Kapal Tenggelam, Perusahaan Tak Tunaikan Kewajiban

0
124
Suasana mediasi kedua pihak yakni keluarga korban dan pihak perusahaan di Kantor KSOP Marunda namun pemelik perusahaan Teuku Hamzah yang juga anggota dewan Kota Batam tidak hadir F-ISTIMEWA/PPI Jakarta

TANJUNGPINANG – Tenggelamnya kapal Tugboat (TB) Virgo 99 milik PT Tampok Sukses Perkasa di Tanjung Karawang akhir 2017 lalu, hingga kini masih menyisakan persoalan kepada keluar awak kapalnya.

Kapal itu tenggelam di sekitar perairan kawasan Teluk Karawang yang juga menjadi lokasi jatuhnya Lion Air PK-LQP JT 610 belum lama ini.

Sebut saja, sang nakhoda kapal yang bernama Mula Situmorang, tak dapat diselamatkan dan tenggelam bersama kapal tersebut.

Namun, hingga kini pihak perusahaan PT Tampok Sukses Perkasa (TSP) belum memenuhi hak atas meninggalnya nakhoda tersebut kepada ahli warisnya.

Diketahui, perusahan pelayaran itu milik seorang anggota DPRD Kota Batam yakni Teuku Hamzah Husein yang juga seorang caleg 2019 Kota Batam.

Hingga saat ini, perusahaannya tidak membayar santunan kepada keluarga korban sesuai aturan yang berlaku.

Sementara, selama korban bekerja pihak perusahaan yakni PT TSP juga tidak mengikutsertakan nakhoda Mula Situmorang pada perlindungan kecelakaan kerja yakni BPJS Ketenagakerjaan.

Setelah kejadian itu, telah dilakukan pertemuan dan mediasi yang digawangi pihak organisasi pelaut yakni Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) cabang Batam.

Bahkan, kasus tersebut telah disidangkan sebanyak 2 kali di Pengadilan Hubungan Industri di Tanjungpinang. Namun, Teuku Hamzah tidak pernah menghadiri sidang tersebut. Sehingga, Teuku Hamzah dinilai pihak PPI Batam tidak kooperatif dalam menyelesaikan kasus ini.

Ketua PPI Batam Iskandar Zulkarnain mengatakan, kami PPI Batam juga telah mediasi untuk membahas persoalan ini yang difasilitasi oleh petugas pemeriksa kecelakaan kapal Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Marunda, Jakarta Utara dengan PT TSP selaku pihak pemilik kapal pada awal tahun lalu.

Ia menambahkan, malah telah selesai sidang yang kedua pada Rabu (28/11) di PHI Tanjungpinang.

”Kami dari PPI Batam hanya ingin menyelesaikan persoalan yang menimpa anggota kami, yakni nakhoda kapal yang bernama Mula Situmorang yang tenggelam. Untuk itu, kami menggugat Teuku Hamzah untuk memenuhi segala kewajibannya sebagai pihak perusaahaan,” terang Iskandar Zulkarnain.

Ia menambahkan, sesuai aturan di dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 2000 tentang Kecelakaan Kerja.

Maka, lanjut Iskandar, korban berhak mendapatkan santunan dari perusahaan PT TSP minimal Rp150 juta.

Selain itu, berdasarkan keterangan dari pihak BPJS Ketenagakerjaan yakni 60 persen dari total gaji yang diterima korban dikalikan 80.

Namun, dewan Kota Batam yang juga caleg 2019 di Dapil Batam Kota 5 Teuku Hamzah pernah menyampaikan kepada keluarga korban bersedia membayar Rp100 juta. Namun, pembayaran dilakukan dengan mencicil sebesar Rp5 juta setiap bulannya.

Lantas, keluarga korban pun menolak tawaran itu dan hingga kini persoalan itu belum selesai.

Sementara, PI Batam yang mendamping keluar korban nakhoda Mula Situmorang menuntut PT TSP ke pengadilan.

Teuku Hamzah, ketika dikonfirmasi belum dapat memberikan jawaban terkait hal ini karena tidak dapat dihubungi oleh Tanjungpinang Pos. (abh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here