Jangan Sampai Kehormatan Guru Terkikis Zaman

0
290
Dini Luly Tri Hartin

Oleh : Dini Luly Tri Hartin
Mahasiswa Administrasi Publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Di Indonesia pendidikan merupakan faktor penting kewibawaan negara yang didapatkan. Di dalam pendidikan ini tak lepasnya dari peran guru. Guru ialah panutan setiap siswa, maka dari itu guru seharusnya digugu dan ditiru. Sejak dulu kehormatan seorang guru itu sangat penting di hadapan siswa-siswa untuk menjadikan sebuah karakter generasi muda yang maju. Jangan pernah membandingkan pendapatan guru dengan apa yang mereka ajarkan terhadap siswa-siswanya, karena itu semua tidaklah sebanding dengan ilmu yang didapat oleh siswa. Dapat dilihat dari kesabaran guru menghadapi perilaku siswa secara individu. Dengan adanya dedikasi yang kuat dan jasa yang menyertai merupakan usaha seorang guru untuk mencemerlangkan bangsa yang kuat, membuktikan keterdidikan seorang siswa. Sama halnya guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Seiring dengan perkembangannya zaman kehormatan guru ini semakin memudar di hadapan siswanya. Semuanya seakan menjadi berbanding terbalik. Banyak sekali kisah haru yang dialami guru. Cara siswa memperlakukan guru sudah berbeda. Di Indonesia sekarang ini banyak sekali kita dengar guru yang tak lagi dihormati oleh siswa-siswanya. Adakah yang salah dengan guru, sehingga hilanglah budi pekerti dari seorang siswa itu. Tidak bisa sepenuhnya menyalahkan guru, hal ini bisa terjadi karna sikap orang tua yang terlalu membiarkan anak-anaknya untuk melakukan sesuatu baik yang wajar maupun tidak. Bahkan, bisa terjadi karena pergaulan anak itu sendiri di luar. Padahal dengan adanya kurikulum 2013, kurikulum ini disusun untuk mengantisipasi perkembangan siswa di masa depan, agar tidak menjadi pandangan yang salah terhadap dunia pendidikan.

Di zaman dulu biarlah siswa yang dicubit, dimarah oleh guru selagi benar siswa itu yang terbukti bersalah, dan jarang sekali siswa membalas kekerasan terhadap guru. Tidak bisa dipungkiri dengan berkembangnya zaman, akhir-akhir ini cukup banyak berita yang beredar, kekerasan yang dilakukan siswa terhadap guru. Hal inilah yang membuat buramnya pandangan dunia pendidikan. Dapat diambil dari kisah seorang siswa salahs atu SMA beberapa waktu lalu. Siswa itu menganiaya gurunya sendiri hingga meninggal dunia. Siswa tersebut terbukti melakukan tindak pidana yang sesuai dengan isi pasal 334 KUHP, dengan hukuman penjara 7.5 tahun. Tidak mengherankan, banyaknya kasus perlakuan siswa yang tidak layak kepada guru telah mengakibatkan runtuhnya moralitas generasi muda.

Pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 4 ayat 2 “pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, nilai keagamaan nilai kultural, dan kemajemukan bangsa” Pasal 12 ayat 2 a “Menjaga norman-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan”. Dari peraturan tersebut dapat dilihat aturan-aturan di dunia pendidikan itu harus dijaga, jangan dilanggar.

Jasanya seorang guru sekarang ini kurang sekali dipandang. Ketika seorang guru berhasil mendidik anak muridnya menjadi sukses, guru tidak lagi disebut sebagai orang yang berjasa terhadap dirinya. Namun ketika guru melakukan kesalahan dalam bentuk kekerasan dan lain-lain, langsung dengan sigap orang tua melaporkan anaknya ke kantor polisi. Para orang tua pasti melapor dan menuduh bahwa guru tersebut telah melakukan pelanggaran HAM terhadap anaknya, hanya karena memberi sanksi terhadap kesalahan anak tersebut. Bahkan, sekarang ini banyak guru yang dibayangi berbagai ancaman, hingga ancaman jeruji besi.

