Kadisnaker: Unisem Belum Tunjukkan Laporan Merugi

0
225
KARYAWAN PT Unisem Batam melakukan mogok kerja di perusahaan kemarin karena pesangon yang disiapkan perusahaan tidak sesuai harapan. f-martua/tanjungpinang pos

Buruh Mogok Terkait Hitungan Uang PHK

Pasca pengumuman rencana penutupan pengoperasian PT Unisem Batam dan belum ada titik temu hitungan uang PHK, karyawan perusahaan ini melakukan mogok.

BATAM – Anggota DPRD Batam dan Dinas Tenaga Kerja Batam yang mendengar kabar itu, menyambangi buruh. Mereka melakukan pertemuan dengan manajemen, namun belum ada titik temu.

Aksi mogok kerja berlangsung, Senin (15/7) di kawasan perusahaan. Ratusan karyawan memilih duduk di sekitar perusahaan. Sementara perwakilan buruh melakukan pertemuan dengan manajemen bersama Kadisnaker Batam, Rudi Syakakirti dan anggota DPRD Batam, Safari Ramadhan.

Pembahasan yang terjadi terkait dengan hak karyawan sesuai ketentuan aturan. Di mana, pihak manajemen mengatakan jika perusahaan merugi. Namun saat itu belum bisa menunjukkan hasil audit, yang dijanjikan akan disampaikan kemudian.

”Mereka kan tidak pailit. Katanya rugi, hasil auditnya saya belum lihat,” kata Rudi.

Disampaikan, dalam pertemuan yang berlangsung, dinyatakan jika perusahaan tetap pada keputusannya, untuk tutup. Namun pihaknya menegaskan, jika perusahaan tutup September 2019, maka hak karyawan selesai sebelum itu.

”Mereka masih sesuai dengan pengumuman yang telah mereka keluarkan (tutup). Tapi kewajiban kekaryawan harus selesai sebelum September,” tegasnya.

Pernyataan senada juga disampaikan anggota Komis IV DPRD Batam, Safari Ramadhan. Dijelaskan jika pihaknya sudah bertemu serikat pekerja dan manajemen diwakili Michael McKerreghan, termasuk HRD.

”Kita sudah bicara, mereka menutup karena orderan sedikit. Kalau perusahaan merugi, kita minta data-datanya. Minta record-nya, bukti perusahaan ini merugi. Termasuk dengan pajak-pajaknya,” tegasnya.

Permintaan itu diakui untuk membuktikan pengakuan perusahaan. Supaya pihaknya mempelajari. Permintaan itu diakui dijanjikan akan diberikan. ”Sehingga kita bisa tegas. Kita minta, jika perusahaan ini ditutup, maka semua hak pekerja dipenuhi,” sambung dia.

Hanya saja, sementara perwakilan perusahaan diakui masih menyatakan sanggup membayar 1N. Sementara permintaan karyawan, 4N. ”Nah yang inilah yang belum ada kesepakatan itu,” imbuh Safari.

Diakui, saat pertemuan itu, manajemen meminta agar diberikan izin untuk membawa barang-barang, seperti bahan baku keluar. Alasannya, bahan baku yang hendak dibawa keluar, bukan milik perusahaan, tapi investor lain yang memiliki order terhadap Unisem.

”Tapi kami tidak mengizinkan hal itu. Kami juga bilang sama pihak Kepolisian ini jangan sampai ditarik. Karena indikasi kita, selama ini terjadi di perusahaan-perusahaan lain tutup, ketika barang-barang itu diangkut, perusahaan kabur. Inikan merugikan pekerja,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, perusahaan diakui sempat menyebut tidak mungkin kabur, karena aset yang di dalam dan gedungnya, milik mereka. Di mana, nantinya direncanakan gedung itu akan dijual ke investor.

”Mereka ada arahnya kesitu, jual aset ke investor asing. Tapi kita tidak mau kecolongan,” imbuhnya.

Diakui, sudah disampaikan jika pembahasan tidak bisa dilakukan singkat. Karena itu, pembahasan akan dilanjutkan lagi nanti. ”Pertemuan kami kan baru ini dan saya yakin setelah ini akan ada lagi pertemuan lanjutan. Kita mau tahu yang sebenarnya terjadi apakah rugi atau faktor lain,” harap dia.(MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here