Jangan Tunggu Korban Berikutnya

0
604
Warga sedang melintasi arungan banjirF-RAYMON/TANJUNGPINAG POS

Cepat Tangani Banjir di Ibu Kota

Oktober 2018 lalu, seorang anak tewas terseret banjir di Jalan Kuantan Tanjungpinang. Jumat (18/1) kemarin, lagi-lagi, Putra, bocah SD berusia 9 tahun tewas terseret banjir di Batu 5 Bawah Tanjungpinang. Warning keras dari masyarakat untuk pemerintah, jangan tunggu korban berikutnya.

TANJUNGPINANG – BANJIR di Ibu Kota Provinsi Kepri ini sudah parah. Harus komitmen untuk menanganinya. Harus kerja sama semua pihak terutama Pemprov Kepri dan Pemko Tanjungpinang.

Bahkan, Wakil Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang Ade Angga MM meminta agar Pemko menganggarkan dana multiyears untuk penanganan banjir di Tanjungpinang.

”Kita tak bisa lagi menunggu. Jangan sampai ada lagi anak-anak yang jadi korban meninggal dunia akibat banjir. Kita semua tak ingin itu terjadi,” ujar Ade Angga kemarin.

Dirinya dan anggota dewan yang lain akan mendukung pemerintah jika menganggarkan penyelesaikan banjir secara multiyears meski itu ratusan miliar.

Berdasarkan hasil pertemuannya dengan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Kementerian PU di Batam belum lama ini, butuh biaya besar untuk menyelesaikan persoalan banjir di Tanjungpinang.

Pesan lain yang disampaikannya agar Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang H Syahrul-Hj Rahma secepatnya mengumpulkan berbagai pihak terkait untuk membahas penanganan banjir ini.

Kemudian koordinasi terus dengan Pemprov Kepri dan BWS. ”Koordinasi harus jalan. Jika mereka tidak menganggarkan, Pemko tak mungkin menunggu terus. Harus siapkan anggaran yang besar. Biar banjir beres. Banjir ini sudah lama, harus segera ditangani. Kita ingin, banjir selesai di tangan Pak Wali dan Bu Wawako,” tegasnya.

Baca Juga :  Hasil Ujian Langsung Diumumkan

Ade juga meminta Pemko atau instansi terkait untuk membuat blue print penyelesaian banjir di Tanjungpinang. Sampai saat ini, blue print tersebut belum ada.

Banjir Itu Potensi Bencana
Tekanan ke pemerintah juga datang dari Ketua LSM Air Lingkungan dan Manusia (Alim) Kherjuli. Ia mengatakan, masalah banjir yang terjadi setiap hujan deras melanda Tanjungpinang ini sudah seharusnya dicatat sebagai potensi bencana. ”Jangan ada lagi korban-korban berikutnya,” pinta Kherjuli.

Menurut Pemerhati Air dan Lingkungan di Ibu Kota Provinsi Kepri itu, korban yang terjadi akibat banjir ini kerap kali terjadi dan korbannya selalu anak di bawah umur.

Masih ingat, kata dia, seorang bocah yang meninggal dunia di Jalan Kuantan sempat hilang dan hampir semua masyarakat di lingkungan sekitar, termasuk aparat kepolisian dan BPBD di Kota harus Tanjungpinang turun tangan mencarinya.

”Saya minta BPBD, jangan tutup mata,” tegasnya.

Kherjuli menyampaikan, Kamis (17/1) malam itu menjelang Jumat dinihari kemarin, ada perubahan iklim, sejak sore sampai malam hari suhu panas. Sehingga pada saat air pasang disertai hujan lebat, peristiwa banjir ini terjadi di setiap sudut Tanjungpinang yang pemukimannya rendah.

”Kami minta urusan banjir ini pemerintah tidak tutup mata. Tidak lalai menyikapi peristiwa ini. Harus lebih serius,” sarannya demikian.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Tanjungpinang, mengatakan, tahun ini mereka hendak membuat master plan perencanaan penyelesaikan banjir di Tanjungpinang.

