Kalau Cuma Baliho, Caleg Juga Bisa

Mohon Maaf, Tidak Ada Perayaan Hari Jadi ke-235 Tanjungpinang Tahun Ini

0
995
Baliho Hari Jadi ke-235 Tanjungpinang di simpang Pamedan, Minggu (6/1). F-Fatih Muftih / Tanjungpinang Pos.

BAGAIMANA sepanjang Minggu (6/1) tadi di Tanjungpinang? Rasa-rasanya masih seperti biasa. Tunggu. Tetapi tadi pagi ada keramaian juga di Tepi Laut dan jembatan Dompak. Apakah itu berkenaan dengan perayaan Hari Jadi ke-235 ibu kota provinsi Kepri ini?

Oh, bukan. Ternyata keriuhan di dua lokasi itu sekadar rutinitas akhir pekan: lari pagi. Mungkin siangnya. Namun setelah berpindah-pindah dari lapangan Pamedan, Laman Boenda Tepi Laut juga hingga kawasan Batu 10, tempat-tempat yang rutin dijadikan lokasi kegiatan acara pemerintah, sama sekali tidak ditemukan keramaian bersempena Hari Jadi ke-235 tahun.

Mungkin malamnya? Rasanya tidak mungkin. Sampai berita ini dituliskan, belum ada tanda-tanda penampakan yang nyata tertangkap mata tentang perayaan Hari Jadi ke-235 tahun kota ini. Apakah sudah boleh disimpulkan benar-benar tidak ada kegiatan peringatan dan perayaan?

Kalau memperingati, bisa jadi sudah dilakukan Wali Kota Syahrul beserta jajarannya pada Jumat (5/1) lalu. Sejak pagi, dilakukan ziarah ke makam-makam leluhur. Dimulai dengan menziarahi makam Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah di Kampung Melayu, kemudian bersambung makam Daeng Marewah dan Daeng Celak di kawasan Sungai Carang untuk kemudian bertolak langsung ke Penyengat menziarahi makam Engku Puteri Raja Hamidah, Raja Ali Haji, dan Raja Haji Fisabilillah, lalu disambung dengan salat Jumat berjemaah di masjid Sultan Riau Penyengat.

Di makam leluhur itu juga, rombongan sempat melaksanakan tahlilan serta memanjatkan doa, dilanjutkan menabur bunga, menyiram air, serta memasang kain batu nisan di pusara.

“Kita bisa seperti hari ini, karena ada kerja keras dan perjuangan dari para pendahulu kita, inilah sebagai wujud ucapan terimakasih serta penghormatan kepada para pendahulu,” ujar Syahrul sebagaimana rilis yang diterima dari tim humasnya.

Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul ketika ziarah makam bersempena Hari Jadi ke-235 Tanjungpinang, Jumat (4/1) lalu. F-Humas Pemko Tanjungpinang.

Lalu soal perayaan? Rasa-rasanya jika mengacu pada sejumlah baliho yang disebar oleh Pemko Tanjungpinang di berbagai sudut kota, sudah bisa diaminkan bahwasanya tidak ada gawai perayaan Hari Jadi ke-235 pada tahun ini. Sebab di sana sama sekali tidak diterakan informasi mengenai acara yang akan diselenggarakan.

Di sana hanya terpampang deretan potret pemimpin dengan baju adat Melayu. Mulai dari Gubernur Nurdin, Wagub Isdianto, sudah pasti Wali Kota Syahrul, Wawako Rahma, Ketua DPRD Suparno, dan Riono sebagai Sekda Kota. Di bawah deretan foto ini terpampang semacam ajakan atau imbauan berbunyi: Membangun Tanjungpinang yang Berbudaya dan Agamis Menuju Masyarakat Madani.

Lalu di sisi lain, tercetak desain khusus berkenaan Hari Jadi dengan motif tugu Raja Haji dan tarikh 6 Januari 1784 – 6 Januari 2019.

Itu saja.

Baliho Hari Jadi ke-235 Tanjungpinang di simpang Pamedan, Minggu (6/1). F-Fatih Muftih/Tanjungpinang Pos.

