Jual Es, Jual Koran dan Mengamen Masa Kecil

0
894
DR Agung Dhamar Syakti dilantik menjadi Rektor UMRAH, Senin (18/5). f-istimewa

Kini, Assoc. Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi, DEA Menjadi Rektor UMRAH Tanjungpinang

Agung Dhamar Syakti. Itulah nama lengkapnya ketika dilahirkan di desa kecil di Singakerta, 27 Oktober 1975 silam. Kini, nama itu bertambah tiga embel-embelnya menjadi Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi, DEA.

TANJUNGPINANG – TIGA tambahan gelar itu diperoleh setelah lulus S1, S2 dan S3. Tinggal satu lagi cita-citanya yang belum terwujud, menjadi profesor.

Butuh perjuangan keras dan kesabaran bagi Agung untuk meraih semua itu. Kuncinya, rajin membaca, berdoa, ulet dan sabar.

Semasa sekolah di SD, SMP dan SMA, Agung bukan juara kelas atau juara umum. ”Paling 10 besar. Segitu-segitu aja,” katanya mengenang.

Namun, Agung beda dari siswa umumnya. Karena rasa ingin tahunya tentang pengetahuan sangat tinggi, Agung minta sekolah. Padahal, usianya saat itu baru 4 tahun.

Akhirnya, dia memang dimasukkan sekolah. Di usia 10 tahun, Agung sudah lulus SD. Selama satu tahun di SD, dia tinggal bersama kakek neneknya di Desa Singakerta, perbatasan antara Indramayu dan Cirebon.

Kelas II SD, Agung pindah ke kota dan tinggal bersama bapak ibunya yang dua-duanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Tangerang. Selama SD, dia pindah-pindah hingga tiga sekolah karena ikut orangtua.

Selain suka membaca, Agung juga rajin menabung, suka olahraga dan musik. Untuk menambah uang jajan dan tabungannya, Agung jualan es dan koran. Pulang sekolah, Agung langsung jalan kaki keliling dari satu perumahan ke pemukiman lainnya untuk menjajakan es jualannya tersebut. Malam harinya, Agung belajar dan membaca. Setelah itu, Agung ganti profesinya menjadi penjual koran. Orangtuanya sempat menegurnya karena jualan koran. Sebagai PNS, mereka mampu memberinya jajan.

Agung tetap berjualan, tidak perlu malu apalagi gengsi. Akhirnya ayahnya memahaminya. Ayahnya pun memberinya satu syarat. Agung bisa tetap jualan koran, asalkan dibaca korannya, supaya pengetahuannya bertambah.

Suami Santi ini sangat senang mendengarnya. Ia pun makin suka jualan koran sembari membaca seluruh isinya saat waktu luang. Apalagi, mereka akhirnya langganan koran di rumah.

Baca Juga :  Presiden Setujui Jembatan Babin

Jualan es dan koran ia lakukan dari SD hingga SMP. Saat SMA hingga kuliah di Universitas Riau Pekanbaru, pekerjaannya untuk mendapatkan uang jajan beralih menjadi pengamen.

Salah satu hobinya adalah bernyanyi sambil bermain musik. Gitar merupakan salah satu alat musik idolanya. Modal gitar dan suara emasnya, dia keliling satu tempat ke tempat lain. Jika penghasilanya sudah cukup untuk jajan, ia pulang ke rumah dan membaca.

Semasa SMA, Agung mulia ikut kegiatan Pramuka dan mendaki gunung. Saat mendaki gunung itu, Agung duduk tertegun. Ia menyadari sesuatu yang akhirnya menjadi penuntun dalam kesuksesannya ke depan.

Ternyata, dalam hidup ini butuh perjuangan, kerja keras, ketekunan, kesabaran, perencanaan dan pola pikir yang jauh ke depan. Cita-cita tak mudah diraih. Sama seperti mendaki gunung yang memang tidak mudah.

Kejadian itu menjadi filosopi dalam hidupnya. Sejak itu, Agung mulai merencanakan perjalanan hidupnya seperti apa kelak. Saat berada di alam itu juga, dia berniat menjadi peneliti untuk menjaga keseimbangan alam.

Pada akhirnya, setelah lulus SMA, Agung lulus dan diterima kuliah di Universitas Riau, Pekanbaru. Ia mengambil jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan. Lebih spesisik, hingga saat ini Agung merupakan peneliti berkelas. Tak banyak ilmuwan internasional seperti Agung di Kepri ini. Dan spesialisasinya merupakan ekosistem laut dan dampak-dampak yang bisa merusaknya.

Semasa kuliah di Pekanbaru, Agung masih melanjutkan kerja sampingannya menjadi pengamen. Bahkan, ia mengklaim sebagai pengamen jalanan pertama di Pekanbaru.

Hobinya bernyanyi dan bermain musik, masih terus ia lakoni. Bahkan, ia juga membentuk grup-grup band di Pekanbaru baik itu aliran rock dan lainnya. Ia telah mencatat sejarah itu di kota tersebut.

Ia juga aktif mendaki gunung. Sehingga, semua gunung yang pernah didaki pendaki baik itu di Sumatera, Jawa, Lombok hingga Bali, Agung sudah pernah memijakkan kakinya di sana.

