KEK Lebih Menjamin Ekonomi

0
930
MAL PELAYANAN: Menko Perekonomian RI, Darmin Nasution meninjau Mal Pelayanan di Batam, kemarin.f-martua/tanjungpinang pos

Menko Ekonomi Siapkan Draft Perubahan UU FTZ

Ekonomi Kepri terseret akibat lesunya industri di Batam. Free Trade Zone (FTZ) tidak lagi unggul. Malah lebih unggul Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Batam pun akan dijadikan KEK. Untuk itu, undang-undang harus diubah.

BATAM – Pemerintah pusat menginginkan produk yang dihasilkan sejumlah industri di Batam fokusnya jangan hanya untuk ekspor semata. Hendaknya produk Batam bisa dipasok untuk kebutuhan dalam negeri.

Kemudian, pemerintah pusat juga menginginkan agar produk Batam disertakan nama asalnya. Selama ini, banyak barang diproduksi di Batam, namun namanya tidak ada. Sehingga, jarang kelihatan Made in Batam dalam satu produk.

Menteri Koordinator Perekonomian RI, Darmin Nasution mengungkapkan, pemerintah pusat ingin agar produk Batam tidak hanya dijual ke mancanegara. Mereka ingin produk Batam, bisa dijual di dalam negeri. Selain itu, pemerintah pusat ingin agar produk dari Batam mencantumkan asal produknya. Selama ini, barang diproduksi di Batam, namun negara lain yang mendapat nama.

Untuk bisa memenuhi dua permintaan pusat tersebut, maka perlu diubah Undang-Undang Free Trade Zone (FTZ). Di undang-undang itulah diatur soal keistimewaan Batam dalam hal pajak.

Baca Juga :  Mau Bahas UMS, Pengusaha Tak Respon

Darmin mengatakan, pemerintah pusat ingin mewujudkan perubahan FTZ menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam. ”Apapun itu, kita perlu mengembangkan agar yang dihasilkan tidak hanya di ekspor. Harus bisa masuk kepabenana lain di Indonesia. FTZ tidak bisa itu,” tegas Darmin, Sabtu (9/12) lalu kepada Tanjungpinang Pos.

Hanya saja, Darmin mengatakan, untukmengubah undang-undang FTZ tidak mudah. Berbeda dengan daerah lain yang tidak masuk dalam FTZ, hanya perlu dengan peraturan pemerintah. ”Harus diubah UU-nya. Kita butuh waktu. Perubahan UU-nya udah disiapkan,” sambungnya.

Diakui Darmin, pihaknya melihat lebih baik konsep KEK daripada FTZ. ”Akan sulit kalau kita hanya bisa menjual barang yang dihasilkan Batam, dijual ke mancanegara. Sementara yang diproduksi di Singapura, bebas dijual di Indonesia. Jadi kita masih melihat itu (KEK) sebagai jalan paling cepat, mendorong pertumbuhan ekonomi,” tegas Darmin.

Diharapkan, dengan KEK, maka semua yang dihasilkan dari Batam, bisa dibawa keluar Batam. Sehingga, pasar produk dari Batam lebih besar. ”Sehingga pasar lebih besar. Apa lagi sekarang berkembang e-commerce. Pertarungan di industri semakin besar,” sambungnya.

Baca Juga :  Nasrun Reka Ulang Caranya Membunuh Janda Cantik

Disebutkannya, banyak barang yang tidak dihasilkan di negara lain, tapi brand-nya bukan Indonesia. Yang sederhana saja, sarang burung. Penghasilnya Indonesia 70 persen. ”Tapi bukan kita yang mendapat namanya, malah negara lain. Jadi mestinya kita buat di Batam, yang diproduksi di sini, mencantumkan nama Batam dan bisa dijual dalam negeri. Jadi kita memperdagangkan dengan e-commerce,” imbuhnya.

Darmin juga meminta agar BP aktif melakukan promosi. Diingatkan, Batam tidak cukup hanya menunggu investor datang. ”Perlu untuk mempromosikan Batam ke luar. Potensi-potensi yang ada dan patut dipromosikan misalnya pariwisata, industri digital serta logistik,” imbaunya.

Sebelumnya, anggota Komisi III DPRD Kepri Rudi Chua mengatakan, saat ini Batam sudah bukan tujuan utama para investor. Hal itu karena produk Batam tidak bisa dijual di dalam negeri.

Sementara para pengusaha asing justru melirik Indonesia sebagai pangsa pasar produk mereka. Jadi, sangat tidak mungkin investor membangun industri di Batam, lalu produknya dikirim ke luar negeri dan kembali dikirim ke Indonesia untuk dipasarkan.

Baca Juga :  Suami Berangkat Tugas, Istri Prajurit Dimotivasi

”Bagus mereka bangun pabrik di daerah lain (di Indonesia). Produknya langsung masuk pasar. Nah, ini yang kami dengar terjadi saat ini. Terjadi perubahan pangsa pasar. Mungkin karena penduduk Indonesia sekitar 240 juta jiwa sekarang,” ungkapnya.

Kemudian, kawasan industri dengan berbagai fasilitas juga banyak dibuat negara-negara lain. Ini juga menjadi saingan buat Batam. Jika tak punya kelebihan, maka sulit mendatangkan investor karena lebih tertarik ke kawasan industri serupa di negara lain.

Beberapa tahun lalu, pihak manajemen pengelola Batamindo mengajak sejumlah wartawan Kepri ke Malaysia dan mengunjungi Kawasan Iskandar, salah satu kawasan industri terpadu di Malaysia.

Keikutsertaan wartawan dalam perjalanan itu bukan hanya menikmati liburan di negara tetangga, namun untuk menuliskan seperti apa kawasan Iskandar itu. Bahwa itulah salah satu saingan Batam ke depan yang bisa membuat sejumlah industri di Batam hengkang ke kawasan itu. Warning itu sudah disampaikan awak media sejak awal.(MARTUA-MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here