Kedai Kopi Sebagai Wahana Edukasi di Zaman Now

0
1107
Totok Haryanto, SE, MM

Oleh : Totok Haryanto, SE, MM
Guru SMKN 1 Tanjungpinang

Kedai kopi atau dalam istilah Jawa warung kopi merupakan sebuah usaha yang pada prinsipnya menjual minuman kopi panas serta diselingi dengan berbagai varian menu-menu lainnya seperti aneka makanan ringan maupun minuman segar.

Pada perkembangannya di areal terdekat dengan berdirinya kedai kopi juga tumbuh subur berbagai usaha skala mikro dan kecil seperti penjual gado-gado, mie lendir, ketoprak, bakso, ayam penyet dan sebagainya.

Mengutip pendapat dari Setdako Kota Tanjungpinang Bapak Drs. Riono, M.Si saat meresmikan salah satu kedai kopi di kawasan jalan Batu 8 Atas Tanjungpinang ‘kedai kopi merupakan sebuah tempat silaturahmi’.

Interaksi sosial/silaturahmi merupakan hal yang tidak dapat dihindari dan ditolak keberadaannya, mau tidak mau itu terjadi pada siapapun. Banyak menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia, seperti suku bangsa, adat istiadat dan interaksi adalah satu hal dasar yang menjadi pola dalam segala aktivitas manusia.

Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.

Kedai kopi telah menjadi sebuah tempat atau ruang yang egaliter karena variasi orang yang datang, tanpa membeda-bedakan strata sosial atau SARA.

Baca Juga :  Guru Bagai Barang Antik di PSB

Mereka melepas lelah dan ditemani berbagai varian hidangan juga menikmati suasana ruang yang bebas obrolan hingga berjam-jam bahkan larut malam, meskipun tidak saling mengenal tentang berbagai hal namun kadang di situlah muncul topik-topik yang serius dan menarik.

Mungkin menjadi hal yang wajar perbedaan dalam sebuah kedai kopi biasanya ialah hanya soal rasa, penyajian atau pelayanannya. Dengan hadirnya secangkir kopi maka dengan sendirinya suasana akan cepat mencair, hilang kepenatan/rasa letih dari rutinitas yang melelahkan.

Namun dalam perkembangannya kedai kopi di Kepulauan Riau khususnya Tanjungpinang saat ini bukan hanya sekedar tempat orang ingin menikmati secangkir kopi namun seolah sudah menjadi kampus kedua bagi mahasiswa dan rumah kedua bagi para komunitas, aktivis, pebisnis, penulis, budayawan, akademisi bahkan tokoh agama/ustaz.

Di zaman now istilah dunia remaja milenium saat ini mengistilahkan, bahwa ngopi dapat mewakili banyak segala aktivitas mulai dari pembagian pekerjaan, urusan bisnis, dialog interaktif, politik sampai dengan sekedar bincang-bincang non formal.

Baca Juga :  Guru Itu Agen Pendidikan Karakter dan Budi Pekerti

Penulis melihat bahwa kedai kopi adalah pusat interaksi sosial diantaranya adalah mahasiswa baik S1 maupun S2, yang dalam pola keseragamannya mereka memiliki latar belakang pekerjaan dan kedudukan yang sama.

Interaksi antarmahasiswa di kedai kopi menjadi sangat urgent, karena mereka bertemu dan berkumpul bukan hanya ingin sekedar menghabiskan waktunya di kedai kopi, namun juga ada berbagai kepentingan-kepentingan individu atau kelompok dalam membagi tugas perkuliahan.

Bahkan pada hari Sabtu nampak guru-guru Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan SMK se-kota Tanjungpinang begitu serius melaksanakan program MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) membahas soal-soal UNBK di salah satu kedai kopi yang baru dibuka di kawasan Batu 10 Tanjungpinang.

Dr. Zulkarnaen Djalil, M.Pd putra Tanjungpinang yang berkarir sebagai dosen tetap PNS di Universitas Malang. Saat pulang kampung ke Kota Tanjungpinang sempat mampir dan berdiskusi dengan beberapa kolega di kedai kopi yang sama.

Di hadapan penulis, sebagai pakar di bidang sosiologi beliau menyampaikan pesan bahwa kedai kopi pada zaman now bisa menjadi sebuah wahana edukasi bagi setiap komponen masyarakat dari berbagai strata pendidikan dan sosialnya.

Baca Juga :  Menuju Tanjungpinang Smart City

Seiring dengan perkembangan kemajuan masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau tentunya juga akan mempengaruhi esensi keberadaan kedai kopi. Tidak hanya sebagai tempat untuk sekedar pemenuhan kebutuhan minum secangkir kopi lalu bual-bual kosong, namun lebih dari itu hal-hal yang menyangkut kepentingan dan hajat masyarakat Kepri bisa dicarikan solusinya di sebuah kedai kopi oleh pejabat yang berwenang.

Menurut pakar sosiologi tersebut, juga bisa saja permasalahan pekerjaan PNS di kantor yang belum bisa diselesaikan saat jam kerja, maka tidak menutup kemungkinan kedai kopi bisa menjadi alternatif tempat atau wahana untuk membahas serta mencari solusi terbaiknya.

Hal ini tentu dilakukan pada saat di luar jam kedinasan sehingga tidak menimbulkan indisipliner pegawai. Percepatan pembangunan untuk Provinsi Kepulauan Riau memang membutuhkan kontribusi dari semua pihak, sehingga dibutuhkan Sumber Daya Manusia yang kompeten dan memiliki kreativitas tinggi untuk mewujudkannya.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here