Kata Ibu yang Anaknya Mencintai Buku

0
295
ILUSTRASI Esai; Kata Ibu yang Anaknya Mencintai Buku

TIBA-TIBA pertanyaan itu mengingatkan saya pada keberangkatan pertama ke Tanjungpinang. Pertanyaan tentang segala berkenaan pertama selalu begitu. Membetot saraf untuk membongkar brankas kenangan dari masa lalu. Namun, atas nama ingin terlihat jemawa, saya menjawab pertanyaan seorang anak muda tentang buku pertama yang saya baca sekenanya.

Setiba di rumah, saya renung lagi pertanyaan: buku pertama yang dibaca. Baiklah. Melalui kolom sederhana ini, izinkan saya bercerita.

Pada Juni 2009, saya mengepak segala kebutuhan jelang keberangkatan ke Tanjungpinang. Saat itu, Anda tahu, Ibuk adalah orang paling khawatir. Tentu, berat baginya akan berpisah ribuan kilometer dengan anaknya yang jago makan ini. Jenis kerisauan akankah lidah anak sulungnya bisa berkompromi dengan masakan yang beda kultur. Saya menenangkannya. “Tenang, lauk terbaik adalah lapar.” Itu saya kutip dari penuturan guru mengaji saya. Ibuk sudah tenang, giliran saya melanjutkan mengepaki barang-barang.

Setelah semua perkakas macam baju, dalaman, gantungan baju (serius ini Ibuk membelikan selusin yang baru), sajadah, dan kitab-kitab penunjang kegiatan mengajar, saya masih merasa ada yang kurang. Perjalanan dua hari tiga malam Tanjung Perak ke Pelabuhan Kijang ini sudah pasti akan berlalu dengan amat membosankan. Saya mesti membekali diri dengan sebaik-baiknya hiburan. Kartu remi sudah, gaple ada, berbungkus-bungkus sigaret, lalu camilan yang memang akan sangat wajib. Dan … rasa-rasanya buku bisa jadi barang yang asyik.

Di sini pangkal permasalahannya. Saya ingat tidak punya sebarang buku cerita di rumah. Maklum, saat itu, toko buku terdekat ada di kota. Jarak yang tidak terjangkau. Tentu akan aneh dipandang penumpang sekapal, kalau dalam waktu senggang saya membaca Kitab Kuning. Buku apa pun, saya rasa, bisa menjadi penyeling bosan bermain judi.

Saya beruntung punya Ibuk yang selalu suka merepoti diri membantu anaknya epak-epak. “Buku ini dibawa, Le?” Ibuk menunjukkan sebuah buku tebal bersampul putih kusam, tulisan di bagian mukanya besar-besar. Dengan bahasa Inggris pula. Mungkin, menurut Ibuk, itu bagian dari buku pelajaran yang juga harus diangkut. Jadilah, pikir saya. Ketimbang tidak ada buku lain yang pantas dibaca.

Buku itu berjudul Rich Dad Por Dad oleh Robert T. Kiyosaki. Sesungguhnya, buku inilah yang harusnya saya katakan kepada anak muda yang bertanya itu. Tapi, ya semoga ia membacanya di tulisan ini.

Sebenarnya, buku ini tidak saya beli. Sungguh, akan mengerikan pola pikir seorang remaja 17 tahun sampai harus membeli kitab suci teori ekonomi. Buku ini saya angkut (jikalau mencuri terlalu kriminil) dari perpustakaan di pesantren. Ringan saja alasannya. Buku itu terletak di rak tertinggi dan dari hari ke hari berdebu, tidak ada santri yang menyentuhnya. Maka, tentu akan ‘lebih mulia’ jika saya membawanya. Toh, waktu itu, tidak ada yang benar-benar dirugikan. Daripada lapuk, daripada dimakan rayap.

Maka, Robert T Kiyosaki benar-benar menjadi peneman yang baik usai kalah main kartu. Saya membaca halaman ke halaman tentang ayah kaya dan ayah miskin. Jujur, itu bukan buku yang mudah. Baris ke baris, saya seperti berulang-kali terjatuh. Otak saya kadung bebal memahami teori-teori ekonomi. Siapakah Ayah Kaya dan Ayah Miskin? Dari awal membaca sampai ke pertengahan, kesulitan isi kepala saya mencernanya. Namun, demi menghabisi waktu di atas KM Dobonsolo, saya terus membaca dan membaca dan membaca. Pikir saya, aktivitas ini jauh lebih berfaedah ketimbang membayangkan Maria Ozawa.