”Tapi setelah diskusi dengan pihak BWS, mereka yang akan membuatnya. Jadi sekaligsu nanti dengan master plan penanganan banjir Bintan. Mereka yang membuat master plan penanganan banjir Pulau Bintan ini,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos saat meninjau pembongkaran parit tersumbat di Jl. Ir Sutami.

Baca Juga :  SMP IT Al-Amanah Buka Pendaftaran Siswa Baru

Namun, penanganan banjir di Tanjungpinang tetap dilakukan tahun 2019 ini meski anggarannya terbatas. Misalnya, pendalaman alur sekitar 1,5 meter untuk menuntaskan banjir di Perumahan Taman Harapan Indah Jalan DI Panjaitan Batu 10.

Masih ada beberapa titik lagi yang akan ditangani termasuk di Jalan Kuantan yang kerja sama dengan Pemprov Kepri.

Henri juga mengatakan, untuk menuntaskan banjir di Tanjungpinang, Pemprov Kepri harus mengalokasikan anggaran yang besar mengingat titik banjir di kota ini sebagian besar di jalan provinsi.

Cari Solusi, Segera Bertindak
Gubernur Kepri H Nurdin Basirun menegaskan bahwa dalam menyikapi bencana salah satunya banjir adalah dengan segera bertindak. Hal ini untuk meminimalisir setiap hal negatif yang akan ditimbulkan karena bencana bisa datang kapan saja maka harus ada solusi jangka pendek dan panjang.

”Sekarang, saya minta segera ditindaklanjuti oleh instansi terkait, sekarang harus ada solusi awal, kerahkan para petugas agar mulai membersihkan drainase yang terhalang sampah yang bisa membuat arus air terhambat,” tegas Nurdin kepada Abu Bakar, Kepala Dinas PU Kepri usai meninjau sejumlah lokasi banjir di Tanjungpinang, Jumat (18/1) pagi.

Dalam menyikapi banjir, menurut Nurdin, semua pihak tidak harus saling menyalahkan, tapi harus bersatu padu karena lingkungan adalah milik bersama tentu dalam menjaganya pula perlu bekerja sama.

Baca Juga :  Kampanye Jokowi di Batam Dihibur Jamrud

Nurdin ikut bersihkan sejumlah drainase. Dia juga mengeluarkan uang pribadi untuk mengupah para pekerja harian membersihkan drainase. Karena Nurdin tak ingin adal hal-hal yang melanggar aturan.

”Nanti petugas segera turun ke titik lokasi, kita juga ajak masyarakat ikut membantu, ini harus segera diatasi,” lanjut Nurdin yang didampingi Sekdaprov H TS Arif Fadillah.

Tanjungpinang sendiri dilanda hujan sejak Kamis (17/1) malam yang mana intensitasnya mulai meningkat menjelang subuh dini hari. Nurdin pun yang ketika selesai safari subuh hendak pulang kekediaman harus melewati banjir yang telah setinggi setengah mobil yang dikendarainya.

Lantas tidak langsung kembali ke kediaman, Nurdin langsung meninjau sejumlah titik banjir seperti di Kampung Kolam, Yudowinangun dan Jl. Gatot Subroto, Km. 5 Bawah.

Untuk jangka panjang sendiri, Nurdin meminta agar Dinas PU segera memetakan lokasi-lokasi yang rawan banjir, tidak hanya di Tanjungpinang saja namun kabupaten dan kota di seluruh Kepri. Agar solusi jangka panjang segera dibuat sehingga dapat meminimalisir dampak banjir tersebut.

”Sekarang penduduk dan pemukiman kan sudah padat, pasti ada juga drainase yang tidak bisa menampung intensitas air yang banyak, ini ke depan yang harus kita tindak lanjuti agar drainase yang ada nanti mampu menahan air dengan intensitas yang tinggi,” tutup Nurdin.(mas/dlp/ais/ray/dri)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here