Jangan Diamkan Kaki, Mari Berlari!

0
237
LARI PAGI: Komunitas #TemanSehatPepy usai menuntaskan rute lari pagi di kawasan Tepi Laut Tanjungpinang. f-dok.pribadi pepy

Yang buruk bukan aktivitas berlari. Melainkan sekadar duduk-duduk dan mendiamkan kaki. Entah karena tren atau kebutuhan hidup sehat, mari berlari! Sebab sekarang, semakin banyak warga berlari di jalanan Tanjungpinang, entah pagi maupun petang.

TANJUNGPINANG – MULAI saat ini, berjanjilah untuk lebih berhati-hati ketika melintasi jembatan Dompak. Kurangi laju kendaraan dan jangan semena-mena. Ini bukan tentang kesehatan pengendara semata. Tapi juga demi warga yang memanfaatkan ruas jembatan itu sebagai arena berlari. Sudah bukan suatu yang mengherankan. Sejak diresmikan sekira dua tahun lalu, Jembatan I Dompak langsung diserbu warga. Sebagian memanfaatkannya untuk kongkow-kongkow, foto-foto, jalan santai, dan juga berlari.

Aktivitas berlari di jembatan sepanjang 1,7 kilometer ini acap terlihat pagi-pagi buta atau petang. Akan lebih riuh lagi di hari libur nasional dan puncaknya biasanya di akhir pekan. Oleh pemerintah provinsi Kepri, hasrat berlari ini difasilitasi melalui penyediaan trek berlari di kanan-kiri. Namun, karena tidak tembus sampai ujung jembatan, beberapa pelari tetap memilih ruas jalan utama. Itulah mengapa pengendara di sana tidak boleh semena-mena.

Keberadaan trek berlari di Jembatan Dompak berhasil mengusir kebosanan berlari di jalanan kawasan Tepi Laut. Memang, sebelum-sebelumnya rute ini jadi satu-satunya trek lari yang disukai warga. Namun, jembatan Dompak lantas menjadi alternatif.

“Kalau bosan di Tepi Laut ya pindah ke Jembatan Dompak,” kata Pepy Candra.

Ibu tiga anak ini sudah lebih dari setahun rutin berlari. Dalam sepekan, ia mengaku bisa melumat jarak lebih dari 25 kilometer. Tentu dengan dibagi lari per hari jarak tempuh pendek dari 3-5 kilometer saja. Dan itu semua, dilakukannya secara rutin di sela-sela kesibukannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tanjungpinang.

Sejak duduk di bangku legislatif pada penghujung 2014 silam, sebenarnya nyaris dikata aktivitas keseharian Pepy sudah sedemikian padatnya. Hari ke hari menghadiri rapat dan sidang paripurna. Belum lagi ketika harus melakukan kunjungan dalam dan luar daerah. Stamina fisiknya dikuras dari waktu ke waktu. Pepy sadar, sebisa mungkin ia harus meluangkan waktu untuk berolahraga. “Barang sejenak jadilah, bahaya ini kalau tidak olahraga,” tuturnya.

Terlebih bagi Pepy yang punya latar belakang sebagai penari, merasa perlu mengembalikan bentuk tubuhnya agar stamina bekerja dan berkarya tetap terjaga. Maka ia memilih aktivitas berlari sebagai penyaluran hasrat berolahraga.

Hasilnya? “Sudah setahun ini berlari dan manfaatnya di badan jadi lebih ringan, fisik jadi lebih kuat dari biasanya, jadi lebih strong,” ungkap ibu tiga anak ini.

Manfaat ini pula yang kemudian ia coba tularkan kepada orang-orang terdekatnya. Sudah pasti yang menjadi “korban pertama” adalah Husnizar Hood, suaminya. Tidak cuma berlari di akhir pekan, di tengah-tengah hari kerja, pasutri ini juga terus berusaha meluangkan waktu berlari.

“Awalnya terpaksa nemankan bini, tapi sekarang termotivasi dan terbiasa,” kata Husnizar.

Tentu bukan tanpa alasan. Kini usia Husnizar sudah 50, kendati begitu setahun terakhir diakuinya sebagai masa paling fit. Kolestrol, asam urat, stamina, semuanya dalam kondisi prima. “Bebas makan apa saja,” katanya.