Dengan adanya Komnas Perlindungan Anak di Indonesia saat ini memang sangat bermanfaat. Namun disisi lain Komnas dan UU Perlindungan Anak dijadikan alasan untuk melindungi anak-anaknya yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Padahal masa pendidikan 10 hingga 20 tahun yang lalu, metode-metode pendidikan sangat klasik atau tradisional. Dimana pada masa dulu murid mempunyai tata krama, sopan santun, disiplin bahkan intelektual yang tinggi. Guru pun pada masa itu mempunyai wibawa dan kehormatan yang sangat tinggi sebagai pendidik. Dan jika dilihat dengan kondisi sekarang semua telah berbanding terbalik.

Dari masalah tersebut ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, posisi sosial lebih tinggi dari pada guru, hal ini biasanya berasal dari keluarga yang terpandang atau bisa saja siswa tersebut orang tuanya pejabat. Jadi karena itulah siswa menjadi tidak takut terhadap guru sebab orang tuanya pasti akan mendukungnya. Kedua, ekonomi keluarga siswa tersebut lebih tinggi atau lebih baik dari pada guru, hal ini biasanya terjadi pada sekolah favorit. Dimana siswa tersebut memandang rendah terhadap gurunya. Ketiga, guru tersebut tidak menampilkan kehormatan atau kewibawaan seorang guru terhadap siswa siswanya, sehingga siswa tersebut menganggap guru sebagai teman. Keempat, pengaruh kebebasan menggunakan akses internet dengan menggunakan handphone di sekolah, hal ini juga sangat memengaruhi pemikiran yang tidak baik kepada siswa. Kelima, orangtua siswa terlalu over protektif kepada anaknya, dimana orangtua yang tidak mempercayai sepenuhnya pendidikan terhadap siswa itu.

Ada juga faktor untuk memperbaiki potret pendidikan sekarang ini. Pertama, bersikap wajar dan adil kepada semua siswa, guru itu harus dituntut seadil-adilnya kepada siswa agar siswa tidak akan berpendapat bahwa guru itu akan pilih kasih kepada beberapa siswa lainnya. Dan jika siswa salah, buatlah perilaku atau sanksi sewajarnya dari seorang guru. Kedua, buatlah kontrak atau perjanjian peraturan antara siswa dan guru, hal ini akan sangat membantu dimana peraturan itu jika dilanggar akan mendapat sanksi sesuai kesepakatan siswa dan guru. Namun aturan itu harus juga dipadukan dengan aturan sekolah. Sehingga para siswa akan lebih patuh dan menghormati gurunya. Ketiga, guru harus menghargai siswa untuk mendapatkan rasa hormat dari siswa itu. Hargailah sikap dan sifat positif , pendapat dan karya siswa. Secara otomatis siswa juga akan menghormati gurunya. Keempat, jadilah bagian dari mereka. Guru harus lebih teliti dalam menempatkan diri pada situasi belajar, dimana guru bisa menjadi teman, bisa menempatkan menjadi seorang guru yang sangat terhormat. Kelima, humoris atau bersikap menyenangkan. Hal ini akan membuat siswa menjadi jauh dari ketegangan didalam belajar. Tetapi sikap ini guru harus berhati-hati dalam bersikap. Guru juga harus tegas kepada siswa nya agar siswa itu tidak merendahkan guru tersebut. Keenam, berikan motivasi kepada siswa agar mereka bisa berfikir kreatif dan inovatif. Dan berikan kebebasan berpendapat dan memilih. Walaupun salah biarkan mereka berpendapat hingga ada pendapat yang benar. Jika tidak ada, inilah tugas guru untuk membenarkan dan mejelaskan kepada siswa. Guru tidak bisa menuntut siswa itu harus bisa, tetapi guru harus meningkatkan kritis atau pemikiran intelektual para siswa.

Tidaklah mudah menjadi seorang guru, apalagi dalam mengemban tanggung jawab bagi banyaknya siswa, mengabdi pada perubahan bangsa untuk negara lebih maju. Menghormati seorang guru ialah kewajiban, guru itulah yang menciptakan generasi-generasi muda untuk berfikir maju dan cerdas. Dan orang tua juga harus percaya terhadap pendidikan yang diberikan guru terhadap anak-anaknya. Keras lembutnya didikan seorang guru ialah semat-mata tanggung jawab yang mulia demi anak yang sukses dan berhasil. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here