Kargo Picu Kenaikan Harga Cabai

0
100
Salah sau pedagang sedang menunjukkan cabai rawit di Pasar Bestari Bintan Centre (Bincen) Tanjungpinang. F-Andri Dwi S/tanjungpinang pos

Kenaikan Tarifnya Sudah Tak Masuk Akal

Tingginya harga cabai beberapa bulan terakhir ini menjadi perbincangan ibu-ibu di Kepri, termasuk di Kota Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG – Harga cabai kemarin masih tinggi, Rp100 ribu per kilo, itupun kalau belanja di Pasar Baru dan Pasar Bintan Centre.

Tapi kalau belanja di warung-warung, kalau membeli per ons, harganya Rp12 ribu per ons.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindagin) Kota Tanjungpinang H Ahmad Yani, kalau harga cabai mau normal, pemerintah pusat harus mengeluarkan aturan agar tarif kargo udara diturunkan. Atau, tarif kargo udara khusus untuk cabai diberikan tarif khusus.

Tarif kargo naik memicu kenaikan cabai dipasar Tanjungpinang. Rata-rata cabai yang beredar di Tanjungpinang didatangkan dari Yogyakarta, Mataran dan daerah lainnya di Pulau Jawa. Sedangkan petani cabai lokal belum bisa menutupi permintaan pasar.

”Ongkos cabai harga, kata pedagang cabai dari Yogyakarta ke Batam saja, Rp20 ribu per kilonya. Sebelumnya, hanya Rp10 ribu per kilonya,” bebernya.

Sambung dia, biaya kargo sudah Rp20 ribu per kilo, belum lagi biaya transportasi dari Batam ke Tanjungpinang, karena tidak ada penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Tanjungpinang. ”Kita harapkan pemerintah pusat meminta kepada maskapai untuk menurunkan tarif kargo. Supaya biaya untuk mengangkut cabai juga murah,” ujarnya, belum lama ini.

Sementara itu, Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) hari ini, Senin (8/7) menyambangi KPPU untuk memberi keterangan terkait kenaikan harga tarif surat muatan udara (SMU) atau kargo udara.

Wakil Ketua Asperido Budi Paryanto menjelaskan salah satu keterangan yang disampaikan adalah tentang kenaikan tarif SMU yang menurutnya di luar kebiasaan.

”Pertama dari sisi kenaikannya yang berturut-turut selama periode waktu enam bulan terakhir, dan yang kedua prosentase kenaikannya itu sama di luar kewajaran, akumulasi yang terendah itu 70 persen yang tertinggi sampai angka 350 persen untuk beberapa sektor kota tujuan,” ungkap Budi.

Dampak dari kebijakan maskapai tersebut dirasakan langsung oleh Asperindo, beberapa perusahaan anggota Asperindo berhenti beroperasi.

Sebelumnya, tiga maskapai penerbangan yakni Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya telah melakukan kebijakan menaikkan tarif jasa pengiriman kargo secara beruntun sejak akhir Oktober 2018.

Padahal menurut Undang-undang No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha, sekelompok perusahaan dilarang keras melakukan kesepakatan pengendalian harga. Jika Terbukti KPPU bakal memberikan sanksi dengan denda maksimal hingga Rp25 miliar.

Selain dugaan kartel tarif kargo, KPPU juga tengah menyelidiki dugaan kartel harga tiket pesawat, dan hari ini menurut Budi sedang dilakukan rapat komisi untuk menentkan kelanjutan proses peneyelidikanya. (ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here