Kebijakan Prilaku Hidup Bersih Dan Sehat, The New Normal Dalam Menghadapi Pandemik Covid-19

0
963
Indra Martias

Oleh : Indra Martias, SKM, MPH
Dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang

PHBS merupakan kependekan dari Prilaku Hidup Bersih dan Sehat. Sedangkan pengertian PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan karena kesadaran pribadi sehingga keluarga dan seluruh anggotanya mampu menolong diri sendiri pada bidang kesehatan serta memiliki peran aktif dalam aktivitas masyarakat. Perilaku hidup bersih sehat pada dasarnya merupakan sebuah upaya untuk menularkan pengalaman mengenai pola hidup sehat melalui individu, kelompok ataupun masyarakat luas dengan jalur – jalur komunikasi sebagai media berbagi informasi. Ada berbagai informasi yang dapat dibagikan seperti materi edukasi guna menambah pengetahuan serta meningkatkan sikap dan perilaku terkait cara hidup yang bersih dan sehat. 

PHBS sendiri telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2266/Menkes/Per/XI/2011 , tentang Pedoman Pembinaan PHBS. Kebijakan PHBS telah diatur oleh pemerintah dengan tujuan meningkatkan kualitas kesehatan melalui proses penyadartahuan yang menjadi awal dari kontribusi individu – individu dalam menjalani perilaku kehidupan sehari – hari yang bersih dan sehat. Manfaat PHBS yang paling utama adalah terciptanya masyarakat yang sadar kesehatan dan memiliki bekal pengetahuan dan kesadaran untuk menjalani perilaku hidup yang menjaga kebersihan dan memenuhi standar kesehatan.

Baca Juga :  Kontekstualisasi Etika Kekuasaan Pemikiran Al-Ghazali

Semua orang baik dalam keadaan sehat atau menderita gejala Covid-19 perlu melakukan PHBS, isolasi diri di rumah dan social distancing untuk mencegah penularan Covid-19. Menutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau lipatan siku tangan bila batuk atau bersin serta membuang tisu tersebut ke tempat sampah dan menggunakan masker bersih dan terstandar bila batuk agar droplet tidak menyebar.  Tangan harus dicuci dengan air mengalir dan menggunakan sabun atau pembersih tangan berbasis alkohol untuk memutus kontak dengan droplet yang menempel di permukaan benda. Ini semua merupakan prinsip dasar untuk melaksanakan PHBS dalam kehisupan sehari-hari.

Pandemi Covid-19 ini telah mengubah pola hidup masyarakat tidak hanya Indonesia, bahkan juga dunia. Dalam upaya melakukan pencegahan penyebaran virus Covid-19, masyarakat dihimbau untuk melakukan prilaku hidup bersih dan sehat antara lain mencuci tangan pakai sabun, etika batuk dan lain sebagainya. Akhir-akhir ini kita sering disuguhkan dengan istilah baru  “new normal”. Apa sebenarnya istilah new normal itu ?  Pemerintah mengatakan new normal adalah hidup bersih dan sehat, bukan pelonggaran PSBB. Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan Covid-19, Ahmad Yurianto mengatakan, “New normal adalah hidup sesuai protokol kesehatan untuk mencegah virus corona (Covid-19). Karena itu, jaga jarak hingga menggunakan masker akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.”

Baca Juga :  Menanti Efek 'Jelita Sejuba' untuk Natuna

Pola hidup baru dapat dijalankan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan dalam kegiatan sehari-hari. Adapun protokol kesehatan yang dimaksud di antaranya menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker ketika keluar rumah, menjaga jarak, serta menjaga kesehatan dengan asupan makanan dan berolahraga. Pakar epidemiologi,  dr Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD (Cand) Global Health Security CEPH Grifftih University mengatakan, pola hidup baru selama pandemi harus mulai disosialisasikan. Penerapan pola sekolah baru harus dipersiapkan dengan matang. Semuanya boleh dilakukan jika seluruh perangkat siap dan prosedur screening telah dipenuhi. Jika screening belum dilakukan, sangat dianjurkan untuk dipaksakan pelaksanaannya. Potensi penularan Covid-19 dapat terjadi di segala rentang usia baik orang dewasa muda hingga anak-anak. Virus corona jenis baru ini dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian. Beberapa hal harus dilakukan sebelum melaksanakan pola sekolah baru, seperti screening kesehatan bagi pihak-pihak terkait, screening zona tempat tinggal, tes untuk Covid-19, aturan waktu dan kegiatan belajar mengajar, aturan tempat duduk, dan protokol kesehatan lainnya.

Baca Juga :  Fenomena Vespa Tua

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memberikan pedoman bagi negara-negara soal penerapan the new normal. Inti dari pedoman transisi tersebut yakni pemerintah suatu negara harus membuktikan transmisi Covid-19 telah dikendalikan. Kemudian, kapasitas sistem kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit memadai untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak dan mengarantina pasien. Selanjutnya risiko penularan wabah telah diminimalkan, terutama pada lokasi dan kondisi masyarakat dengan kerentanan tinggi. Jika sebuah negara tidak bisa memastikan pedoman transisi tersebut terpenuhi, harus berpikir kembali sebelum memutuskan melonggarkan pembatasan dan memasuki kondisi the new normal. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here