Jangan karena Ingin Trendy Membuat Kita Lupa Diri

0
605
Siti Zulaikha

Oleh: Siti Zulaikha
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang

Kini, banyak prilaku kalangan remaja yang mengarah ke negatif. Salah satunya karena perkembangan zaman, yakni ingin bergaya hidup mewah atau kekinian. Itulah yang banyak mambuat pergaulan remaja semakin kebablasan. Kondisi ini diperparah oleh pergaulan remaja Indonesia yang sudah banyak tercampur dengan gaya-gaya pergaulan dari luar. Mudahnya masuk budaya luar membuat ciri khas budaya Indonesia menjadi pudar, bahkan cenderung tidak lagi terlihat.

Contohnya dalam urusan percintaan di kalangan remaja. Remaja kini saat jatuh cinta malah cenderung berbuat nekad dan melakukan yang tak patut untuk dikerjakan. Parahnya lagi, ada yang menganggap pacaran sebagai bentuk atau tempat penyaluran hasrat seksual. Astaghfirullah…

Kalangan remaja, mulai menjalin hubungan pacaran yang mula-mula memang hanya sebatas untuk merasakan kasih sayang dari seseorang yang dianggap ‘spesial’ bagi mereka setelah orang tuanya. Namun, seiring berjalannya waktu banyak kejadian-kejadian yang akhirnya mendorong untuk melakukan tindakan yang dilarang. Tidak hanya bertukar sayang dan kasih, sudah banyak yang sampai nekad berbuat mesum dan menjadikan pacar sebagai tempat menyalurkan hasrat seksual.

Gaya pacaran remaja kini sudah sangat tidak lazim lagi. Mulai dari siswa SMA, mahasiswa bahkan anak SD ada yang mulai mencoba-coba. Bahkan, ada yang konyol dengan menjawab berbuat melakukan perbuatan mesum dengan pacar sebagai ekspresi dari rasa cintanya terhadap sang ‘pacar’. Nauzubillah min zalik…

Baca Juga :  Pentingnya Pengawasan Keamanan Pangan Segar

Kekhawatiran yang muncul ketika perkembangan zaman yang maju dengan berbagai akses, yang sangat mudah dijangkau membuat remaja mudah terpengaruh dengan hal-hal negatif. Seperti menonton you tube dengan konten porno dan situs-situs terlarang lainnya di internet. Hal tersebut membuat para remaja memiliki rasa ingin tahu dan ingin mencoba. Sehingga remaja memulainya dengan pacaran negatif dan berakhir seks pranikah.

Merasa semakin asyik dengan apa yang diperbuat. Sebagian remaja melakukan hal yang sangat fatal. Sehingga menyebabkan remaja perempuan tersebut hamil. Hal ini terlihat dari data dispensasi nikah di Pengadilan Agama Tanjungpinang yang kutip Tanjungpinang Pos beberapa waktu lalu. Tahun 2018 lalu tercatat ada 39 rekomendasi yang dikeluarkan Pengadilan Agama agar remaja usia sekolah bisa dinikahkan.

39 Orang itu baru jumlah yang hamil dan mengurus surat nikah saja. Lalu brapa banyak yang terjebak seks pranikah namun tidak hamil? Tentu jumlah itu jauh lebih banyak. Belum lagi berapa banyak yang hamil tapi nekad aborsi? Angkanya tentu sudah sangat memprihatinkan. Anak usia sekolah mestinya harus sibuk dengan urusan pelajaran. Bahkan, angka penularan penyakit mematikan seksual/HIV juga sudah masuk ke anak-anak usia sekolah.

Banyak kalangan remaja khususnya yang laki-laki berasumsi bahwa mereka tidak ingin menikah di usia dini. Hal tersebut menjadi alasan karena mereka merasa belum siap. Tidak heran jika banyak wanita mengatakan “bahwa laki-laki hanya ingin enaknya saja, disuruh tanggung jawab malah memberikan banyak alasan”.

Baca Juga :  Batam, Turki-nya Indonesia

Faktor terbesar yang mengakibatan remaja kita terjerumus ke dalam prilaku seks bebas adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua serta lemahnya pengetahuan tentang agama. Untuk itu, sangat dibutuhkan adanya keterbukaan antara orang tua dan anak dengan melakukan komunikasi yang baik. Seperti menjadi tempat curhat sang anak, mendukung apa yang mereka suka selagi itu positif seperti olahraga, selain menyehatkan juga membuat remaja tertuju ke arah kegiatantersebut.sehingga, memperkecil kemungkinan mereka untuk melakukan hal yang menyimpang tersebut.

Hal ini sangat memerlukan tempat untuk menampung atau membantu menyelesaikan masalah kejadian seks bebas ini. Perlu adanya sikap tegas dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas, agar kasus yang sudah terjadi tidak terulang lagi. Beberapa dampak dari seks bebas di antaranya: kanker serviks, tertular penyakit HIV yang menyebabkan kemandulan, serta berdampak terhadap psikologi.

Untuk terhindar dari pergaulan bebas mesti dikembalikan pada diri masing-masing. Kita semua harus sepakat dan berani serta tegas mengatakan “tidak” terhadap seks bebas.

Seks bebas yang terjadi di antaranya karena beberapa faktor. Salah satu merasa takut ditinggalkan pacarnya sehingga selalu mengikuti apa yang diinginkan pacarnya. Selain itu ada juga yang nekad melakukannya karena anak gaul hingga seks bebas dianggap hal yang biasa. Faktor lain karena rendahnya pengetahuan agama hingga mereka tidak lagi memiliki rasa takut terhadap dosa besar yang mereka lakukan.

Baca Juga :  Siapa yang Mau Jadi Walikotaku?

Untuk pencegahannya ada beberapa hal yang idealnya dilakukan yakni meningkatkan kersama antara orang tua dengan pihak sekolah mengenai pendidikan moral bagi anak anak-anak, perlu ada pendekatan antara orang tua dan anak sehingga terjalin hubungan yang baik hingga setiap perkembangan anak bisa terpantau dengan baik oleh orangtua, selain itu mengawasi dan membatasi media tontonan anak yang berhubungan dengan internet. Dan untuk para remaja juga harus bijak dan selektif dalam memilih teman agar tidak salah dalam bergaul, serta jangan sungkat untuk menasehati teman yang mencoba melakukan perbuatan yang salah.

Jika cara mengekspresikan cinta kepada sang pacar lebih ke positif, pasti itu akan membuat inspirasi. Tapi tetap saja salah, karena sudah berpacaran. Karena menurut saya, di dalam Islam sangat tidak dianjurkan untuk berpacaran melainkan ta’aruf. Yang mana ta’aruf sendiri berarti pengenalan. Jadi seseorang bisa saling mengenal satu sama lain dengan catatan masih dalam pengawasan kedua orang tua mereka. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here