Saya tidak ingat pastinya. Namun, boleh jadi, sejak pengalaman membaca di atas kapal itu, saya bertekad untuk semakin rajin membaca. Utamanya terhadap buku yang saya suka. Maka, setiap masuk ke toko buku, saya tidak pernah keluar dengan tangan kosong. Ada saja sebiji dua yang saya jinjing keluar. Ini beli, bukan mencuri. Saya belum punya keberanian sebanding dengan Chairil Anwar dan Asrul Sani dalam menguntit buku di toko. Cukup di pesantren saja.

Hampir 10 tahun tinggal di Tanjungpinang, saya baru sadar ada Ayah Miskin dan Ayah Kaya beranak-pinak. Entah berapa jumlah pastinya. Rasa-rasanya tiga kardus rokok besar adalah yang berdiam sebab sudah habis terbaca. Sedangkan di rak, meja kerja, di tas, di bawah bantal, di samping rak sepatu, di sebelah cermin, ada buku. Buku-buku yang masih terus-terusan merengek minta dibaca. Sampai di sini saya cuma bisa tercenung, berapakah uang hasil kerja yang sudah habis untuk membeli buku?

Saya takut menghitungnya. Jangan-jangan bisa ditukar dengan satu unit motor trail yang masih jadi idaman itu. Kalau benar iya, tentu saya bisa menyesal. Sebab itu, biarkan saja buku-buku itu terus beranak-pinak. Robert T. Kiyosaki tentu tetap punya tempat spesial, seperti mantan pacar pertama. Mereka bertinggal di belakang, tapi pada waktu tidak pernah lekang. Nah, ada satu orang yang iseng menghitungnya, menaksir duit yang sudah habis untuk berbelanja buku.

“Kalau saja kita pukul rata satu buku Rp 60 ribu,” kata juru taksir itu, “berarti total yang sudah kauhabiskan senilai ….”

Sebentar. Sebentar. Saya menyergahnya. Tidak adil kalau main pukul rata begitu. Ada buku yang saya beli memakan sepertiga gaji. Ada pula yang senilai bujet menginap semalam di hotel. Dan, memang ada pula yang hanya seukuran seharga dua bungkus rokok. Macam-macam harganya. “Bagaimana kalau dipukul rata Rp 75 ribu?” usul saya.

Ia kembali meraih kalkulatornya. Tat-tit-tut telunjuknya menekan tombol. Keluarlah deretan angka panjang di sana. Saya mengelus jidat. Tidak mungkin sebanyak itu. Juru taksir itu tersenyum melihat keterkejutan saya. Saya ingin mengomelinya. Bukan karena apa. Dengan melihat angka itu, saya jadi kembali terbayang motor trail idaman dan kembaliannya mungkin bisa untuk menyicil uang muka rumah. Tiba-tiba terasa sesak dan sesal yang bercampur-aduk dalam dada.

Sebenarnya, saya ingin mendampratnya dengan seenaknya menghitung nilai beli buku-buku saya. Tapi, ia satu-satunya manusia yang tidak mungkin menerima kata kasar dari saya, apalagi sebuah dampratan. Bisa jadi batu nanti. Juru taksir yang semena-mena itu tak lain dan tak bukan adalah Ibuk saya.

“Pantas kamu kok belum nikah-nikah,” kata Ibuk.

Saya melengos. Mencari benang merah antara menikah dan buku-buku. Saya ingin membeberkan bahwasanya tidak ada kaitan buku ini dengan belum adanya anak gadis yang bisa dibawa pulang. Tapi Ibuk mana mau dengar. Ia sudah merasa menang telak, persis seperti usai melakukan slam dunk penuh gaya.

Bersyukur, Ibuk ketika main ke Tanjungpinang bersama Bapak. Di sini, saya seperti punya dewa penolong. Bapak sambil membakar rokok menyampaikan sebuah petuah yang akan saya ingat seumur hidup dan kelak akan saya wariskan ke anak dan cucu sampai cicit kalau perlu.

“Buku itu ‘kan juga investasi. Karena laki-laki harus pandai membaca buku lebih dahulu sebelum membaca perempuan,” kata Bapak.

Saya jadi tahu mengapa orang tua saya tetap romantis setelah lebih dari seperempat abad menikah. Mendengar ungkapan Bapak itu, wajah Ibuk seketika merengut-manja. “Maksudnya apa?” katanya.

Saya berterima kasih dilimpahi sepasang orang tua yang membiarkan anaknya membaca banyak buku dan memilih gadis yang kelak akan jadi menantunya.***

OLEH: FATIH MUFTIH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here