Jelang Musim Utara, Warga Stok Pangan

0
87
HUJAN deras dan angin kencang mulai melanda Natuna. Kini Kepri mulai dilanda musim angin utara. F-HARDIANSYAH/TANJUNGPINANG POS

Natuna mulai dihembus angin kencang yang disertai hujan deras, serta petir yang merupakan tanda memasuki musim utara. Kondisi ini, membuat warga Natuna mulai menyetok segala kebutuhan hidup seperti pangan karena sering mengalami kelangkaan saat memasuki musin angin utara.

NATUNA – Musim utara dan dampaknya berlangsung saban tahun selama kurang lebih 4 bulan, tepatnya dipenghujung hingga permulaan tahun.

Selama musim ini, keadaan alam seakan mengumbar darurat berdampak pada lumpuhnya kegiatan masyarakat di laut dan di darat.

Untuk itu, masyarakat pun mulai menyetok pangan untuk selama musim utara.

Pada musim utara tiba, tidak sembarang kapal bisa berlayar yang membawa muatan kapal berupa orang dan barang harus menunggu cuaca reda di pelabuhan.

Akibatnya, tertundanya sejumlah pelayaran bverdampak pada kelangkaan barang yang tidak terelakkan. Sebab, segala kebutuhan hidup masyarakat Natuna di pasok dari luar Natuna melalui jalur laut.

Di saat seperti ini, masyarakat menyetok segala kebutuhan pangan sebelum musim itu datang membawa ngeri.

”Dulu pada musim utara, kami ada kebiasaan yang disebut tutup kelambu. Semua orang kebanyakan dirumah karena tak bisa bekerja seperti biasa. Mencari makan juga susah karena bahannya langka,” kata Zaenab, seorang warga Ranai, Rabu (9/10).

Pemerintah Kabupaten Natuna menyadari betul pancaroba ini. Untuk itu, segala cara dilakukan untuk bisa menanggulangi serta mengatasi keadaan.

”Ya, kita sudah hampir masuk musim utara, namun kami optimis dan berharap musim utara tahun ini tidak berpengaruh buruk terhadap kondisi pangan,” kata Kadisprindag Kabupaten Natuna, Helmi Wahyuda.

Ia menambahkan, beberapa langkah sudah ditentukan untuk menguatkan pangan.
Mereka menggenjot program swasembada pangan, dan menggalang dukungan sarana kapal angkutan dari lintas instansi serta stakeholder yang punya kemampuan.

”Sistem negara yang bertanggungjawab atas pangan seperti Bulog, Perum Perikanan Indonesia (Perindo) dan lembaga usaha negara lainnya juga diperkuat untuk tujuan yang sama. Pedagang retail dan grosir juga dirangkul untuk menjamin ketersediaan pangan di 15 kecamatan,” terang Helmi.

Di sisi lain, kesadaran dan inisiatif masyarakat mengolah lahan sawah dan kebun semakin tinggi. Sehingga, ketergantungan impor bisa ditekan walaupun belum maksimal.

”Sekarang kita cukup siap mengahadapi musim ini. Kami rutin memantau stok pangan, koordinasi dengan pedagang Sembako, pengusaha, ekspedisi, Dishub, bahkan TNI – Polri untuk memperkaya dukungan, apalagi sekarang ada Tol Laut. Dengan ini kami yakin, kita bisa meninggalkan kondisi yang buruk ini ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.

Terasa memang dalam keseharian. Stabilitas pangan semakin kuat atas hadirinya perangkat negara dan tumbuhnya inisiatif swasembada masyarakat di Natuna. (HARDIANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here