Jersey, Sastra, dan Mati

Muhammad Natsir Tahar

0
348

Jersey bukan semata soal jenis bahan tekstil kaos bola, yang utama adalah marwah yang dititipkan para fanatik bola pada klub idola masing – masing.  Jersey tidak sebatas kostum syarat wajib klub sepak bola, tapi kepadanya dilekatkan filosofi dan harga mati.

Misal AC Milan dengan filosofi i Rossoneri (Merah-Hitam). Merah seperti setan dan hitam dalam menebar ketakutan. Tentu saja AC Milan bukan klub satanic atau conjuring, namun pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa mereka bukan lawan tanding sembarangan. Mereka mengklaim sebagai setan lapangan sekaligus tukang sihir yang menakutkan.

Harga mati Jersey menempel kuat pada minda para pemain bola hingga menyentuh sukma terdalam. Pada jersey yang paling imitasi sekalipun, mereka akan haru biru. Pagi itu, 26 Desember 2004, Martunis kecil dan kawan – kawan berniat main bola. Martunis memakai kostum nasional Portugal bajakan yang dibeli di Banda Aceh. Tapi tsunami dahsyat yang menghantam Aceh tak memberi kesempatan kepada Martunis. Ia tersapu gelombang dan terdampar selama 21 hari. Pada 15 Januari 2005, Martunis ditemukan di rawa-rawa, sebatang kara dan masih terbungkus kaos bola lusuh.

Lewat televisi Inggris, Martunis yang kurus hitam dengan jersey palsu Portugal itu segera menyebar ke Eropa. Ia sontak menimba simpati dari bintang top Eropa macam Cristiano Ronaldo, Luis Figo, Scolari sampai Gilbarto Madail, Ketua Federasi Sepak Bola Portugal. Martinus pun diundang ke Lisboa, mendapat hibah 500 juta rupiah dan disulap jadi pemain bola dengan cap Atleta Suporting.

Di lain waktu dan tempat, sebuah foto tersebar secara viral di Eropa tentang bocah korban perang yang memakai baju dari kantong plastik bermerek Messi 10.  Sekilas kantong plastik putih bergaris biru itu serupa dengan jersey Argentina milik Lionel Messi. Bocah yang berasal dari kota hancur Dohuk, Irak ini pun diburu Messi untuk diselamatkan.

Jazirah Eropa telah melahirkan para pemilik kaki – kaki malaikat sekaligus setan-setan rumput hijau yang menggairahkan. Keindahan manuver dan ketajaman tendangan di gawang lawan oleh para pemain Eropa selalu memukau dan dikenang lama-lama. Padahal Eropa bukanlah tanah kelahiran olahraga dari masa lampau ini. Tuhan menurunkan ilham kejar mengejar bola pertama sekali kepada umat Dinasti Han di daratan Cina sekitar tahun 206 SM. Orang – orang kuno itu menjahit kulit hewan untuk dijadikan menggelinding dan digiring beramai-ramai ke dalam jaring.

Meski demikian sepak bola modern diakui memang bermuasal dari Inggris, ketika pada 1857 sebuah klub sepak bola bernama Sheffield Football Club didirikan. Eropa resmi menjadi pusat peradaban sepak bola pada abad ke-19.

Selain melahirkan pesohor–pesohor bola, Eropa juga menjadi lokus para penulis sastra kelas dunia. Sastra di Eropa telah dimulai sejak 880 SM, kemudian berlanjut dengan Sastra Latin, sastra abad pertengahan, sastra Reinnasance serta dimulainya sastra modern pada tahun 1800 Masehi.

Pemuncak sastra klasik dalam bidang drama misalnya, diwakili oleh Sophocles lewat Oedipus Rex and Antigone. Sastra Latin mempersembahkan The Aeneid oleh goresan emas Virgil, lalu Wiliam Shakespeare menyeruak pada awal abad pertengahan melalui keagungan Hamlet. Sastra Reinnasance merayakan zaman keemasan mereka dalam kegurihan Dr. Fraus oleh Marlowe, sedangkan pengabdi sastra modern berdecak kagum pada Pygmalion garapan Bernard Shaw.

Dalam idealisme, pemain bola dan penyair sama saja. Mereka menaruh jiwanya ke dalam karya dan gerak. Mereka melangkah lurus pada jalan takdir yang bahkan bertabur onak duri. Kepada mereka orang – orang akan mengangkat topi, atau kepada mereka orang – orang akan mencibir.

