Kejahatan Seksual Menyerang Anak Melalui Dunia Maya

0
572
Wardiman

Oleh: Wardiman
Mahasiswa Ilmu Adminitrasi Negara, FISIP, UMRAH

Perkembangan teknologi informasi yang kian makin pesat ini terutama kehadiran jaringan internet, memberikan dampak yang besar bagi masyarakat. Akan tetapi, ibarat pedang bermata dua, internet tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga dampak negatif terutama bagi anak-anak. Di satu sisi, internet menyediakan akses cepat bagi anak-anak untuk menggali dan menemukan berbagai ilmu pengetahuan, tapi disisi lain internet juga dapat menjadi wadah bagi para pelaku konten pornografi untuk menjebak anak-anak dan menghasilkan uang dari pekerjaannya tersebut.

Pembicaraan tentang pornografi menjadi perbincangan hangat. Mulai dari seminar-seminar sampai sosialisasi ke media elektronik. Konten pornografi yang telah menyebar luas didunia maya dengan mudah diakses hanya dengan bermodalkan handphone, android, gadjet, dan sebagainya. Tidak ada lagi yang tak pernah menyaksikan pertunjukan video syur tersebut. Mulai dari dewasa, remaja bahkan anak Sekolah Dasar sekalipun tidak luput dari tayangan tak senonoh tersebut.

Pada awal tahun 2018, publik dikejut oleh adanya beberapa pemberitaan terkait dengan kejahatan seksual terhadap anak. Pertama, kasus sodomi yang dilakukan oleh seorang guru honorer pada murid Madrasah di Tangerang, Banten. Kedua, kasus video konten pornografi yang melibatkan 3 anak jalanan dikota Bandung dan meluasnya video pornografi seorang anak bersama ibunya yang sedang beradegan panas di atas ranjang.

Sebelumnya, pada bulan 2017 terungkap penjualan video porno anak yang telah diperjualbelikan ke sekitar 49 negara. Video pornografi yang melibatkan anak-anak tersebut disebarluaskan melalui akun sosial media seperti Whatsapp, Twitter, Instagram, Facebook, Youtube serta laman web khusus penjualan konten video porno. Melihat beragam kasus yang menimpa anak-anak Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Tidak heran saat ini Indonesia memasuki fase darurat kekerasan dan kejahatan seksual tehadap anak.

Faktanya, pelaku kekerasan dan kejahatan seksual lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Umumnya, berdasarkan beberapa hasil penelitian sebagian besar pelaku pada awalnya juga merupakan korban kekerasan seksual. Hal ini sejalan dengan data tahun 2013 yang dilansir oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPA) RI menyebutkan 1 dari 12 anak laki-laki menjadi korban dari 900.000 kekerasan seksual yang terlaporkan, sedangkan pada anak perempuan perbandingannya adalah 1 banding 19 anak.

Publik mungkin juga banyak yang baru menyadari bahwa lingkungan sekitar tidak menjadi tempat aman bagi anak dan malah menjadi potensi terjadinya berbagai tindak kekerasan termasuk didalamnya adalah tindak kejahatan seksual anak. Banyak pihak yang tidak tahu bahwa empat tahun lalu sudah ada Intruksi Presiden (InPres) No. 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak (GN-AKSA) yang mengisyaratkan bahwa anak-anak Indonesia renta menjadi korban dan pelaku dari tindak kejahatan tersebut.

Institusi penegak hukum sebagai penyelidik dan penyidik menjadi kalang kabut atas desakan dan tekanan dari media dan publik yang berbeda pendapat untuk mengkriminalkan pelaku yang telah berbuat salah dan melanggar perundang-undangan. Lantaran sebagian pelaku merupakan anak di bawah umur.

Asas legalitas kembali diperkuat, seseorang tidak boleh dipidana kalau tidak ada peraturan yang mengaturnya. Undang-Undang KUHP, Undang-Undang Pornografi No.4 Tahun 2008, dan Undang-Undang ITE adalah dasar hukumnya yang dapat menjerat para pelaku kejahatan pornografi. Munculnya video pornografi yang baru-baru ini terjadi dari berbagai provinsi tidak boleh lagi menjadi alasan bagi penyidik untuk berdiam diri atas kejahatan pornografi yang melibatkan anak-anak.

Salah satu alasan baik dari partisipan hukum untuk mengatasi kejahatan pornografi adalah salah satunya yang baru-baru ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemKomInfo) keluarkan yaitu mesin sensor untuk konten pornografi di dunia maya yang telah beroperasi sejak 1 januari 2018 lalu. KemKomInfo menargetkan 30 juta konten pornografi dan 50% konten negatif di internet bisa langsung diblokir setelah mesin ini beroperasi.

Diharapkan juga agar masyarakat dapat ikut berperan aktif dalam mengatasi kejahatet agar anak tersean seksual, terutama bagi para orang tua yang memiliki anak agar dapat mengawasi anak-anaknya dalam mengakses internet agar anak terseut tidak dalam hal-hal yang berbau pornografi. Hal ini dilakukan agar anak tidak menjadi korban maupun pelaku dari kejatan seksual tersebut. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here