di luar negeri.

Amerika, Malaysia, Thailand, Filipina dan Indonesia sudah dijajalnya. Bahkan awal tahun ini, ia baru saja mengikuti lari di Kutub Utara dengan suhu udara di bawah minus 5 derajat Celcius.

Itu semua merupakan caranya untuk terus memperkuat diri dan berlatih menjadi pelari hingga menjadi bodyguard profesional. Kini, ia pun sudah menjadi penjaga keamanan kelas VIP dan mendapatkan lisensi dari kepolisian Singapura sebagai bodyguard yang diakui kualitasnya.

Iven IBM ini, kata Syarif, merupakan iven menarik yang diikutinya. Ia merasa tidak hanya sekedar berlari dan mencapai garis finis saja. Namun ia merasa ada suasana berbeda yang ia rasakan.

”Kalau berlari di Singapura kami pakai earphone lah, kalau di sini kami tak pakai itu, boleh dengar suara alam langsung, burung, suara ombak dan merasakan udara yang sedap,” katanya usai mengikuti Iven tersebut.

Ia menjelaskan, meski hanya memiliki satu kaki yang normal, namun dirinya tidak merasa minder dengan peserta lain. Menurutnya kemenangan bukanlah yang utama, namun semangat dan kemampuan adalah kunci untuk menunjukkan bahwa disabilitas juga bisa.

”Saya ikut kategori 21 kilometer. Berlari dengan pelari profesional lainnya. Ini tidak masalah, ini sebuah tantangan bahwa kami juga bisa. Biar orang tengok kalau disabilitas mampu dan ini akan memberikan semangat yang baik di masa hadapan untuk orang-orang seperti saya,” ucapnya yang fasih berbahasa Melayu itu.

Satu hal yang perlu digaris bawahi, lanjutnya, kaum disabilitas jangan pernah menyerah. Saat ini menurutnya berbagai teknologi sudah dapat digunakan untuk membantu aktivitasnya, namun juga semangat harus ada.

”Saya pakai kaki ini sudah lama, harganya 11 ribu Dollar Singapura, ini boleh pakai selamanya, hanya saja kadang ada yang harus diperbaiki. Tetapi apapun itu, semangat kita tak boleh luntur. Harus tunjukkan kita juga dapat menorehkan prestasi,” tambahnya.(JENDARAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here