Kalau Sudah Tiada, Baru Terasa

0
127
Mantan Gubernur Kepri, H Ismeth Abdullah (dua dari kanan) menyampaikan paparan pada sosialisasi Perda Kearsipan, di CK Hotel Tanjungpinang, Rabu (29/8). F-Fatih Muftih/tanju8ngpinang pos

Sosialisasi Perda Kearsipan 2016

TANJUNGPINANG – Kesadaran pada kearsipan adalah sesuatu yang perlu ditumbuhkan. Utamanya di kalangan para aparatur sipil negara, yang dari kerja-kerja saban hari menghasilkan dokumen-dokumen.

Kesadaran semacam ini yang coba ingin ditumbuhkan melalui Sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2016 tentang Kearsipan yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepri, Rabu (28/8) kemarin.

”Berkaitan dengan arsip, kita semua selalu merasa tidak penting. Tetapi kalau arsip itu sudah tiada, baru terasa. Apalagi misalnya ketika berkenaan dengan urusan hukum. Dari sini, kita jadi tahu pentingnya sebuah arsip,” ujar Asisten III Pemprov Kepri, Hasbi yang mewakili Gubernur Nurdin ketika membuka acara sosialisasi ini.

Agar seluruh aparatur sipil negara punya kesadaran pengarsipan yang baik, kata Hasbi, tidak bisa hanya mengandalkan lembaga kearsipan yang ada. Penerbitan Perda Kearsipan dua tahun lalu ini merupakan usaha nyata Pemprov Kepri untuk mengingatkan bahwa arsip adalah sesuatu yang penting dan sudah semestinya seluruh organisasi perangkat daerah memulai bertindak menyeriusinya. Hasbi mencontohkan, kasus lepasnya Sipadan dan Ligitan dari NKRI tak lain dan tak bukan karena negara kehilangan sejumlah arsip sebagai data pendukung.

”Maka ketika kita bersengketa dengan Jambi mengenai pulau Berhala, kita diuntungkan arsip yang kita punya lengkap. Itulah kekuatan arsip yang selama ini belum kita sadari secara penuh,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan ini, ada tiga narasumber berkapabilitas yang dihadirkan. Mulai dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kepri, Amir Husin, Sekretaris Utama Arsip Nasional RI, Sumrahyadi, hingga gubernur pertama Kepri, Ismeth Abdullah. Ketiganya bergantian menjelaskan kepada 80 peserta mengenai arti penting arsip untuk hari ini dan masa depan. Amir menilai, pekerjaan kearsipan bukan sesuatu lagi yang boleh dianggap remeh-temeh dari sebuah instansi pemerintahan atau swasta.

”Sebab paling tidak ada 40 persen dokumen yang harus diarsipkan setelah diolah oleh tim ahli berdasarkan urgensinya. Dan tentu ada sanksi bagi mereka yang coba-coba memusnahkan arsip,” ujar Amir.

Pun di mata Ismeth Abdullah. Sebagai orang yang paham betul mengenai pembentukan dan pembangunan masa awal Provinsi Kepri, Ismeth merasa ada banyak arsip yang semestinya bisa dirawat dan diselamatkan. Menurutnya, dokumen-dokumen otentik semacam ini bermanfaat untuk banyak bidang. Selain untuk catatan sejarah, juga untuk melihat arah pembangunan daerah dari waktu ke waktu. ”Jangan sampai nanti arsipnya sudah tidak ada, para pelakunya sudah meninggal dunia, baru kita semua sibuk hendak membicarakan sejarah,” ujarnya. (tih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here