Jempolmu Harimaumu

0
462

Dian Fadillah, S.Sos
Ketua PKBM Suara Lampion Kepri

HATE SPEECH merupakan fenomana baru pada zaman ini yang merupakan permasalahan yang sebenarnya adalah hal yang lama. Mengapa demikian, hate speech merupakan bahasa terkini dari namanya Gunjing (Ghibah) pada dahulunya dengan istilah “Mulutmu Harimaumu” yang Artinya apabila salah berucap, bisa2 kata keluar dari mulut itu akan membinasakan yang bersangkutan. Apakah itu yang namanya pertengkaran, perceraian, perkelahian, sampai pembunuhan berawal dari yang namanya lidah/ucapan yang tajam. Hate Speech (Ucapan Penghinaan/atau kebencian) adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual,kewarganegaraan,
Apabila dilihat dari Sudut Hukum bahwa Arti dari Ujaran Kebencian (Hate Speech) sendiri adalah Tindakan komunikasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu/kelompok lain (ras, warna kulit, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama dan lain-lain). Ujaran Kebencian (Hate Speech) adalah perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang karena dapat memicu untuk terjadinya tindakan kekerasan dan sikap prasangka. Prasangka yang dimaksud bisa dari pihak pelaku pernyataan ataupun korban dari tindakan. Website yang menggunakan/menerapkan Ujaran Kebencian dikenal dengan sebutan Hate Site yang menggunakan Forum Internet dan Berita untuk mempertegas suatu sudut pandang tertentu.

Hampir semua Negara diseluruh Dunia mempunyai undang-undang yang mengatur tentang Ujaran Kebencian (Hate Speech). Terkhusus untuk Indonesia Pasal-Pasal yang mengatur tindakan tentang Ujaran Kebencian (Hate Speech) terhadap seseorang, kelompok ataupun lembaga berdasarkan Surat Edaran Kapolri No: SE/06/X/2015 terdapat di dalam Pasal 156, Pasal 157, Pasal 310, Pasal 311, kemudian Pasal 28 jis.Pasal 45 ayat (2) UU No 11 tahun 2008 tentang informasi & transaksi elektronik dan Pasal 16 UU No 40 Tahun 2008 tentang penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Berikut beberapa penjabaran singkat terkait Pasal-Pasal didalam Undang-undang yang mengatur tentang Ujaran Kebencian (Hate Speech) sebgaimana dalam Pasal 45 ayat (2): Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan resiko beserta sangksi sangsi lain yang memberatkan dan perlu pemikiran lebih lanjut. Dalam kasus yang ditemukan selama ini di Negara kita bahwa Ujaran Kebencian akan berdampak pada pelanggaran HAM ringan sampai dengan yang berat. Selalu awalnya hanya kata-kata, baik di media sosial, maupun lewat selebaran yang efeknya mampu menggerakan massa hingga memicu konflik dan pertumpahan darah. Oleh sebab itu di perlukan tindakan aparat dan penegak hukum khususnya Kepolisian untuk mencegah dan melakukan tindakan preventif maupun represif dalam menangani kasus ini.

Apabila tidak ditangani dengan segera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan akan berpotensi memunculkan konflik sosial yang meluas, dan berpotensi menimbulkan tindak diskriminasi, kekerasan dan atau penghilangan nyawa. Didalam surat Edaran itu Kapolri NOMOR SE/06/X/2015 tentang Ujaran Kebencian (Hate Speech) dijelaskan pengertian tentang Ujaran Kebencian (Hate Speech) dapat berupa tindak pidana yang di atur dalam KUHP dan ketentuan pidana lainnya di luar KUHP,[2] yang berbentuk Penghinaan, Pencemaran nama baik, Penistaan, Perbuatan tidak menyenangkan, Memprovokasi, Menghasut dan Menyebarkan berita bohong sehingga dialihat memiliki tujuan dan bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa dan atau konflik sosial. Selanjutnya dalam Surat Edaran (SE) pada huruf (h) disebutkan, Ujaran Kebencian (Hate Speech) sebagaimana dimaksud diatas dapat dilakukan melalui berbagai media dalam Orasi kegiatan kampanye, Spanduk atau banner, Jejaring media social, Penyampaian pendapat di muka umum (demonstrasi), Ceramah keagamaan, Media masa cetak atau elektroni dan Pamflet.[3]