Mari menengok ke belakang. Pada perayaan Hari Jadi Tanjungpinang tahun lalu, dilaksanakan pesta syukuran bersama seluruh warga Tanjungpinang di lapangan Pamedan. Tidak hanya itu saja. Pada malam yang berbahagia itu pula ikut diserahkan penghargaan kepada masyarakat yang berjasa di bidang pembangunan dan kepada kelurahan terbaik.

Lalu dua tahun sebelumnya, atau pada perayaan Hari Jadi ke-233 Tanjungpinang, selain digelar panggung hiburan dan kesenian di lapangan Pamedan, saat itu malah sempat dibacakan sekilas sejarah kewiraan pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah, pada Perang Riau yang berhasil memukul balik pasukan Belanda dengan menghancurkan kapal “Malakas Walvafren” pada tanggal 6 Januari 1784.

Dan 6 Januari inilah tanggal yang, melalui seminar diskusi panel di Kantor Wali Kota Administratif pada 10 November 1987 silam, disepakati sebagai Hari Jadi Kota Tanjungpinang.

Sejarawan Kepri Aswandi Syahri pernah menjelaskan, bahwasanya untuk merumuskan hari jadi sebuah daerah bukan perkara mudah. “Saat itu, penentuan hari jadi sebuah kota memang harus punya landasan berupa perlawanan fisik terhadap kolonial. Hampir semua kota di Indonesia seperti itu, macam Padang dan Jakarta,” terang Aswandi.

Karenanya ia menilai kertas kerja berjudul Perang Riau sebagai Titik Tolak Hari Jadi Kota Tanjungpinang yang disusun Rida K Liamsi dan Eddy Mawuntu (alm) itu sebagai buah pemikiran yang cerdas nan bernas.

Pemandangan Benteng Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat dan Tanjungpinang (Kuala Riau) tahun 1784. Sebuah lukisan oleh J.C. Baane yang dipublikasikan tahun 1826. Dokumentasi: Aswandi Syahri.

Sebenarnya, Tanjungpinang punya banyak kisah epik konfrontatif terhadap kolonial. Namun Perang Riau I yang dikomandoi Raja Haji Fisabilillah itu bukan sembarang perang. Betapa perang itu tidak hanya melibatkan adu fisik dan keterampilan armada perang, tapi juga menunjukkan sifat berani dan kewiraan Orang Melayu membela marwahnya. “Itulah momentumnya. Semangat baru, semangat perlawanan, menolak takluk,” ujar Aswandi.

Kalau Cuma Baliho, Caleg Juga Bisa

Lantas bagaimana tanggapan khalayak mengenai tidak adanya perayaan Hari Jadi ke-235 pada tahun ini? Ketua Dewan Kesenian Kepulauan Riau, Husnizar Hood cukup lantang angkat suara. Bahkan dalam status Facebook pribadinya, ia ikut mempertanyakan acara peringatan Hari Jadi Tanjungpinang.

“Sedih saja. Tak banyak daerah punya sejarah besar seperti Tanjungpinang. Punya hari bersejarah dan itu sudah diperingati terus-menerus. Dan tahun ini tak ada. Itu sengaja, lupa, atau ingin berbeda?” ungkapnya heran.

Januari memang bulan yang “menantang” bagi pemerintah daerah. Kendati anggaran sudah disepakati beberapa bulan sebelum pergantian tahun, tidak serta-merta pada Januari anggaran sudah bisa dijalankan. Lebih-lebih Hari Jadi Tanjungpinang berada pada minggu pertama Januari.

Kalaupun memang demikian, menurut Husnizar yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang (2009-2014), bukan sebuah alasan yang bisa serta-merta dibenarkan. Kata dia, ada banyak cara kreatif yang bisa dilakukan agar Hari Jadi tetap bisa terasa semaraknya.

