Kapal Pukat Mayang Bikin Sengsara

0
451
MASYARAKAT nelayan saat mengikuti diskusi penyelesaian masalah kapal pukat mayang dengan Pansus Nelayan. F-ISTIMEWA

ANAMBAS – Kehidupan nelayan Anambas semakin memprihatinkan dengan beroperasinya kapal-kapal pukat mayang yang tergolong maju. Sebaliknya, nelayan Anambas masih menggunakan alat tangkap tradisional dan kini semakin terpinggirkan.

Masuknya kapal Pukat Mayang asal Tegal, Tanjung Balai Asahan serta Palembang dengan alat tangkap canggih serta mengantongi izin pusat membuat nelayan Anambas harus gigit jari. Sebab, sejumlah kapal pukat tersebut menangkap ikan di beberapa lokasi yang banyak ikan milik nelayan lokal.

Diduga, terdapat Ratusan Kapal Pukat mayang yang beroperasi di laut Anambas. Mengingat, posisi kapal-kapal tersebut tersebar dan tidak terlihat dari pinggir pantai.

Sejatinya, izin kapal pukat mayang dengan bobot 30 Gross Tonnage (GT) ke atas diperbolehkan menangkap ikan di atas 12 mil laut dari Pulau terluar saat air pasang. Namun, pada praktiknya di lapangan kapal pukat Mayang berani mengambil ikan dibawah izin yang mereka kantongi.

Berubahnya Undang-undang 32 menjadi Undang-undang 23, tentang pemerintah daerah membuat kewenangan daerah boleh dibilang tidak ada. Sebab, mulai dari 0-12 mil laut itu menjadi kewengan provinsi. Sedangkan, 12 mil ke atas merupakan kewenangan Pemerintah Pusat.

”Kapal pukat mayang seperti mengolok-olok. Saat siang hari, mereka tidak beroperasi namun pada malam harinya beroperasi di bawah 12 mil,” sesal Azam, Ketua Nelayan Desa Bayat, Kecamatan Palmatak

Dengan adanya persoalan itu, maka Pansus Nelayan yang belum lama dibentuk menggelar dialog dengan nelayan Anambas, Sabtu (27/1). Pansus yang dibentuk oleh DPRD Anambas, bertujuan untuk membela hak-hak nelayan Anambas.

Zaidi, nelayan lainnya menguraikan, sejak kapal pukat mayang beroperasi tahun 2014. Hasil tangkapan nelayan terus berkurang, dan ironinya nelayan pulang melaut tidak mendapatkan hasil alias nol.

”Agar mendapatkan tangkapan ikan, akhinya nelayan terpaksa melaut hingga 6 jam dengan kapal bermuatan 5 GT. Logikannya, kami yang harus berjuang jauh mencari ikan,” jelas Zaidi.

Bahkan, tambah Zaidi, kapal pukat mayang berani menangkap ikan didaerah Pulau Durai yang notabene hanya 3 mil dari Pulau Bayat.

”Hal ini membuat rumpon (rumah ikan) milik nelayan putus ataupun rusak. Paling menyesakkan itu, apabila habis mereka menangkap ikan dirumpon nelayan, maka ikan tidak ada lagi,” ungkapnya.

Ketua Pansus Nelayan Rocky Sinaga mengatakan, kedatangan pihaknya bertemu masyarakat untuk mencari informasi sebanyak mungkin. Agar, informasi ini dapat menjadi bahan dalam memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam menyelesaikan persoalan nelayan.

”Kami tidak ingin persoalan ini berlarut-larut, dan akhirnya terus menerus meresahkan masyarakat khususnya nelayan,” tukasnya.

Sementara itu, Asmirwan Pembina HNSI mengatakan, persoalan ini memang telah lama terjadi dan mengundang keresahan di masyarakat. Bahkan, pihaknya bersama nelayan melakukan demonstrasi di Gedung DPRD mendesak DPRD untuk membentuk Pansus nelayan. Sehingga, Pansus mampu memberikan efek penyelesaian bagi masalah nelayan. (end)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here