Banyak yang menaksir, aktivitas Pepy-Husnizar ini sekadar mengikuti tren. Tapi keduanya telah membuktikan bahwasanya dalam setahun terakhir bisa menjaga napas dan konsistensi dalam berlari. Hal itu, kata dia, tak terlepas dari motivasi dalam diri. Baik Pepy maupun Husnizar menyadari, semuanya berpulang pada niat. “Boleh kok foto-foto pas berlari, yang tidak boleh itu tidak berlari,” kelakar Pepy.

Husnizar juga mengaku, beberapa koleganya di DPRD Kepri juga mengapresiasi konsistensi ia bersama istrinya meningkatkan kebugaran dengan berlari. Peran keduanya sebagai anggota legislatif rupanya bisa sejalan dengan hobi berlari. Tidak sekali dua, kata Pepy yang diamini Husnizar, bisa bertatap muka dengan warga yang menyampaikan keluh-kesahnya ketika berlari.

“Kalau mau dibilang tren, tapi kok kami senang ya menjalaninya. Malah kalau tak lari macam ada yang kurang,” kata Pepy.

Di mata keduanya, kini minat warga untuk berlari di Tanjungpinang menunjukkan grafik yang meningkat. Dahulu, kenang mereka, hanya segelintir saja yang terlihat berlari bersama. Tapi sekarang, kata Husnizar, sudah semakin banyak orang yang rela bangun pagi atau meluangkan waktu di sore hari untuk berlari. Kata dia, minat ini harus dibaca dan difasilitasi oleh pemerintah daerah.

“Tidak cuma sekadar menyediakan trek berlari, tapi bisa ditingkatkan menjadi event rutin tahunan. Di kota-kota besar sudah marak yang semacam itu,” ucapnya.

Ambil Car Free Day (CFD) sebagai contoh. Menurut Husnizar, kegiatan semacam ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Padahal, sambung dia, di kota-kota besar kegiatan ini mendapat ruang dan fasilitas. Malah menjadi tujuan berwisata. “Kami harapkan pemko dan kepolisian harus maksimal, sekarang tak ada petugas dan masyarakat belum sadar, kasihlah kesempatan masyarakat bisa memanfaatkan area CFD,” ungkapnya.

Pepy menyambung setali tiga uang. Sudah berulang kali ia memberi masukan kepada pemerintah daerah. Menurutnya, jika CFD di Tepi Laut diseriusi dan diisi dengan kegiatan-kegiatan kreatif akan sejalan dengan program menumbuhkan minat berwisata ke Tanjungpinang.

“Coba bayangkan deh,” kata Pepy, “agaknya cuma di Tanjungpinang aja yang CFD-nya bisa sambil lihat laut. Di Jakarta atau Bandung tak ada yang macam ini, tapi ramai kok di sana yang lari.”

Sebelumnya, Pemko Tanjungpinang memang pernah coba membangun pariwisata berbasis lari. Wali kota kala itu, Lis Darmansyah menggelar Tanjungpinang 10K. Ia berjanji, gelaran ini akan menjadi kegiatan rutin instansi terkait.

“Melihat dari banyaknya peserta yang ikut, tak hanya dari masyarakat dan pelajar di Kota Tanjungpinang saja, tetapi ada yang dari Medan, Jambi, Kalimantan. Ini menunjukkan bahwa pengembangan olahraga ini menjadi sesuatu yang kita harapkan untuk terus ditingkatkan, sehingga ini bisa lebih memacu prestasi olahraga di Kota Tanjungpinang,” kata Lis, pertengahan 2017 silam.

Lari sebagai agenda pariwisata juga sudah lama ditaja Pemerintah Kabupaten. Dimulai dari gelaran Bintan Marathon, KasmaRUN, sampai Moon Run. Hajatan ini mengundang wisatawan dari berbagai negara untuk berlari menikmati lanskap panorama Bintan. Dari tahun ke tahun, tidak sepi peminat. Hal ini membuktikan bahwasanya berlari mulai bergeser dari sekadar tren menjadi kebutuhan untuk menjaga kebugaran badan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here