Kasus Malaria Turun, DBD Cuma 95 Kasus

0
205
dr Gamma Isnaeni

BINTAN – Dinas Kesehatan Bintan telah mendata kasus penyakit endemik malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bintan, sepekan sebelum akhir tahun 2018. Jumlah pasien penderita penyakit malaria turun. Sedangkan kasus DBD cuma 95 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Bintan dr Gamma Isnaeni melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Yosie Susanti menerangkan, selama tahun 2017 lalu, jumlah penderita penyakit malaria sebanyak 170 orang. Setahun sebelumnya (2016) pasien malaria di Bintan justru mencapai 300-an orang. Tahun 2018 ini, penderita malaria turun.

”Januari sampai November 2018, hanya 127 orang penderita malaria. Kami yakin, sampai akhir tahun hanya beberapa kasus saja penambahan. Itu pun kalau ada. Yang jelas, kasus malaria turun,” kata Yosie, menjawab Tanjungpinang Pos, kemarin.

”Warga yang menderita malaria ini banyak terjadi di Mantang, Tembeling Kecamatan Teluk Bintan dan Teluksasah,” sambungnya.

Sedangkan penyakit DBD, Yosie mengungkapkan, tahun 2016 silam, penderita DBD di Bintan sebanyak 380 orang. Tahun 2017 dilakukan gerakan kebersihan dan sejumlah program sanitasi lingkungan. Penderita DBD selama tahun 2017, turun drastis dibandingkan tahun 2016.

”Penderita DBD pada tahun 2017 lalu, kita cuma menemukan 75 kasus. Nah, untuk tahun 2018, dari Januari sampai dengan Jumat 21 Desember 2018 lalu, ada 95 kasus yang kita temukan. Dari jumlah itu, 5 orang penderita terjadi pada bulan Desember 2018 ini,” jelasnya.

Dari 95 kasus DBD, Yosie menerangkan, 20 kasus terdata di Puskesmas Teluksasah, Kecamatan Sri Kuala Lobam. Kemudian, ada 17 kasus DBD di Puskesmas Tanjunguban, 10 kasus di Mantang dan 6 kasus DBD di Seilekop. Sedangkan sisanya ada di Puskesmas lainnya, tapi relatif lebih kecil.

”Daerah rawan DBD di Kabupaten Bintan itu ada di Teluksasah, Tanjunguban, Mantang, Seilekop, Kijang (Bintim). Kalau Toapaya, ada 2 kasus terbaru yang kita temui. Tapi, sedikit kasus di Toapaya ini,” terang Yosie.

Pasien penderita malaria dan DBD di wilayah Bintan, tambah Yosie, hampir terjadi setiap bulan. Tapi, masa puncak munculnya dua penyakit ini, terjadi pada bulan November. Karena, November merupakan masa pancaroba atau peralihan musim kemarau dengan hujan.

”Pada masa pancaroba ini, merupakan masa perkembangan jentik nyamuk. Terutama di daerah genangan air. Kami mengimbau agar masyarakat selalu membersihkan lingkungan tempat tinggalnya,” saran Yosie.

”Nah, dari Dinkes Bintan sendiri, kami selalu melakukan mengajak masyarakat untuk penyebaran abate, dan fogging di titik-titik kasus,” demikian ditambahkan Yosie. (fre)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here