Pemain bola sejati memakai jersey asli seperti bendera pusaka. Demikian pula penyair sejati, pantang bagi mereka memapar kalimat palsu atau tiruan atau mencuplik bulat-bulat buah karya orang lain. Ibarat batu mulia, sastrawan memiliki guratan dan retakan unik yang tidak identik satu dengan lainnya. Sastrawan hanya bisa dikompilasi melalui aliran – aliran seperti realisme, surealisme, abdsurdisme, psikologisme, romantik dan seterusnya, tapi keunikan goresan pena mereka tidak terdefinisikan secara kolektif meski berjuta-juta banyaknya.

Sastrawan tak memiliki Jersey, kostum, busana, seragam atau apapun terminologinya kecuali pada keunikan buah karya mereka sendiri. Sedangkan para soccer player  meski berbungkus jersey dan strategi pertandingan yang mengikat, tapi masing-masing mereka tetaplah manusia unik. Keunikan itu tergambar dalam ratusan julukan yang diberikan kepada pemain bola misalnya Becks untuk David Beckham, Apache untuk Carlos Tevez, De Kannibaal pada Khalid Boulahrouz, Captain Marvel kepada Bryan Robson atau The Phenomenon dipasangkan pada Ronaldo.

Money Can Make History. Apa yang dalam dunia tidak diongkosi dengan uang. Sepak bola tidak bisa dirayakan dengan “berpuasa”. Para tradisionalis bola tidak bisa memanjang-manjangkan tausiah mereka untuk mencegah bid’ah jual beli klub, misalnya. Tapi industri sepak bola adalah pekerjaan akbar yang tidak gratis, sehingga para miliarder berijtihad untuk membina klub-klub mentereng. Bintang lapangan pun bermandi uang apalagi pengampunya.

Pecinta bola berjumlah 3,5 miliar itu adalah target potensial yang terus menerus mengalirkan magma panas pada kapitalisme bola. Uang-uang mengucur deras pada musim pertandingan, mulai dari episentrum lapangan, media massa dan iklan, hingga gimmick dan bling-bling suporter yang menyebar ke seluruh permukaan bumi.

Jersey khususnya pada major league dianggap sebagai simbol kemakmuran skuad bersangkutan. Pada sehelai jersey asli bergelayut merek-merek global seperti Adidas, Nike, UMBRO atau Redbull dengan nilai kontrak ratusan juta poundsterling. Animo fans yang sangat taat pada klub idola masing-masing menyebabkan jersey imitasi diproduksi secara massal.

Jersey bahkan tidak hanya sebagai identitas, tapi juga menjadi lambang romantisme, kebanggaan, kerusuhan hingga kematian. Banyak yang mati cuma-cuma karena telah mewakafkan dirinya untuk “berjihad” di jalan jersey.

Sastra juga demikian adanya. Hasil karya brilian mereka diproduksi massal dan penulisnya kaya raya. A Tale of Two Cities karya Charles Dickens (1859) memiliki 200 juta salinan di seluruh dunia. Kemudian karya fantasy epik J.R.R Tolkien (1937) terjual sebanyak 150 juta buku diikuti oleh The Hobbit oleh pengarang yang sama sebanyak 100 juta buku. Hasil karya sastra memenuhi kebutuhan industri kreatif, sehingga tidak jarang karya sastra yang punya magnet kuat, akan difilmkan oleh Hollywood untuk segera menjadi box office.

Apakah ada penggemar sastra yang mati akibat “jersey”sastrawan? Jawabannya ada, bukan mati fisik tapi mati rasa. Seorang penulis sastra mampu menciptakan mitos atau kekuatan magis lewat karya-karya mereka yang fenomenal atau membuat jalan pintas dengan menghegemoni sisi-sisi psikis pembaca lewat cantuman testimoni hiperbolik di bagian depan atau belakang kitab sastra.

Ketika mitos sudah terbentuk, penikmat sastra akan memasuki fase mati rasa. Mereka tidak bisa lagi memilah mana frasa indah atau sekadar kalimat hambar bertele-tele dari sang pujangga pujaan. Penulis sastra juga manusia, yang pikiran-pikirannya bisa tersabotase oleh keadaan, ruang dan waktu. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here