Kaum Milenial Diajari Bahasa Publik

0
237
FOTO bersama usai seminar dengan tema ‘Public Speaking untuk Generasi Milenial Kepri di Era Digital’ yang digelar di Comforta Hotel Tanjungpinang, Minggu (22/12) hingga Senin (23/12). F-ISTIMEWA

Ikastirap dan Himapi Stisipol Gelar Seminar Public Speaking

Kaum milenial, salah satunya kalangan mahasiswa diajari tentang bahasa publik (Public Speaking) yang baik agar lebih santun dalam bertutur kata di masyarakat, media sosial dan lainnya.

TANJUNGPINANG – KEGIATAN ini dilakukan Ikatan Alumni Administrasi Publik (Ikastirap) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik (Himap) Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Raja Haji Tanjungpinang menggelar seminar Public Speaking.

Seminar ini mengambil tema ‘Public Speaking untuk Generasi Milenial Kepri di Era Digital’ yang digelar di Comforta Hotel Tanjungpinang pada Minggu (22/12) sampai dengan, Senin (23/12).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dan panitia mendatangkan narasumber dari Kahfi Motivator School, Kasatreskrim Polres Tanjungpinang, digital marketing konsultan dan jurnalis. Ketua Ikastirap Stisipol Raja Haji Tanjungpinang yang diwakili oleh Sekretaris Ikastirap Asri, S.Sos MM mengatakan, seminar ini bertujuan untuk mengajak dan melatih generasi milenial di Provinsi Kepri untuk bisa bisa public speaking yang baik di era digital sekarang ini.

”Dengan adanya seminar public speaking ini, kita dari penyelenggara ingin mengajak generasi milenial Kepri untuk bisa untuk bisa public speaking yang baik, berbahasa yang baik di dalam media sosial dan menyampaikan informasi yang baik dan benar,” ucap Asri.

Selain itu, Ketua Himap Stisipol Raja Haji Tanjungpinang Azirwan juga mengatakan hal serupa dengan kegiatan ini mahasiswa sebagai agen of change bisa dan pintar dalam public speaking di era yang serba dengan gadget ini.

”Kegiatan ini sangat membantu kita, sebagai agen of change yang selalu jumpa dengan masyarakat. Kita harus bisa public speaking yang bagus dalam berbicara dan menyampaikan informasi kepada masyarakat agar tidak keliru dan sopan serta tidak menyinggung orang lain,” tutur Azirwan dalam sambutannya.

Sedangkan Mahmud Arifin selaku narasumber menyampaikan tentang bagaimana mengubah mindset dari dan cara berpikir otak dalam mengasah public speaking yang baik.

”Ingin menjadi public speaker, kita harus banyak pengetahuan dan ilmu. Bagaimana untuk mendapatkan itu? Ya belajar,” ucap Arifin.

Pelajari dan baca buku, Arifin melanjutkan, baca buku yang cocok dengan keinginan kita. Kita hobinya apa dan suka apa pelajari dan baca buku yang berhubungan dengan hal tersebut.

”Dari membaca itulah bisa melatih kita untuk bisa berbicara di depan publik, dan bisa menjadi publik speaker yang baik. Selain itu kita dapat pengetahuan dan ilmu dari membaca tersebut,” tutupnya.

Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang AKP Efendri Ali S.Ip MH saat menyampaikan materi kepada peserta seminar.

Selain itu, dihari kedua ada penyampaian materi dari Kasatreskrim Polres Tanjungpinang AKP Efendri Ali S.Ip MH tentang Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dalam penyampaiannya, Efendri Ali menjelaskan bagaimana tatacara berbicara dan bahasa yang baik dalam media sosial yang tidak melanggar Undang-undang ITE UU nomor 19 tahun 2016 atas perubahan dari UU No.11 tahun 2008.

”Dalam membuat status di media sosial seperti Facebook, WA harus gunakan bahasa yang baik. Jangan sampai membuat status dengan menyinggung orang,” tuturnya.

Untuk itu, ia mengajak pengguna Medsos agar lebih bijak menggunakannya tanpa harus menyinggung satu sama lain. Sebelum penyampaian dari AKP Efendri Ali S.Ip MH ada juga penyampaian materi dari Andri Dwi Sasmito S.Sos, wartawan di koran harian Tanjungpinang Pos yang menyampaikan tentang menjadi public speaker jurnalis di era digital dan media sosial. Dalam materinya, Andri Di Sasmito menjabarkan tahap dasar menjadi jurnalis yang menjelaskan tentang dasar penulisan dengan metode 5W1H dan juga cara wawancara narasumber yang baik.

”Menjadi seorang jurnalis itu, harus menguasai 5W1H, dan tata cara penulisan sebelum melakukan wawancara dengan narasumber. Gunakan bahasa yang baik dan jaga komunikasi,” kata Andri yang juga Alumni Stisipol.

Selain menguasai dasar penulisan, menjadi seorang jurnalis juga butuh proses dan tahapan yang lama dan rus banyak belajar.

”Menjadi seorang jurnalis profesional itu tak mudah, butuh proses dan tahapan yang harus dilewati. Tapi yakinlah, selagi serius belajar dan terus mencoba, bisa menjadi penulis yang baik,” tutupnya. (Adly ‘Bara’ Hanani)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here