Keagungan Suara Rakyat

0
441
Rendra Setyadiharja

Oleh: Rendra Setyadiharja
Tenaga Pengajar Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Tanggal 27 Juni 2018 adalah hari yang bersejarah bagi rakyat Indonesia. Hari gegap gempita pesta demokrasi. Termasuk di Kota Tanjungpinang. Karena pada hari ini, rakyat Kota Tanjungpinang menentukan siapa pemimpinnya untuk lima tahun mendatang. Dari dua pasangan calon yang telah dikenal, dipelajari dan ditelaah oleh rakyat Kota Tanjungpinang, tentunya telah membuka hati rakyat untuk memilih siapa yang terbaik. Dari beberapa kali sesi debat pasangan calon, tentunya sudah semakin memantapkan masyarakat untuk memilih siapa pemimpinnya lima tahun yang akan datang.

Pada momentum pemilihan langsung seperti yang sama-sama masyarakat Kota Tanjungpinang selenggarakan pada tanggal 27 Juni 2018, disinilah kedaulatan rakyat berlaku. Rakyatlah yang menentukan nasibnya sendiri. Rakyat juga yang akan memilih siapa yang terbaik berdasarkan keyakinannya yang paling dalam, bukan paksaan atau pengaruh dari siapapun. Meskipun berbagai referensi telah diterima dan dicerna masyarakat akan tetapi pada hari pemungutan suara, rakyatlah yang menentukan nasibnya. Tidak ada yang mengetahui siapa pilihan rakyat pada sangat pemungutan suara kecuali rakyat itu dan Tuhannya. Maka suara rakyat memiliki nilai keagungan tertinggi dalam konteks ini. Ibarat kata, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Namun yang sangat disayangkan, what next? setelah semuanya terjadi. Setelah pilihan telah ditetapkan, akankah keagungan suara rakyat itu bertahan lama? akankah kedaulatan rakyat masih menjadi primadona setelah nantinya salah satu pasangan calon menang? apakah rakyat hanya jadi instrumen penentu nasib bangsa lima tahun akan datang. Akankan kesucian suara rakyat akan dikhianati?

Baca Juga :  Menyambut Indahnya Bulan Suci Ramadan

Pertanyaan-pertanyaan ini yang harusnya dijawab oleh semua pasangan calon. Siapapun yang terpilih itu adalah kehendak rakyat. Kehendak tertinggi di dalam sebuah demokrasi. Dengan catatan demokrasi itu tidak dicacati oleh politik uang, kecurangan, intimidasi dan hal-hal lain yang mencederainya. Rakyat pun harus sadar bahwa kita semua tak ingin melakukan kesalahan dalam menentukan pilihan. Ingatlah bahwa suara kita sebagai rakyat adalah penting dalam konteks memilih pemimpin. Ingatlah bahwa suara kita berdasarkan dari keyakinan kita yang paling tinggi. Bahkan suara kita adalah hasil petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk kita menentukan pilihan. Jadi jangan biarkan suara kita sia-sia. Tanpa rakyat maka tidak akan ada pemimpin masa depan. Rakyat yang baik akan memilih pemimpin yang juga baik. Karena pemimpin diciptakan berdasarkan suara rakyat. Rakyat yang hebat pasti akan memilih pemimpin terhebat.

Tanggal 27 Juni 2018, adalah hari suci yang jangan disia-siakan. Hanya pada hari itulah dimana rakyat meletakkan marwah, harga diri dan keyakinannya serta kemudian menitipkan amanah tersebut pada seseorang yang rakyat yakini terbaik bagi dirinya, keluarganya, lingkungannya, negara dan bangsanya lima tahun yang akan datang. Maka setelah itu, yang perlu dilakukan rakyat adalah, pertama, memastikan bahwa suara agung itu aman sampai kepada proses penentuan akhir kandidat terpilih, dalam konteks ini seluruh rakyat lewat lembaga-lembaga yang sah harus mengawasi jalannya proses mulai dari perhitungan suara di TPS, di tingkat kelurahan, kecamatan sampai kepada pleno pada tingkat Komisi Pemilihan Umum. Ketajaman mata rakyat mengawal suara suci yang telah kita titipkan pada lembaga-lembaga mulai dari KPPS, PPS, PPK sampai kepada KPU sangat diperlukan. Jangan ada sedikitpun kecurangan terhadap suara tersebut. Biarlah suara rakyat menentukan pemenang dengan seadil-adilnya dan seideal-idealnya.Kedua, terus menjadi rakyat yang baik bagi pemimpin yang sah. Akhirnya sekali mungkin tak selamanya pilihan kita menjadi yang terbaik. Saat pilihan kita kalah, bukan berarti ia tak pantas.

Baca Juga :  Bahaya Menjadi Perokok Pasif

Namun rakyat mungkin tahu kepada siapa ia titipkan suara terbaiknya untuk pemimpin yang terbaik. Semua pasangan calon mungkin baik, namun rakyat harus menentukan siapa yang terbaik. Maka ketika pilihan kita tidak menjadi pilihan mayoritas rakyat, tetaplah menjadi rakyat yang terbaik bagi pemimpin yang sah dan menang dipilih mayoritas rakyat lainnya. Menjadi rakyat yang baik adalah terus mengawasi, memberikan masukan yang konstruktif dan menaanti pemimpin tersebut. Jadikan semboyan “Raja Adil Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah” dijalankan dalam kehidupan kita dalam proses bernegara. Terima kebaikan pemimpin kita jika memang ia baik menjalankan amanah dengan menelurkan kebijakan yang baik juga, namun jika ia salah, maka kita sebagai bagian dari kedaulatan bangsa ini, wajib mengingatkan pemimpin kita.

Baca Juga :  Mendata Orang Laut di Kepri

Wahai rakyat semua, ingatlah bahwa suara kita memiliki nilai luhur yang tinggi, jangan sia-siakan suara, hanya dengan memberikan suara pada saat pemungutan suara namun membiarkan ia menguap ditelan angin. Suara kita tetaplah menjadi ruh pemerintah selama lima tahun ia memerintah. Hal ini mesti menjadi perhatian khusus bagi kandidat, bahwa rakyat telah menyerahkan amanah kepadamu. Kami akan terus memperhatikan dan mengawasi suara kami. Siapapun yang terpilih, itulah terbaik bagi rakyat dan sebagai rakyat yang baik, kami akan terus menjaga agar amanah yang telah diberikan tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here