Jembatan Marok Tua Butuh Rp 3,7 Miliar

0
1347
DIBANGUN: Warga Desa Marok Kecamatan Singkep Bara berharap pemerintah segera membangun jembatan kayu tua tersebut menjadi permanen.F-TENGKU/tanjungpinang pos

LINGGA – PEMERINTAH Kabupaten Lingga melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU), akan mengupayakan untuk membangun jembatan kayu tua di Desa Marok, Kecamatan Singkep Barat.

Upaya tersebut, dengan mengajukan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri). Kepala Dinas PU Said Nursyahdu mengatakan, telah menyampaikan hal itu kepada Sekdaprov serta Bagian Umum.

”Keinginan untuk membangun jembatan di Desa Marok, telah melalui beberapa kali pembahasan bersama. Juga telah disampaikan kepada ketua DPRD Provinsi pak Jumaga Nadeak,” terang Said, kemarin.

Untuk menjadikan jembatan permanen, pihaknya telah merancang Detailed Engineering Design (DED). Baru-baru ini, jembatan tersebut terputus karena dihantam gelombang dan angin kencang.

Baca Juga :  Awe Persilahkan Kritik Kebijakan Pemkab

Said mengungkapkan, pembangunan jembatan tua Desa Marok itu memerlukan anggaran Rp 3,7 miliar. Selain itu, kondisi keuangan Pemkab Lingga sedang minim. Jembatan yang memiliki panjang 220 meter dan lebar 2,5 meter, sebagai akses masyarakat ke pusat kecamatan.

”Kejadian itu sebelumnya pernah terjadi pada 2016 lalu. Saat itu, warga setempat bergotong royong membangun kembali jembatan itu,” ungkapnya.

Kini, jembatan tersebut mengalami rusak berat dan tak dapat dilintasi. Diketahui, masyarakat telah menyampaikan permintaan tersebut kepada pemerintah. Namun, keinginan masyarakat saat itu tidak direspon oleh Pemkab Lingga. Amin, salah seorang masyarakat Marok menyampaikan, bahwa permintaan warga tidak bisa ditawar-tawar.

Baca Juga :  Sidak, Awe Ngaku dari Tanjungpinang Pos

Sebab, tak sedikit biaya yang dikeluarkan warga desa untuk memperbaiki jembatan itu setiap tahunnya. Untuk itu, masyarakat berharap jembatan tersebut segera dibangun secara permanen.

”Kami tidak meminta lebih. Hanya meminta dibangun jembatan permanen, dan kalau tidak kami harus menanggung biaya bersama-sama setiap tahunnya untuk perbaikan,” ujar Amin.

Ia menjelaskan, jembatan yang awalnya diberi nama Nyio Gading tersebut kini berganti nama menjadi jembatan Anak Tiri. Pergantian nama itu, didasari karena tidak dipedulikan oleh pihak pemerintah. Informasi yang diperoleh warga setempat, tahun 2014 lalu Pemkab Lingga pernah akan membangun jembatan ini.

Baca Juga :  Lingga Jadi Contoh Pengembangan Peternakan

Namun, rencana tersebut dibatalkan karena defisit anggaran dan tempat jembatan yang tidak sesuai. ”Kami sudah biasa dengan janji-janji palsu pemerintah. Kami hanya ingin pemerintah membangun jembatan yang menjadi sendi ekonomi warga,” ucapnya.(TENGKU IRWANSYAH)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here