Joget Sepuasnya, Patungan Makan Mie

0
129
EYANG bersama anak-anak di Bukit Raya, Selasa (4/9). f-martunas/tanjungpinang pos

Mendengar Cerita Bahagia Perhimpunan 82 Lansia Bukit raya

Meski usia sudah ujur, namun semangat untuk sehat dan happy tidak pudar. Bahkan, bersenda gurau hingga berjoget tidak kalah dengan anak muda. Begitulah kehidupan anggota Persatuan Lanjut Usia (Lansia) Dahlia Perumahan Bukit Raya, Tanjungpinang Timur.

TANJUNGPINANG – SUARA Eyang terdengar jelas. Duduk di kursi plastik warna merah, Eyang langsung akrab berbincang dengan siapapun. Senyumnya khas, wajahnya ceria didampingi cucunya.

Sebenarnya namanya bukan Eyang. ”Panjang nama saya. Panggil Eyang aja. Semua orang udah tau itu. Sampai sekarang jadi Eyang,” katanya saat berbincang dengan Tanjungpinang Pos di Posyandu Lansia di Perumahan Bukit Raya, Tanjungpinang Timur, Selasa (4/9).

Eyang merupakan Ketua Persatuan Lansia Dahlia Bukit Raya. Saat ini jumlah mereka 82 orang. Yang bisa masuk menjadi anggotanya usianya dibatasi. Ya, minimal 60 tahun dan maksimalnya tidak dibatasi. Tidak seperti CPSN, maksimal 35 tahun.

Saat ini ada dua orang anggotanya yang sudah berusia 83 tahun. Orangnya masih sehat, rutin senam lansia, olahraga pagi keliling perumahan dan hidupnya happy.

Lewat perhimpunan inilah mereka bisa berkumpul dan bersenda gurau. Dalam sebulan, mereka sudah ada jadwal baik untuk senam lansia, periksa kesehatan, salat tasbih di masjid hingga yasian bersama di rumah anggota secara bergantian.

Kadang mereka patungan Rp10 ribu per orang untuk makan-makan bersama. Misalnya makan misop. Biayanya ringan, namun bahagianya tak terbeli dengan apapun.

Inilah kesempatan bagi mereka untuk bercerita satu sama lain baik itu tentang kondisi kesehatan, tentang anak dan cucu. Yang pasti bukan tentang asmara.

Di sisa hidup mereka ini, tak ada yang mau melewatkan momen-momen penting bersama kawan-kawannya yang sudah ujur. Meski sudah bungkuk, namun senam dan joged masih lincah.

Eyang pernah menghadap mantan Wali Kota Tanjungpinang H Lis Darmansyah untuk meminta dua unit bus. ”Kami tak ada uang. Minta lah dua bus, lengkap dengan minyak dan sopir-sopirnya. Tak ada uang bayar sopir. Pak Lis tertawa aja. Semua disediakan,” katanya bercerita dengan nada serius.

Mereka jalan-jalan ke pantai di daerah Bintan. Dengan membawa speaker kecil, mereka happy di pantai sambil berjoget sepuasnya. Kadang, mereka diberi makanan dan musik terus jalan. ”Tiba-tiba dimatikan musiknya. Yang joged berhenti, makanan di mulut tak bisa dikunyah. Tunggu dulu musiknya. Ramai. Kompak. Pokoknya senanglah, bahagia,” kisahnya.

Jika ada yang ulang tahun, kadang mereka merayakannya bersama. Kakek nenek berkumpul bersama meniup lilin dan saling mendoakan agar panjang umur.

Tanggal 26 Agustus 2018 lalu merupakan ulang tahun ke-69 Eyang. Biasanya, anak-anaknya membawanya makan bersama untuk merayakannya.

Tahun ini, Eyang meminta uang dari anak-anaknya. Ia ingin merayakannya bersama teman-temannya yang sudah ujur itu. ”Saya siapkan makanan, minuman sama oleh-olehlah. Yang murah-murah aja, yang penting ada,” katanya bercerita detil.

”Di Pinang Lestari itu, di atas ada cangkir-cangkir harga 10 ribu. Itu saya beli. Pas ulang tahun, saya bagikan. Kami sudah senang semuanya,” katanya tertawa lepas.

Kemudian, setiap bulan mereka juga melakukan pemeriksaan kesehatan di posyandu yang ada di perumahan tersebut. Mereka diperiksa persis seperti memeriksa anak-anak.

”Bahkan tinggi badan ikut diperiksa. Pas diperiksa, bukannya makin tinggi. Malah makin pendek. Berat badan pun makin turun terus. Dulu Eyang 60 kilo, sekarang jadi 42 kilo. Makin pendek lagi, karena tulang-tulang kami bongkok,” kisahnya.

Namun, saat ini sudah ada tiga orang teman mereka yang stroke. Jadi tak bisa lagi datang ke posyandu untuk memeriksa kesehatan. Tapi, petugas medis yang rutin datang ke rumah mereka untuk memeriksa kesehatan.

Eyang mengatakan, sekitar tiga tahun lalu dirinya masih tinggal di Batu 9. Kemudian ia pindah ke Bukit Raya, rumah anaknya. Ia melihat banyak orangtua di sana.

Eyang pun berniat untuk membentuk perhimpunan lansia di tempat itu. Kemudian Eyang diskusi dengan Weni Lis Darmansyah dan mendapat dukungan.

Akhirnya, ia meminta data ke RT-RW siapa saja yang sudah masuk usia 60 ke atas di perumahan. Setelah data ini dapat, ia pun mengumpulkannya dan semua sepakat membentuk Perhimpunan Lansia Dahlia tersebut.

”Langsung kami daftar ke kantor lurah. Surat-suratnya sudah ada. Makanya, kadang kalau ada bantuan untuk lansia, kami sudah dapat,” kenangnya.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here