Jangan Abaikan, Setop Kekerasan Pada Anak

0
167
Edi Jansen Harapan Siahaan

Oleh : Edi Jansen Harapan Siahaan
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang

Kekerasan merupakan perlakuan menyimpang yang mengakibatkan luka dan menyakiti orang lain dalam bentuk penyiksaan, pemukulan dan pemerkosaan.

Jadi sesungguhnya kekerasan dapat berakibat fatal terhadap korbannya karena kekerasan sendiri bisa merusak mental seseorang baik psikologisnya maupun berujung kematian.

Sedangkan menurut Chawazi (2001) tindak kekerasan sama juga pengertiannya dengan penganiayaan, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka pada tubuh orang lain.

Dan tentunya semua orang tidak suka jika diperlakukan adanya penganiayaan atau kekerasan terhadap orang lain.

Tahukah Anda sudah sejak lama kekerasan masih terus dilakukan entah mengapa tindakan kekerasan tersebut tetap terus berkelanjutan hingga saat ini.

Menurut dokumen Convention the Nights of The Child (1989) kekerasan terhadap anak mencakup semua dalam bentuk kekerasan fisik atau mental, cedera dan pelecehan, pengabaian atau perlakuan lalai, penganiayaan atau eksploitasi termasuk pelecehan seksual terhadap anak. Tak cuma mencakup kekerasan fisik dan seksual tetapi juga kekerasan emosional.

Berdasarkan penelitian Hillis,et,ai, (2016) berjudul ‘Global Prevalence of Past Year Violence Against Children : a Systematic Review and Minimum Estimates, angka kekerasan terhadap anak tertinggi pada tahun 2014.

Terjadi di Asia ada lebih dari 714 juta atau 64% dari populasi anak-anak Asia mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan berat.

Jika kekerasan yang dinilai lebih ringan seperti memukul bokong dan menampar wajah ikut dihitung angkanya lebih besar : 888 juta anak-anak atau setara 80% populasi anak di Asia.

Berdasarkan laporan Global Report 2017 : Ending Violence in Child Houd sebanyak 73,7% anak-anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami penindasan dengan kekerasan (violence discipline) atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah.

Hal ini diperkuat data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mencatat sebanyak 4.294 kasus kekerasan pada anak dilakukan oleh keluarga dan pengasuh (2011-2016).

Kasus sebanyak terjadi pada tahun 2013 yaitu 931 kekerasan anak. Namun, jumlah ini terus-menerus menjadi 921 kasus di tahun 2014, 822 kasus di tahun 2015 dan 571 kasus di tahun 2016.

Setelah persoalan anak terlibat kasus hukum yang tercatat sebanyak 7.698 kasus. Bila dirincikan di tahun 2016 misalnya sebanyak 186 anak menjadi korban perebutan hak kuasa asuh.

Selain itu 312 anak dilarang bertemu dengan orang tuanya dan 124 anak menjadi korban penelantaran ekonomi di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman, anak justru sangat rentan menjadi korban kekerasan.

Survei kekerasan terhadap anak Indonesia tahun 2013 juga menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh ayah cenderung ditujukan kepada anak laki-laki sebanyak 41,1% anak lak-laki mendapatkan kekerasan fisik dari ayahnya.

Selain juga fisik 25,6 % anak laki-laki mendapatkan kekerasan emosional dari ayah, dan juga banyak terlihat dari 66,34% anak perempuan juga mendapat kekerasan fisik dari ibu, selain itu 49,81% anak perempuan juga mendapatkan kekerasan emosional dari ibu.

Dampak kekerasan terhadap anak apapun tujuannya sama sekali tidak bisa dianggap sepele. Kita bisa melihatnya dari penelitian UNICEF yang mengumpulkan dan menyusun berbagai dampak perlakuan kejam terhadap anak dari 178 studi.

Penyusunan itu kemudian digolongkan ke dalam 4 area yaitu kesehatan fisik, mental, keluaran kekuasaan dan dampak terhadap pendidikan dan ketenagakerjaan. Secara khusus, survei kekerasan terhadap anak Indonesia yang dilakukan pada kelompok umur 18-24 tahun yang mengalami kekerasan sebelum umur 18 tahun mengindentifikasi dampak kesehatan yang muncul akibat tindakan kekerasan.

Tahun 2017 ngerinya kekerasan anak di Kepulauan Riau mencapai 119 anak yaitu terdapatnya 7 kasus di Bintan di Karimun terdapat 3 kasus di Lingga dan Natuna masing-masing terdapat 9 kasus.

Batam menjadi puncak ngerinya kekerasan yang terdapat 63 kasus dan Tanjungpinang di posisi selanjutnya dengan 28 kasus kekerasan.

Mulai dari adanya pembunuhan, pemerkosaan, tindakan mutilasi, pemukulan yang hingga membuat korban hingga luka parah dan menyebabkan kematian.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kepulauaan Riau, Misni di Tanjungpinang, mengatakan, kasus kekerasan pada anak di Batam dan Tanjungpinang lebih menonjol.

Di era meningkatnya kekerasan pada anak ini kita harus saling menjaga satu dengan yang lain, dengan mengajarkan adanya budi pekerti kepada anak yang akan membuat moral yang bagus buat ke depannya terhadap generasi-generasi di masa yang akan datang.

Juga meningkatkan didikan dan perilaku keluarga yang dapat membimbing anak dengan santun serta memaksimalkan peran sekolah sehingga tindak kekerasan bisa berkurang dan tidak ada lagi terhadap anak yang berujung ngerinya dalam kematian. Setop kekerasan, tingkatkan kedamaian.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here