Jalan ke Sekolah Berdebu dan Becek

0
150
Ketua Komisi I DPRD Tanjungpinang Maskur Tilawahyu (dua dari kiri) saat melihat kondisi pembangunan gedung SDN 017 Tanjungpinang Timur di Perumahan Alam Tirta Lestari, baru-baru ini. F-martunas/tanjungpinang pos

Lapangan SDN 017 Tanjungpinang Harus Disemenisasi

Gedung baru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 017 Tanjungpinang Timur akan ditempati Desember 2018 atau Januari 2019 nanti. Namun, karena lapangan sekolah belum disemenisasi, maka kondisinya akan berdebu saat musim kemarau dan becek saat musim hujan.

TANJUNGPINANG – Saat ini, pembangunan sekolah itu masih tahap finishing. Kontraktor pelaksana pembangunan sekolah ini harus menyelesaikannya hingga akhir November ini sesuai kontraknya. Pihak kontraktor pun sudah menyatakan kesanggupannya untuk menyelesaikan pembangunan sekolah tepat waktu.

Ketua Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang, Maskur Tilawahyu mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari pihak kontraktor, biaya pembangunan sekolah tersebut Rp1,83 miliar.

Hal ini juga diakui Ngatijo, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 017 bahwa sebelumnya anggaran untuk pembangunan sekolah itu sekitar Rp2 miliar lebih. Namun, karena kebutuhan pembangunan infrastruktur di Papua, maka biayanya dikurangi sekitar Rp200 juta.

Saat pertemuan dengan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Jakarta, sudah disampaikan akan ada pemotongan anggaran untuk pembangunan sekolah-sekolah baru dan anggaran yang dipotong tersebut dialihkan ke Papua yang saat ini butuh banyak infrastruktur.

”Memang ada pemotongan pak dari pusat. Dan bukan anggaran kita saja yang dipotong. Hampir seluruh daerah lain juga dipotong,” ujar Ngatijo kepada Maskur Tilawahyu saat berkunjung ke sekolah itu, baru-baru ini.

Jadi, anggaran untuk semenisasi lapangan memang belum ada tahun ini. Tapi, apabila ingin disemenisasi, maka harus dianggarkan di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni Pemko Tanjungpinang tahun 2019.

Maskur mengatakan, ada dua hal yang penting diselesaikan di sekolah itu yakni pemasangan batu miring di belakang sekolah yang berdampingan dengan bukit.

Kedua, lapangan itu harus disemenisasi karena akan membahayakan bagi kesehatan siswa nanti. Sebab, jika musim kemarau, lapangan sekolah akan berdebu dan siswa serta guru jadi korbannya.

”Kalau hujan becek. Sepatu mereka pasti merah-merah nanti karena tanah lapangan ini merah. Ruang kelas pun akan kotor. Jadi ini harus diselesaikan tahun depan,” tambahnya.

Pihak kontraktor juga mengakui, saat musim kemarau debu cukup banyak. Apabila angin kencang datang, para pekerjanya juga tergganggu akibat debunya beterbangan kemana-mana.

”Kita juga berharap ada anggaran untuk semenisasi lapangan atau pemasangan paving blok. Karena kalau begini, debunya sangat banyak. Namanya juga tanah,” jelas pelaksana pembangunan sekolah itu.

Kemudian, Maskur juga sempat menanyakan apakah sekolah itu akan dipasang pagar atau tidak. Sebab, sekolah harus nyaman dan siswa tidak bisa bebas keluar masuk.

Sesuai desainnya dan anggaran biayanya, pihak kontraktor juga akan memasang pagar dengan dua gerbangnya.

Sekolah ini dibangun dengan enam ruang belajar, ruang kepala sekolah, ruang salat, kantin, perpustakaan dan rumas dinas penjaga sekolah. Sedangkan ruang kelapa sekolahnya memiliki kamar mandi atau toilet tersendiri.

”Sekarang bagus-bagus ya. Ruang kepala sekolah memiliki toilet sendiri,” ujar Maskur saat meninjau lokasi pembangunan ruang kepala sekolah.

Kemudian, Maskur juga sempat meninjau ruang dinas penjaga sekolah di bagian belakang. Rumah dinas ini terdiri dari satu kamar, kamar mandi dan ruang memasak yang kecil.

Maskur mengatakan, dari desain rumah dinas itu, harusnya ruang kamar mandi jangan di tengah-tengah. Sebab bisa menganggu tamu. Harusnya dibangun di belakanga dekat dengan dapur.

Tapi pihak kontraktor mengatakan, mereka tidak bisa melakukan seperti itu karena harus bekerja sesuai desain yang disiapkan pemerintah. ”Apa yang ada di gambar, seperti itu yang kami bangun pak,” kata pengawas lapangan itu.

Dari segi persiapan kamar mandi siswa sudah bagus karena langsung dipisah toilet perempuan dan laki-laki. Saat ini, ada enam toilet yang dibangun untuk siswa di luar toilet untuk majelis guru.

Untuk sementara, jumlah tiolet itu masih mencukupi. Karena siswa sekolah itu baru satu angkatan dan ke depan, seiring dengan pertambahan jumlah siswa, maka jumlah toiletnya juga harus ditambah.

Ngatijo mengatakan, mereka baru menerima siswa baru Tahuan Ajaran (TA) 2018/2019. Awalnya mereka ingin menerima luka rombongan belajar (rombel) saja. Tapi karena jumlah siswa yang mendaftar membeludak, akhirnya mereka menerima tiga rombel.

Saat ini, siswa baru sekolah itu masih menumpang belajar di SDN 015 dekat Terminal Sungai Carang. Rencananya mereka akan pindah awal tahun depan atau akhir tahun ini.

Maskur juga mengatakan, bukit yang berada di samping gedung sekolah itu cukup membahayakan karena tanahnya bisa longsong setiap saat dan menimpan gedung sekolah.

Karena itulah, Maskur meminta Pemko Tanjungpinang melalui Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang untuk menyiapkan anggarannya tahun depan untuk pemasangan batu miring.

Politisi Demokrat Tanjungpinang ini mengatakan, harusnya dibangun batu miring tiga tingkat agar tanah tidak longsor. Jika anggarannya tak mencukupi, maka satu tingkat dulu untuk tahap awal.

Pihak kontraktor juga mengakui, salah satu yang prioritas untuk dibangun tahun depan adalah batu miring tersebut. Kecuali si pemilik lahan memotong bukit itu, maka tidak terlalu membahayakan bagi kondisi sekolah.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here