Selama menjalani rutinitasnya mendaki gunung, Agung tak pernah melupakan hobinya yang lain, membaca. Agung selalu membawa buku untuk mengisi waktunya yang kosong saat perjalanan.

Baca Juga :  Membangun Pariwisata Kepulauan Anambas yang Berdaya Saing

Agung pernah melahap beberapa buku saat ekspedisi naik mendaki gunung dari Sumatera, Jawa, Bali hingga Lombok. Buku itu dibacanya saat berada di bus dan kereta. ”Buku-buku bidang ilmu kelautan dan perikanan selalu saya bawa itu,” katanya.

Bapak Agsanshina Raka Syakti, Aghistira Alraya Syakti, Aghastraja Marssea Syakti dan Agragasan Dewara Syakti ini mulai tertarik ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri karena dia dekat dengan dosen-dosennya.

Agung termotivasi dengan dosen-dosennya yang cerdas dan banyak lulusan luar negeri. Agung akhirnya mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.

Kebetulan ada beasiswa dari pemerintah Perancis. Namun seleksinya sangat ketat. Banyak peminatnya. Salah satu syaratnya adalah harus pegawai pemerintah.

Saat itu, pemerintah baru membuka Departemen Eksplorasi Kelautan dan Perikanan yang dipimpin Ir. Sarwono Kusumaatmajao yang gini ganti baju menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ia juga butuh kesabaran, keuletan dan perjuangan agar bisa lolos ke sana. Akhirnya Sarwono menyurati pemerintah Perancis, bahwa Agung akan bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan RI setelah lulus S2. Agung pun diterima.

Persoalan baru muncul. Agung harus pasif berbahasa Perancis. Akhirnya, setelah belajar intensif 14 hari ditambah dua bulan lagi, Agung sudah mahir dan langsung kuliah di Perancis. Cerdas. Dalam waktu singkat bisa menguasai Bahasa Perancis.

Setelah Agung lulus S2 dengan IPK yang sangat memuaskan, ia melanjutkan S3 di Perancis. Baru satu tahun kuliah, Kementerian Kelautan Perikanan membuka seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sarwono pun memanggilnya untuk mengikuti seleksi tersebut.

”Pilihan yang dilematis waktu itu. Karena baru satu tahun ambil S3. Setelah pikir-pikir, akhirnya saya memilih lanjut kuliah,” kenangnya.

Agung menjatuhkan pilihannya ingin lanjut kuliah karena dia yakin, untuk berbagai ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu kepada orang banyak harus dengan mengajar.

Akhirnya, kuliah S3-nya pun selesai. Ia satu dari tiga orang yang terbaik di satu angkatannya saat itu. Karena salah satu yang terbaik, pilihan kembali datang pada dia.

Assoc. Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi, DEA saat berbicara di forum internasional bersama perwakilan dari beberapa negara di Manila, Philippines tahun 2019 lalu.

Banyak tawaran untuk dia agar tinggal dan bekerja di Perancis. Agung saat berangkat dari Indonesia sudah berjanji akan kembali ke Tanah Air. Ia juga sudah berjanji kepada Sarwono akan mengabdi untuk negara.

Baca Juga :  2.200 Siswa Adu Ketangkasan di Korem

Agung pun kembali ke Indonesia, namun pilihannya tetap menjadi dosen. Ia ingin membagikan ilmu pengetahuan yang digarapnya dari negeri menara Eiffel itu.

Senin (18/5) kemarin, Agung telah dilantik menjadi Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.

Agung sendiri tidak pernah terpikirkan sampai ke sana. Embel-embel ketiga (gelar doktor) itu salah satu jalan menjadi rektor. Syarat mendaftar rektor minimal lulusan S3. Jika dulu pilihannya PNS, maka dia tak bakal memimpin 5.200-an mahasiswa UMRAH saat ini. Kini Agung telah berjanji akan membawa kampus ini lebih baik lagi.

Agung menjadi salah satu pejabat Eselon IB di Kepri bersama Sekdaprov Kepri TS Arif Fadillah. Ada tiga lagi pejabat Pemprov Kepri yang setara dengan mereka yakni pemegang Jabatan Fungsional dan Fungsional Ahli Utama, Naharuddin, Tjetjep Yudiana dan Raja Ariza.

Agung sendiri lulusan SD Tangerang, SMPN 5 Tangerang, SMAN 4 Jakarta. S1 dari Universitas Riau, lulus S2 dan S3 dari University of Aix Perancis.

Adapun tahun masuk kuliah baik S1, S2 dan S3 yakni, tahun masuk 1993, 1999, 2001 dan lulus tahun 1998, 2000 dan 2004. Di usia 29 tahun, Agung telah menjadi doktor.

Saat ditanya apakah anak-anaknya diajari Bahasa Perancis, Agung mengatakan, dirinya hanya menambah sedikit-sedikit. Sebab, saat kuliah di luar negeri, ia memboyong anak dan istrinya ke sana.

”Mereka belajar langsung di sana. Kalau ada yang kurang-kurang dipahami, barulah saya ajari,” tutupnya.(MARTUNAS – ADLY)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here