Jumlah Penduduk Berbeda, Disdukcapil Masih Konsultasi

0
655
kadisdukcapil Tanjungpinang, Irianto memantau proses cetak fisik KTP-eletronik, belum lama ini.f-DESI LIZA PURBA/TANJUNGPINANG POS

TANJUNGPINANG – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Tanjungpinang sudah berupaya menyelesaikan masalah selisih data kependudukan dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Hanya saja, hingga kini belum selesai. Bahkan, pembahasan bersama Kemendagri sudah didampingi pihak DPRD Tanjungpinang. Ketua Komisi I DPRD Tanjungpinang, Maskur Tilawahyu menuturkan, perbedaan data ini merugikan Tanjungpinang.

Mempengaruhi jumlah dana perimbangan yang diterima Tanjungpinang. ”Hitungan bantuan DAU melihat julah penduduk Tanjungpinang,” Ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, belum lama ini.

Kemendagri mencatat jumlah penduduk Tanjungpinang sebanyak 207 ribu jiwa. Dari jumlah tersebut sebanyak 145.249 orang sudah memasuki usia wajib KTP. Sementara itu Disdukcapil Tanjungpinang mencatat jumlah penduduk sebanyak 263 ribu jiwa dengan 187 ribu wajib KTP.

Baca Juga :  708 Pegawai Terima Penganugerahan

Jadi terjadi selisih jumlah penduduk sebanyak 56 ribu jiwa. Jumlah wajib KTP juga selisih sekitar 41 ribu. Alasanya selisih tersebut, diantaranya Nomor Induk Kependudukan (NIK) ganda maupun data anomali.

Ia meminta hal ini segera diselesaikan, bukan lagi mengejar untuk data Pilkada, melainkan lebih kerapian dan tertib adminstrasi kependudukan.

16 Ribu Menunggu Fisik KTP-Eletronik
Terkait banyak masyarakat mengeluh terkait belum menerima fisik KTP-Eletronik, diakuinya banyak diterima. Ada yang sudah menunggu sejak satu tahun lalu. Maskur Tilawahyu meminta Kadisdukcapil dan jajarannya bekerja cepat. Kini sudah dialokasikan dua mesin cetak KTP-eletroniknya. Ditambah dengan yang sebelumnya, satu.

Baca Juga :  Dinkes Bakal Gelar Imunisasi Campak

”Kendalanya dari kemarin bukan blankonya yang tak ada, tetapi mesin cetakntya. Kini sudah ditambah, di harapkan bisa segera diselesaikan,” paparnya. Persoalan ini, harusnya sudah ditambah sejak awal, apalagi harganya tidak begitu mahal. Hanya Rp 50 juta per mesin. (dlp)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here