Jembatan Wisata Mangrove Hancur

0
97
Masyarakat melihat langsung kondisi jembatan wisata mangrove di kawasan wisata Kota Rebah rusak parah. f-andri/tanjungpinang pos
Sungai Carang memiliki banyak peninggalan bersejarah. Mulai dari sejarah Kota Rebah hingga Kota Piring. Hanya saja, banyak peninggalan bersejarah yang tidak terawat.

TANJUNGPINANG – Fasilitas yang dibangun di sana kondisinya juga sudah mulai lapuk. Salah satunya, jembatan wisata hutan mangrove.

Padahal, demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemko Tanjungpinang mulai bangun sejumlah kawasan obyek, destinasi wisata baru.

Termasuk Kota Lama akan disulap jadi objek wisata baru. Namun sayang, sarana dan prasana objek wisata hutan mangrove Kota Rebah dibiarkan hancur begitu saja.

Pantauan di Istana Kota Rebah, Minggu (14/7), terlihat ranting pohon menjalar sudah menutupi akses jembatan wisata mangrove yang terbuat dari kayu.

Sehingga terkesan tidak ada akses jalan untuk dilintasi. Mirisnya lagi, kayu penyangga jembatan wisata mangrove sudah pada rapuh hingga keropos. Fasilitas yang ada yang membuat hati menjadi sedih.

Kondisi jembatan yang difungsikan untuk melihat agar bisa melihat lebih dekat hutan bakau di sepanjang Kota Rebah sudah rusak parah dan lapuk. Padahal, jembatan ini sering dilalui pengunjung yang ingin melihat peninggalan sejarah. Jembatan ini salah satu akses menuju kawasan wisata hutan bakau. Masih terlihat binatang seperti biawak, ikan, kepiting di sela-sela pohon bakau.

Karena kondisinya yang bisa membahayakan, nyaris tak ada yang melintasi jembatan ini.

Pengunjung umum mulai berkurang mendatangi wisata ini. Selain, akses belum diaspal juga karena kawasan wisata ini kurang dipromosinya oleh pemerintah daerah.

Kemudian, sebagian papan yang dijadikan lantai jembatan wisata mangrove sudah pada rapuh. Ini diketahui saat diinjak, kepingan papan jatuh ke bawah.

Selain rapuh, papan sudah banyak yang hilang. Sehingga tidak ada lagi akses untuk menuju ke pondok berada di tengah mangrove.

Dengan kondisi ini, mengundang keprihatinan David, salah satu pengunjung Istana Kota Rebah berada di wilayah Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota.

Kota Rebah yang dulunya merupakan pusat perdagangan internasional di masa Kerajaan Riau-Johor, kini dijadikan salah satu tempat wisata sejarah di Kota Tanjungpinang. Sayangnya, objek wisata yang berada di hulu Sungai Carang ini terkesan kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

”Sayang ya, tidak dirawat lagi,” ucap David, salah satu warga, yang sedang berwisata dilokasi tersebut, kemarin.

Kata David, ia bersama kerabatnya sering berkunjung ke jembatan wisata mangrove pada 2014 lalu. Selama berkunjung, ia menikmati pemandangan serta keindahan pohon mangrove berada di jembatan tersebut. Karena, jembatanya masih bagus, jadi bisa melihat hutan mangrove dan sungan carang lebih dekat lagi.

Selain itu, ia bersama kerabatnya selalu memanfaatkan momen saat berada di jembatan wisata mangrove. Salah satunya mengabdikan foto melalui ponsel miliknya dan kerabatnya.

”Pokoknya waktu tempat wisata disini sangat banyak didatangi masyarakat dan mangrovenya bagus,” ucap dia.

Dengan kondisi saat ini, diharapkan, pemerintah dalam hal ini Pemko Tanjungpinang untuk memperhatikan jembatan wisata mangrove. Agar jembatan wisata mangrove bisa diperbaiki seperti sebelumnya yang bisa diakses oleh pengunjung.

”Saya rasa yang mengunjungi jembatan ini tidak masyarakat Tanjungpinang saja. Pasti ada dari luar daerah Kota Tanjungpinang,” sebut dia.

Hingga berita ini terbit, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Tanjungpinang, Surjadi belum memberikan keterangan kepada awak media ini. (ANDRI – ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here