Ruang lingkup kejahatan Ujaran Kebencian (Hate Speech) tergolong ke dalam tindak pidana terhadap kehormatan, istilah lain yang juga umum dipergunakan untuk tindak pidana terhadap kehormatan adalah tindak pidana penghinaan. Dipandang dari sisi sasaran atau objek delicti, yang merupakan maksud atau tujuan dari Pasal tersebut yakni melindungi kehormatan, maka tindak pidana terhadap kehormatan lebih tepat. Pembuat undang-undang sejak semula bermaksud melindung Kehormatan, dalam bahasa Belanda disebut eer serta Nama Baik, dalam bahasa Belanda disebut geode naam. Jika dipandang dari sisi feit/perbuatan maka tindak pidana penghinaan tidak keliru.

Para pakar belum sependapat tentang arti dan definisi kehormatan dan nama baik, tetapi sependapat bahwa kehormatan dan nama baik menjadi hak seseorang atau hak asasi setiap manusia. Hanya manusia yang dapat memiliki kehormatan dan nama baik. Binatang meskipun saat ini ada yang telah diberikan nama, tetapi tidak dapat memiliki kehormatan dan nama baik. Bagi masyarakat Indonesia, kehormatan dan nama baik telah tercakup pada Pancasila, baik pada Ketuhanan Yang Maha Esa maupun pada kemanusiaan yang adil dan beradab, hidup saling menghormati.

Dalam ajaran agama apapun termasuk Islam disuruh menjaga lidah. Begitu banyak orang yang masuk neraka akibat tidak bisa menjaga lidah. Suka mencaci-maki orang lain. Saya pernah mendengar dalam sebuah pengajian bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah sebagian diantara engkau semua itu mengumpat sebagian yang lainnya. Sukakah seorang diantara engkau semua makan daging saudaranya dalam keadaaan ia sudah mati, maka tentu engkau semua membenci -karena jijik terhadap perbuatan tersebut-. Takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Menerima taubat lagi Penyayang.” (al-Hujurat: 12)

Upaya kuat untuk menaga lidah bermakna menjaga mulut untuk perlakuan ucapan nyata terhadap orang sekeliling apakah itu pembantu, istri/suami, anak-anak, teman-teman, tetangga dan sebagainya. Jangan memulai berlaku menghina, jangan membicarakan aibnya, jangan memarahinya dengan ucapan yang tidak pantas. Dalam agama dinyatakan apabila itu semua dilakukan akan membuat kita akan bangkrut/muflis di akhirat nanti.

Contoh anda orang yang rajin Shalat rajin juga hate speech sehingga pahala kita akan berkurang berkurang dan akhirnya habis mulai dari pahala Shalat wajib, shalat Sunat, Shalat Duha, Sholat Tahajjud, Sholat Safar, Puasa Ramadhan, Puasa Syawal, Puasa Senin kamis, Puasa tengah bulan, Puasa Daud (sehari puasa sehari buka), zakat dan sedekah yang pahalanya di Hari kiamat ternyata pahalanya diambil Allah dan diberikan kepada orang2 yang di zalimi/Orang2 yang digunjingi/Orang2 yang dihina. Percuma saja amal kebaikan yang kita lakukan akan mubazir karena ketidak tahuan kita akah hate speech ini. Meskipun amal ibadahnya banyak, bukannya masuk surga, malah masuk neraka.

Ingatlah … Manusia tidak ada satupun yang sempurna. Selalu ada celah untuk mencari kesalahan orang lain. Selalu ada hal yang dapat memburukkan orang lain. Apakah kita tidak ada kerjaan lain hanya mengoreksi orang lain. Hanya urusan orang lain ? Mumpung kita berada di Bulan yang suci Bulan Ramadhan Alangkah baiknya kita menjadi orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami) apalagi pembicaraan itu dilanjutkan di Media Sosial akan berpengaruh besar secara lebih luas. Jangan melakukan Hate speech itu Ghibah dunia sekarang … karena Jempolmu Harimaumu. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here