Misalnya, kata Husnizar bertamsil, pemerintah bisa menerbitkan instruksi atau imbauan agar setiap pengusaha atau kantor-kantor yang ada di Tanjungpinang memasang spanduk Hari Jadi selama sebulan atau dalam jangka waktu tertentu. Sehingga dengan demikian akan terasa semarak menyambut Hari Jadi ini.

Husnizar Hood pernah membaca puisi ketika peringatan Hari Jadi Tanjungpinang pada 1996 silam. F-Dok. Pribadi.

“Hari Jadi itu milik masyarakat bukan pemerintah. Pemerintah hanya motivator saja. Tapi kalau pemerintah sudah tidak ada motivasi ya apa boleh buat,” ucap politisi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepri ini.

Dalam memperingati Hari Jadi, sambung dia, tidak melulu harus menyelenggarakan pesta-pesta, bermewah-mewah, bermegah-megah, mengumbar-umbar ratusan juta rupiah. Akan tetapi masyarakat harus bisa ikut digerakkan, diingatkan, dan dibuat bangga memiliki kota ini. Sepaling tidak, kata Husnizar, ada kegiatan yang menjadi penanda bahwsanya 6 Januari ini adalah hari berbahagia bagi seluruh elemen masyarakat Tanjungpinang tanpa terkecuali.

Akan tetapi bukankah Pemko Tanjungpinang sudah menerbitkan baliho di beberapa titik dengan ukuran besar? “Kalau cuma bikin baliho, caleg juga bisa,” ujar Husnizar.

Banggar: Kalau Diajukan, Tidak Mungkin Dicoret

Ketiadaan anggaran seringkali menjadi dalih di balik tidak adanya sebuah program yang dijalankan pemerintah daerah. Termasuk desas-desus yang beredar bahwa peringatan dan perayaan Hari Jadi ke-235 ini tidak diselenggarakan lantaran anggaran belum berjalan atau mungkin tidak diajukan?

Wakil Ketua I DPRD Tanjungpinang, Ade Angga mengaku tidak tahu mengenai ketersediaan anggaran untuk perayaan dan peringatan Hari Jadi ke-235 Tanjungpinang. Hanya saja, sambung Angga, Badan Anggaran (Banggar) DPRD tidak akan mencoret jikalau ada pengajuan anggaran berkenaan dengan kegiatan Hari Jadi.

“Saya pastikan tidak mencoret anggaran itu. Kalau dicoret, pasti akan dibahas bersama di Banggar yang rapatnya dipimpin unsur pimpinan DPRD. Saya tidak bisa pastikan ada atau tidaknya. Di OPD teknis yang mengetahuinya,” ujar Angga dikonfirmasi, Minggu (6/1).

Menurut Angga, ada dua kemungkinan. Kegiatan itu ada namun dilaksanakan menunggu anggaran berjalan atau memang tidak pernah diusulkan. “Tapi yang bisa saya pastikan sebagai orang yang duduk di Banggar, kami tidak akan mencoret jika anggaran itu diusulkan,” kata politisi dari fraksi Partai Golkar ini.

Informasi terbaru menyatakan bahwasanya peringatan dan perayaan Hari Jadi Tanjungpinang pada 6 Januari memang ditidakan. Sebagai gantinya, nanti akan digabungkan dengan perayaan HUT Otonomi Tanjungpinang yang diperingati setiap bulan Oktober.

Kepala Bagian Pemerintahan Tanjungpinang, Yanti mengonfirmasi pada Hari Jadi tahun ini agenda pemerintah daerah memang sekadar ziarah ke makam leluhur. “Itu sesuai hasil rapat. Acara HUT tanjungpinang digabungkan dengan HUT Otonomi pada Oktober mendatang,” kata Yanti.

Ada pepatah yang dilontarkan Husnizar Hood yang belum sempat dituliskan di paragraf sebelumnya dan memang rasa-rasanya amat tepat untuk dituliskan di sini. “Kata Orang Melayu,” ucap Husnizar, “Kalau nak itu ada seribu jalan, kalau tak nak ada seribu cara.”

Pertanyaannya: kita ini nak atau tak nak?*** (fatihmuftih – desiliza)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here